
"Jangan berisik! Cepetan cium, siapa suruh kamu gangguin orang dewasa pacaran!"
Malika hanya bisa menangis tertahan tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun. Pemuda itu terus mengarahkan Cello agar segera menerjang bibir Malika. Cello terus berusaha melepas cekalan kuat anak SMA tersebut. Sebisa mungkin ia memalingkan wajahnya ke samping agar jangan sampai bersentuhan dengan bibir Malika.
"Aku gak mau ... gak mau ... tolonggg!" teriak Cello penuh ketakutan. Bagi anak kecil yang belum tahu apa-apa sepertinya, mencium seorang gadis adalah hal terlarang yang sangat menjijikkan di mata Cello. Sesuka-sukanya dia terhadap gadis, hal itu tidak pernah terbesit di pikirannya sama sekali.
"Bekap aja mulutnya, Yank! Kalo mereka brisik terus kita bisa ketauan orang." Si cewe sudah panik, matanya mengedar ke segela penjuru saking takutnya dilihat orang. Saat melihat gelatat aneh dari Malika, ia langsung merengkuh tubuh Malika yang hendak berlari kabur mencari bantuan.
"Lepas!" teriak Malika.
"Tidak semudah itu dedek manis." Wanita itu tersenyum licik. Tangannya sudah mencengkram lengan Malika kuat-kuat.
Sebuah ide berlian muncul di kepala saat si cowok melihat gudang gelap yang pintunya sedikit terbuka di perpojokkan yang paling sepi.
"Bantu aku bawa yang cewek itu ke sana, Yank. Sekali-kali dua bocah tengil ini harus diberi pelajaran. Kita sekap di gudang sampe pulang!"
"Jangan Kak, jangan!" teriak Malika.
"Ayahku ngga akan tinggal diam, dia pasti bakalan nemuin kalian," ancam Cello penuh hardik.
Mulut Cello dan Malik dibekap kuat-kuat oleh mereka berdua. Lantas menyeret kedua bocah itu ke gudang gelap tempat penyimpanan bangku dan kursi rusak yang sudah tidak terpakai.
"Rasakan!" Mereka mendorong Malika dan Cello dengan bengis ke dalam ruangan gelap tersebut. Tawa si cowok menggelegar puas mendengar suara ketakutan anak-anak itu dari dalam. Akhirnya ia dapat memberi pelajaran pada bocah tengil yang sempat mengganggu momen romantis bersama kekasihnya.
Pintu gudang yang tadinya habis dibuka oleh salah seorang petugas keamanan itu langsung dikunci kembali oleh mereka berdua. Kedua bocah itu bertiar-teriak. Menjerit histeris dari dalam ruangan.
"Pegang kuncinya Yank, pulang sekolah baru kita bukain. Biar tau rasa mereka berdua, tuh!" Si cowok memberikan kunci itu pada kekasihnya. Sambil bergandengan tangan, ia meninggalkan gudang sepi tempat penyekapan Cello dan Malika.
"Tolong ... tolong ...!"
"Kita dikurungin, toloong!"
Mereka berdua terus berteriak meminta bantuan. Ada sekitar lima belas menit, di mana keduanya terus menggaduhkan ruang kedap suara itu agar ada yang datang menolong.
Harapannya mulai terasa sia-sia. Gudang itu terlalu sepi dan jauh dari aktivitas orang lewat. Akhirnya mereka terduduk lemas sambil bersandar di belakang pintu karena lelah berteriak.
"Istirahat dulu aja, kayaknya nggak ada cara lain selain nungguin kakak kelas itu balik lagi nolongin kita," ujar Malika sambil mengatur deru napasnya yang mulai berat karena lelah berteriak.
"Maafin aku ya, gara-gara aku yang iseng. Kita jadi di sekap oleh mereka," ucap Cello mulai tak enak. Ia melirik Malika. Wajahnya sudah kotor penuh debu dan sarang laba-laba.
Krukk .... Krukk ....
"Kamu belum makan?" tanya Cello peka. Persis seperti karakter ayahnya yang selalu perhatian pada lingkungan sekitar.
"Belum!" Malika menggeleng malu. "Aku nggak dikasih uang jajan sama ayah gara-gara ceritain masalah berantem sama kamu waktu itu. Aku juga gak mau bawa bekel, lagi ngambek sama ibu karena gak dikasih uang jajan," tuturnya.
"Ya udah Makan siomay aku nih! Untung tadi aku udah makan." Cello mengambil sebungkus siomay milik adiknya dari dalam saku celana. Ia mengulurkan siomay itu kepada Malika. Tanpa ia tahu bahwa adiknya sedang mengunggu-nunggu makanan itu sedari tadi.
"Terus kamu gimana?" Malika menatap Cello penuh rasa bersalah.
"Aku udah kenyang. Eh, ya ampun!" Cello menepuk jidatnya tiba-tiba sampai membuat Malika ikut kaget dan terperanjat.
"Ada apa?"
"Tupperware bekel aku ketinggalan di atas rumput. Pasti ilang lagi deh," ujar anak itu panik. "Ini udah kedelapan belas kalinya aku ngilangin tempat bekel. Kalo sekarang ilang lagi, aku bakalan dilaporin ke bunda."
"Semoga gak ilang, kamu kan sultan, gak bakalan dicepat jadi anak," ujar Malika menenangkan. Kalau dirinya yang begitu mungkin sudah di usir ibu. Satu tempat minum jatuh saja suruh balik lagi. Cari sampai ketemu, atau tidak ada uang jajan seminggu.
"Aku makan siomaynya dulu ya." Malika menggigit ujung plastik pembungkus siomay sambil menatap Cello.
"Makan aja," lirih Cello yang suaranya mulai melemah.
Debu-debu di tempat ini kian masuk ke paru-paru. Membuat Cello sesak napas dan mulai kesulitan mendapat oksigen.
Setelah Malika selesai makan. Ia melirik Cello yang sudah bersandar lemas di bahunya.
"Ell" Dia mencoba menggoyangkan kepala Cello. "Kamu kenapa?"
"Aku gak kuat, dada aku sakit, Lika! Di sini panas banget!"
Matanya kian memejam. Membuat Malika panik bukan main melihat anak itu terlelap.
"Ell ... bangun ... jangan mati! Jangan tinggalin aku," isak Malika ketakutan. "El, tahan dulu. Sebentar lagi pasti ada orang yang akan menolong kita."
Malik memeluk kepala Cello yang sudah jatuh ke pangkuannya. Tidak ada pertolongan pertama yang bisa ia lakukan. Ia sendiri mulai sadar bahwa ruangan ini sangat pengap dan minim akan hadirnya oksigen.
***
Lanjut ga nih?
Yo. Yo. Mana dukungannya nih? Komen, like, hadiahnya jangan ketinggalan ya. 🥰