HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Parlan Sayang



"Ngemeng-ngemen kalian udah kewong belum, Non? Apa jangan-jangan kumpul beruang mancam eike. Ck." Ratu mengedip-ngedip centil, memamerkan bulu mata anti badai dan jambul cucok meong kebanggaannya.


"Sudah dong, kita ke sini lagi bulan madu. Dari Jakarta," ucap Lisa antusias.


"Wiw ... wiw ... wiw. OTW dines manjalita dong, nanti malam. Jadi ikutan sesang nih. Ahk .. ahk ... ahk ... valak ya, Non ... maksudnya gudlak! Uhhmm... maklum, lidah eike biasa makan tempe semangit." Sambil memainkan jemari lentiknya, tubuh Ratu dibuat menggeliat-geliat seperti ulat bulu keracunan sianida. Membuat Farhan yang mendengarnya mendadak ingin muntah berlian dan emas batangan sekaligus.


Gila, apa dia tidak paham bahwa aku takut sekali? Farhan bermonolog dengan diri sendiri atas ketidakpekaan sang istri. Pria itu masih bersembunyi. Di mana Ratu semakin gencar menggoda jiwa manusia lemah yang satu ini.


"Siapa namamu, Sayang? Kenalan sama Ratu kecantikan yuk. Miss Universitas sebelum masehi dari planet Mars." Ratu mentowel dagu Farhan sambil mengoyang-goyangkan buah dadanya sumpelannya yang sebesar kepala kambing. Persis seperti yang dilakukan kepada Lisa tadi.


"Fa-Farhan." Gemetar-gemetar menaham ngompol, Farhan terpaksa menjawab. Entah mengapa, kemampuan beladiri Farhan yang selalu dibangga-banggakan orang hilang seketika. Pria mati kutu, boro-boro berani melawan wanita biang curah yang satu itu.


"Mas Parlaannnnn ... ikut Ratu ke panggung yuk, kita joget pancur. Dijamin endolita," goda wanita bencong itu sambil menarik baju Farhan. Tubuhnya reflek ngebor di depan Farhan dan Lisa. Seperti alat otomatis.


"Ti-tidak." Farhan terus berputar seperti gangsing. Menghindari godaan maut Ratu kecantikan yang ia pikir ingin memakan tubuhnya sampai bersih.


"Namanya Farhan, bukan Parlan, Ratu." Lisa ikut menimpali guna membenarkan. Enak saja main ganti nama. Kecuali ada bubur merah-putih.


Maka Ratu yang pintar ngoceh menjawab, "Farhan versi yu, Non! Kalau versi Ratu ... ya Mas Parlan dong. Biar lebih mesra endolita gituloh." Ratu mengedipkan mata centil sekali lagi. Lalu menusuk perut Farhan sampai pria itu menjerit. "Abang Parlan si jago ranjang yekan ... Awwww. Eike mau nyanyi dulu yuk ... Kasian mix bawah eike kelamaan tegang di dekat suami, Yu." Berbicara pada Lisa.


Ratu meninggalkan Lisa dan Farhan menuju panggung kemerdekaannya kembali setelah puas membuat batu bernapas nyaris terkena struk.


Farhan masih bersembunyi di bawah ketiak Lisa. Demi apapun, tempat ini lebih horor dari gereja hantu yang ada Valaknya. Farhan seperti diajak uji nyali, tapi tak bisa melambaikan tangan ke kamera lantaran takut dengan penampakkan yang nempel-nempel tiada henti seperti ulat bulu mabok ciu.


Pria itu baru saja bisa menghirup udara begitu jelmaan Medusa lokal sudah pergi. Secepat kilat, Farhan menarik Lisa agar keluar dari arena pertunjukkan mengerikan itu. Sebelum ada mahluk planet lain yang datang menghampiri mereka lagi.


"Mas ... mau ke mana? Lagu yang aku request belum diputar," protes Lisa saat Farhan menarik lengannya agak kasar. Menimbulkan efek sakit di pergelangannya.


"Jadi kamu benar-benar takut, Mas?" Farhan masih menggenggam tangan Lisa. Gemeterannya belum berhenti meski sudah keluar dari erena maut itu. Dada Farhan masih naik-turun tidak karuan.


"Menurutmu bagaimana? Kau nyaris menjadi janda jika kita tidak segera keluar dari rumah hantu itu." Farhan menyandar lemas di pinggiran tembok. Masih kesulitan mengambil napas karena syok.


Ia langsung merogoh obat resep dari psikiater yang ia bawa di saku celana. Mengambil satu kapsul dan meminumnya tanpa air. Tenggorokkannya jadi seret-seret basah akibat aksi nekatnya yang tanpa sadar.


"Aku beliin minum dulu ya, Mas. Tunggu di sini." Lisa hendak berlari mencari air mineral. Namun, Farhan menariknya secepat kilat. Merengkuh tubuh itu untuk sekedar mencari rasa aman.


"Jangan pergi, aku takut mahluk aneh itu datang lagi."


Lisa jadi tidak enak melihat Farhan nampak ketakutan melebihi melihat setan. "Maaf Mas, aku kira kamu cuma jijik sama dia. Bukan ketakutan seperti ini."


Karena saat mengajak Farhan, Lisa sungguh berpikir positif bahwa pria itu tidak mungkin takut pada waria. Mengingat sifat Farhan yang garang dan seram. Harusnya waria yang terbirit-birit melihat Farhan.


Ternyata batu bernapas bisa berubah menjadi batu menangis. Tragis seperti batu legendaris yang katanya dikutuk ibunya karena durhaka.


Tapi di kasus ini yang durhaka adalah Lisa. Kenapa Farhan yang berubah jadi batu menangis? Ah, sudahlah. Kembali lagi pada Lisa yang merasa tidak enak hati.


"Maaf banget ya, Mas." Lisa menepuk-nepuk punggung Farhan agar pria itu sedikit tenang. "Mereka tidak jahat seperti yang kamu pikirkan, kok. Dia hanya sekedar mencari nafkah untuk menghibur penontonnya, Mas. Jangan dipikirkan ya."


***


Selamat membaca. Jangan lupa like dan komen.


Info sekali lagi ya, biar gak ada yang protes. Segala info koflik, visual, spoiler tamat, info novel baru. Aku umumin di Ig @anarita_be ya. Silahkan di follow agar tidak penasaran.🥰