
Satu bab lagi ya, abis itu otw acara sunatan. Gabut nih.
"Ini apaan, sih?"
Cello dan Cilla hanya mampu saling pandang memandang saat menemukan sekotak alat kontrasepsi berisi tiga biji yang masih rapi dan utuh. Lengkap dengan segelnya, tergeletak di dalam laci kamar dan tidak pernah dipakai sejak pertama kali Farhan beli.
Sementara Lisa yang sejak tadi melepas rindu dengan cara nonton kartun bersama si kembar, sudah tertidur karena tak kuasa menahan rasa kantuknya. Sejak hamil wanita itu memang membiasakan diri untuk selalu tidur siang.
Cello yang melihatnya mulai tertarik. "Nggak tau, kayaknya permennya ayah deh!" Mata anak itu tertuju pada kotak bergambar aneka buah-buahan di cover depannya.
Tanpa sadar, Cilla yang mulai tertarik langsung membuka segel kotak itu dan menarik isinya sampai menyembul. "Kok cuma ada tiga, sih? Dalemnya kenyal-kenyal gini. Kayaknya sejenis jelly."
Tak luput, Cello pun ikut penasaran. "Minta satu yuk, kayaknya enak tuh! Mungkin permen mahal beli dari luar negeri! Makanya isinya cuma tiga," tukas Cello.
"Kalo mau minta izin sama Bunda dulu, nggak?"
Cello menggeleng tidak setuju. "Jangan. Nanti bilangnya kalau bunda udah bangun aja. Kasian Bundanya baru tidur."
"Ya udah, kalo gitu kita izin sama ayah aja, gimana?"
"Jangan juga, ayah lagi di ruang kerja. Kalo kita masuk yang ada malah dimarahin. Ijinnya nanti aja. Mendingan kita ke kamar dulu, yuk! Gak enak kalo berisik di sini."
Cello menarik adiknya agar segera turun dari atas ranjang. Dua anak polos berhati baik itu membawa satu biji benda keramat itu ke kamarnya sendiri.
"Bagi dua dong, kakak juga mau!" Cello mengernyit protes saat Cilla menggigit ujung plastik dengan posisi membelakangi kakaknya. Takut tidak dibagi.
Gambar aneka buah yang sempat mereka lihat tadi membuat keduanya membayangkan isinya pasti sangat enak sekali. Mungkin saja terbuat dari sari-sari aneka buah berkualitas tinggi, pikir keduanya.
"Coba liat sini!" Cello yang tidak sabaran merampas plastik pembungkus alat kontrasepsinya dengan kasar. Lantas mengeluarkan isi dalamnya.
"Kok beginian isinya? Kayak balon!"
"Cuih!" Ia meludah jijik saat menjilat benda itu dengan ujung lidahnya. "Bukan makanan ini! Gak tau apaan! Baunya kayak strawberry, tapi rasanya karet!" tukas anak itu mengelap sudut-sudut bibirnya yang terasa kebas.
Rasanya sedikit pait dan tercium wangi strawberry aneh yang menguar pekat. Membuat mual dan ingin muntah.
"Kayaknya itu balon deh, Kak. Bentuknya mirip banget. Tapi buat apa bunda sama ayah beli balon?" Cilla masih tampak berpikir. Otaknya terus berputar memandangi benda aneh yang dicapit Cello dengan jempol dan telunjuknya.
"Emangnya Kakak gak tau itu apaan? Biasanya Kakak 'kan pinter!"
Cilla yang masih penasaran merebut kembali benda di tangan Cello. Mengamatinya dengan seksama di mana otaknya terus menebak-nebak.
"Tapi kalo ini balon nggak mungkin kayaknya, deh. Masa balon basah-basah licin gini! Gimana cara niupnya, hayo? Udah gitu bau wangi lagi."
Tangan Cilla masuk ke dalam. Ditariknya benda itu hingga mengikuti bentuk permukaan tangannya.
"Bisa dijadiin sarung tangan Kak!" seru anak itu heboh saat merasa berhasil menemukan ujung titik terang dari rasa penasarannya.
"Emangnya ada sarung tangan licin-licin basah gitu? Dipakenya juga gak enak!" Logika Cello menolak ujaran adiknya. Menurut Cello tidak masuk akal jika sarung tangan basah dan licin. Sama-sekali tidak cocok dipakai untuk membalut tangan.
"Terus apaan dong ini?"
Cello menggeleng lagi. Baru kali ini anak itu merasa bodoh karena otaknya sama sekali tidak dapat menjangkau kegunaan benda di tangan adiknya.
"Oh, aku tau!" Cilla berseru kembali. "Kayaknya ini semacam balon air yang biasa buat mainan prank di youtube gitu. Coba deh kita isi air keran, pasti bentuknya sama."
Anak itu berlari antusias ke kamar mandi diikuti oleh sang kakak yang juga penasaran akut. Ditampung kucuran air ke benda lakhnat itu hingga membentul bola air.
Cello yang melihat kelakuan adiknya terkesan kagum. "Tumben kamu pinter, coba lemparin ke tembok, Dek! Kalo pecah berarti kamu bener!"
Cilla langsung mengarahkan benda berisi air itu ke tembok dengan menggunakan seluruh kekuatan tenaganya.
Prakkk!
Benda itu pecah sempurna. Airnya menyembur ke seluruh penjuru kamar mandi sampai membasahi wajah Cilla dan Cello.
Dengan begitu bangga, Cilla menoleh pada sang kakak yang masih memasang ekspresi terperangah.
"Nah kan pecah! Aku bilang juga apa? itu pasti balon air. Kakak gak mau percayaan sama aku sih! Mentang-mentang udah pinter," gerutu anak itu sedikit jutek.
"Iya maaf. Kali ini kakak kalah. Kamu menang!"
Saking senangnya menemukan titik terang, mereka sampai lupa memikirkan untuk apa Farhan dan Lisa membeli balon air tersebut. Keduanya sudah cukup puas dengan asumsi penemuan balon air yang melekat di kepala.
***