HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 34 : (Season 2)



Kepusingan sedang melanda si gagang gayung saat ini. Benda lunak yang kata sebagian wanita sangat menjijikkan tapi enak itu sedang memberontak tak suka seakan-akan hendak membelah diri dari pemiliknya. Andai saja ia bisa bicara dan berjalan, pasti dia sudah memaki dan memukul Farhan saat ini juga.


Di bawa guyuran air hangat. Farhan sedikit menyesal lantaran semalam sempat menolak kesempatan berlian yang ditawarkan oleh Lisa. Ia lebih memilih mempertahankan keegoisannya. Dan berakhir tidur tanpa mendapat belaian secuil pun.


Kenapa cinta bisa membuat pikiran orang jadi tidak masuk akal seperti ini? Sialan! Seharusnya aku tidak menolak jatah berhargaku hanya karena cemburu pada orang yang tidak penting. Lisa bahkan sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan mantannya.


Farhan menaikkan tekanan volume air untuk mengguyur kepalanya yang mulai tidak sinkron. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa menahan kecemburuannya dengan logika yang selama ini dijunjung penuh oleh pria dingin tersebut.


Selesai mandi, Farhan bergegas menuju ruang kerjanya. Ia memutuskan untuk melanjutkan lagi acara ngambeknya agar Lisa tahu rasa.


Kalau saja tidak malu pada Zian yang sudah terlanjur direpotkan, ingin rasanya Farhan membatalkan acara makan malam mereka nanti. Demi apa pun Farhan kesal, tidak terima, ingin mengamuk, tapi sekali lagi ia hanya bisa diam dalam ketidakberdayaannya.


"Mas!" Lisa nongol dari balik pintu saat Farhan sedang membereskan laporan-laporan yang berserakkan di atas meja. " Kok tumben gak sarapan dulu? Kamu masih marah sama aku ya? Boleh masuk, nggak?"


Farhan yang sedang berdiri di depan meja segera membalikkan badannya ke arah Lisa. Wanita itu tengah memasang senyum manja penuh kepalsuan.


"Untuk apa kamu meminta izin padaku kalau ujung-ujungnya kamu nyelonong masuk?" gertak pria itu datar.


"Galak banget sih, Mas! Ya ampun, kamu lupa kalau aku lagi hamil Farhan junior?"


Tiba-tiba pembicaraan Farhan beralih tanpa menjawab ocehan Lisa terlebih dahulu.


"Zian itu teman baikku. Kalau tujuanmu ingin bertemu dengannya hanya karena kangen mantan. Lebih baik kamu sekalian ketemu saja dengan mantanmu. Untuk apa melihat replikanya kalau yang asli saja masih ada!" tukas pria itu yang seketika menusuk mental Farhan.


"Kok gitu, sih?" Lisa berkacak pinggang dengan muka tidak senang.


Tanpa Farhan sadari. Ia sedang menyalakan api panas dalam tubuhnya karena membahas mantan Lisa yang tidak penting sama-sekali.


"Aku hanya memberi saran!" ujarnya lugas.


"Mas ... kamu ada apa sih? Biasanya kamu juga selalu santai. Kenapa sekarang jadi cemburu buta seperti ini?"


Mendengar itu Farhan semakin murka. Ia menatap Lisa tajam sebelum kakinya bergerak menuju ke kursi kerja. Dan berakhir duduk sambil mendesah kasar.


"Aku bukan batu yang hanya bisa bernapas tanpa merasakan apa-apa! Aku juga manusia normal, bisa cemburu!"


Puas kau?


"Eh, kamu beneran lagi cemburu?" Lisa mengerjap heran. Ia sampai memegangi pipinya yang memerah akibat terlalu senang. "Ini seriusan suamiku bukan, sih?"


Lisa sudah heboh dan mulai asik berbicara sendiri.


Ingin rasanya ia bertanya 'sebenarnya kamu itu siapa?' kepada Farhan. Tapi tidak berani, takut pria itu semakin murka kepadanya.


Sementara itu, Farhan sudah membuka lembaran file pekerjaaanya. Membuat Lisa merengut masam kembali lantaran pria itu tidak mau sarapan bersama seperti biasa.


"Anak-anak sedang menunggumu di ruang makan. Kalau kamu di sini, nanti mereka akan curiga kalau kita sedang bertengkar. Kamu 'kan tahu sendiri seperti apa sensitifnya otak mereka. Ayolah, kita ke ruang makan demi si kembar. Nanti baru lanjut ngambek lagi kalau mereka sudah berangkat ke sekolah." ujar wanita itu terus merayu.


Farhan terpaksa mengikuti kemauan Lisa. Pria itu menutup file kerja, lantas bangkit dari singgasananya. "Hanya demi anak-anak!" ujar pria itu sambil berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya.


Semuanya sudah berkumpul saat ini. Cilla dan Cello tengah menunggu dua pelayan yang sedang membuatkan sandwich untuknya.


"Bunda ...," panggil Cilla manja.


"Iya Sayang, ada apa?" Lisa meletakkan semangkuk oatmeal di mangkuk Farhan, kemudian menuangkan susu di atasnya.


"Bunda kok tumben banget engga keramas?"


Eh, Lisa mengerjap gugup. Nyaris ia menumpahkan botol susu yang ia pegang ke pangkuan Farhan.


"Emang kenapa, Sayang?"


Sebisa mungkin Lisa menahan ekspresi malunya agar tidak terlihat.


"Bukannya waktu itu Bunda bilang setiap hari Senin adalah jadwal wajib Bunda keramas. Tapi Cilla liat, udah dua kali Senin bunda ngga pernah keramas. Apa samponya abis?" tanya anak itu penasaran.


Jangan tanya ekspresi Farhan. Dia sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan Cilla yang berhasil menembus mental dan kebatinannya.


Sementara para pembantu yang jomlo tapi sudah paham masalah dua puluh satu plus merasa malu dan ingin menggorok lehernya sekarang juga.


Aku mau kabur. Udara disekeliling mereka terasa mencekik. Apalagi jika melihat ekspresi Farhan yang sudah malu luar biasa. Buru-buru mereka menyelesaikan pekerjaannya yang entah kenapa lama sekali. Padahal hanya membuat roti isi.


Ah, tuan Farhan sudah lama tidak dapat jatah rupanya, pelayan satu lagi yang otaknya tak bersahabat mulai bermonolog dengan pikiran terkutuknya.


Ngomong-ngomong si kembar ini adalah tipe pemerhati yang sangat detail. Memiliki kepekaan 500 derajat. Dan otak yang super sensitif terhadap sesuatu. Jika ada yang mengganjal di hatinya, mereka tak segan-segan bertanya demi jawaban pasti dan kepuasan batin.


"Jangan-jangan orang hamil engga boleh sering keramas Dek, jadi Bunda sengaja nggak pernah keramas," imbuh Cello berujar.


"Ehem!" Farhan berdeham kesal. Ia melirik dua pembantu yang wajahnya sudah merah seperti tomat. Matanya mengkode sedikit, sebagai isyarat bahwa mereka harus meninggalkan ruang makan itu sekarang juga atau kubunuh.


"Rotinya sudah jadi, silakan dinikmati nona kecil." Memberikan roti itu pada Cilla. Dan pelayan satu lagi memberikan hasil roti buatannya pada Cello. "Punya tuan muda kecil juga sudah jadi, silakan dinikmati."


"Kami pemisi dulu, Tuan, Nona!"


Farhan mengangguk datar.


"Usahakan untuk tidak mengobrol di atas meja makan." Berbicara tanpa memandang si kembar. Namun ekspresi Farhan yang datar dan terlihat menyindir sukses membungkam kedua mulut bocah itu agar menurut.


"Baik ayah!" Mereka melanjutkan makannya tanpa membahas hal itu lagi di meja makan.


Selamat, batin Lisa sambil mengelus dada.


***


Yang punya tiket vote hari senin, poin hadiah, silakan ditaroh ya. Jangan lupa komen dan like biar aku rajin update hehehe. Macih semua