HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 63 : (Season 2)



Lisa kembali ke rumah dengan membawa pikulan beban yang sangat berat di kepalanya. Keinginan Cello untuk pergi ke Amerika masih menjadi alasan utama yang tak dapat diterima oleh Lisa begitu saja. Ia pun memilih diam untuk sementara waktu, memikirkan hal itu sendirian tanpa berani mengungkapkannya pada Farhan atau siapa pun.


Ia masih bingung antara ingin menahan atau melepaskan. Jujur saja keinginan Cello termasuk hal yang sangat mulia di matanya. Di usianya yang masih delapan tahun, anak itu ingin menjadi orang yang sukses dan lebih membanggakan—demi meneruskan perjuangan papahnya yang tertunda oleh kematian.


Sebuah cita-cita yang harusnya didukungan kuat dari semua pihak. Namun sebagai orang tua asuh yang sudah menemaninya sejak umur 4 tahun lebih, Lisa merasa berat jika harus berjauhan dengan pria kecil manja kesayangannya itu. Seperti ada hal mengganjal yang membuatnya tidak rela hidup berbatas jarak dan waktu.


Aktivitas di kediaman Hermawan berjalan lancar selepas Lisa dan Farhan pergi. Tepat pukul empat sore, Cilla terbangun dan langsung nyelonong ke kamar mandi seraya menenteng handuk di tangannya. Gadis kecil itu menggebrak pintu kamar mandi sedikit kasar sampai Cello yang tengah bermain dengan robot penyedot debunya terlonjak kaget.


"Cilla kenapa, Hyung?" ucap Cello bertanya pada Taehyung si penyedot debu yang sibuk mondar mandir mengelilingi ruangan.


Gemericik air mulai terdengar dari dalam kamar mandi, pertanda gadis kecil itu sudah mulai membersihkan diri. Cello memilih masa bodo dan mengajak Taehyung pergi ke luar kamar untuk membersihkan ruangan lain.


Setelah setengah jam berlalu, Cilla yang biasanya merengek dan minta dibuatkan susu selepas mandi tak kunjung keluar kamar juga. Cello yang masih asik mengawasi kelincahan Taehyung menghampiri sang nenek yang tengah membuat susu di dapur.


"Itu susu buat kita ya, Nek."


Wanita paruh baya itu menoleh dengan senyuman. Lantas menyodorkan segelas susu hangat untuk Cello. "Iya, diminum dulu ya. Nanti tolong bawakan sekalian buat adek. Sudah bangun belum dia?"


"Tadi sih lagi mandi Nek. Mungkin sekarang udah selesai." Cello menerima gelas uluran nyonya Lynda dan meminum segelas susu di tangannya hingga tandas.


"Sini punya adek. Biar aku bawain sekarang aja." Sambil mengulurkan gelas kosong di tangannya, kemudian menerima nampan berisi segelas susu untuk adiknya.


"Ati-ati bawa nampanya ya, anak pinter." Cello mengangguk dengan ekspresi yang imut sekali.


"Iya Nenek." Anak itu bergegas ke kamar menyusul adiknya bersama segelas susu yang ada di tangan. Ia meletakkan nampannya di atas meja rias tempat Cilla sedang berdiri mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Susu buat kamu. Minum dulu nih, keburu dingin nanti!"


Namun Cilla melengos seangkuh-angkuhnya, meninggalkan Cello yang masih berdiri mengatung di depan cermin sendirian. Cello yang merasa tidak memiliki salah apa-apa dibuat mengernyit keheranan.


"Kamu kenapa? Perasaan tadi aku ngga ada gangguin kamu. Mainan kamu juga masih utuh semua. Ngga ada yang aku sentuh."


Cilla masih tetap diam seraya menyeka rambutnya dengan handuk seakan tak merasakan kehadiran Cello di kamar itu.


"Dek!" Dia mendekat, wajahnya sedikit takut melihat ekspresi Cilla yang berubah dingin seperti es batu.


Biasanya anak itu selalu ngamuk dan mengomel saat marah atau barangnya disentuh. Namun kali ini ia memilih diam. Membuat bulu di sekujur tubuh Cello meremang tak biasa.


"Kamu kenapa ngambek? Kalau marah sama aku bilang, jangan didiemin gini akunya." Cello buru-buru meraih lengan adiknya. Tapi secepat kilat Cilla menepisnya dengan gerakan kasar hingga pria kecil itu terlonjak.


"Gak usah pegang-pegang aku, ya!"


Wajah Cilla berubah merah, matanya merambang seperti hendak mau menangis, namun auranya telihat marah sekali.


"Kamu kenapa? Kamu kesel gara-gara Evan pacaran sama Malika? Gak usah dipikirin, lagian kita semua masih kecil, entar juga mereka bakalan putus. Kalau mau pacaran sama Doni aja, katanya dia suka sama kamu."


Lagi-lagi gadis kecil itu melengos acuh tak acuh. Tak mau mendengar atau melihat wajah kakaknya sama sekali. Ada getar tertahan yang coba ia sembunyikan. Membuat Cello berubah panik dan mulai menebak-nebak sesuatu yang tidak wajar.


"Tadi bunda Lisa sama ayah Hanhan ke sini, tapi kamu lagi tidur," ujar Cello berusaha memancing sesuatu. "Jadi kita sengaja ngga bagunin kamu, kasian," lanjutnya.


Cilla bringsut dari atas kasurnya tanpa berkomentar apa-apa. Wajahnya semakin acuh tak acuh. Ia meletakkan handuk basah pada tempatnya dan berusaha menjauh setiap kali didekati oleh Cello.


Cello yang kesal refleks menarik rambut adiknya sampai memekik kesakitan. "Apaan sih?" sungut Cilla jutek.


"Yang apaan itu kamu! Sejak bangun tidur jadi aneh banget tingkahnya. Emangnya aku salah apaan coba sama kamu? Ngapa-ngapain juga enggak!" sungut anak itu kesal dan tak mengerti.


Cilla menatap tajam ke arah Cello dengan wajah merah padam semakin bengis. "Mulai sekarang kamu gak usah ngomong sama aku lagi, deh. Detik ini juga kita udah bukan kakak adek!"


Sontak Cello membola hebat. "Kamu apa-apaan sih, Dek. Kita itu kakak adik selamanya sampe mati!"


"Bukan! Kamu bukan kakakku lagi!" Lantas menjauh, semakin jauh seakan ada dinding tembok yang membatasi jarak di antara keduanya.


***


Hai Hai. jangan lupa kasih hadiah yang banyak ya, biar bisa novel ini bisa naik di rank. Amin


Ini Visual Cilla yang manja





Mirip banget kayak mamahnya