HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 1 : (Season 2)



"Katakan padaku, berapa lama kamu mempersiapkan kado untukku? Karena PO gelang kaki itu saja bisa memakan waktu paling sebentar tiga bulan, lho."


Rasa penasaran wanita itu semakin jadi. Meski gaya Farhan sangat kaku, namun Lisa merasa pria itu romantis parah. Entah ia yang kegilaan atau apa, hari ini Lisa sangat gemas dengan gaya dan tingkah manis-manis kaku pria itu.


Sambil pura-pura bodoh, Farhan menjawab ketus. "Bukan urusanku. Tanya saja Alex, dia yang mempersiapkan semuanya."


Nama pria yang tidak ada sangkut pautnya pun ikut disebut. Padahal Alex sama sekali tidak tahu menahu mengenai hadiah itu. Karena tidak ingin menghancurkan suasana, akhirnya Lisa berhenti mendesak Farhan untuk mengaku.


"Kalau begitu pakaikan ini di kakiku." Lisa memberikan kotak itu kembali sambil menaik turunkan dua alisnya penuh arti.


Bola mata Farhan melotot jengah kemudian memalingkan wajah. "Apa-apaan? Pakailah sendirilah! Kamu 'kan sudah punya dua tangan."


"Memang begitu konsepnya tau Mas. Masa iya kamu tidak bisa inisiatif romantis sedikit sama istrimu, sih?" tanya Lisa setengah mencebikkan bibirnya. Bener-bener ini manusia lahir di planet mana sih? Membuat Lisa geram saja.


Dan Farhan pun dengan santainya menjawab, "Logikaku mengatakan, untuk apa kamu mempunyai dua tangan kalau memakai gelang kaki saja harus memperdaya orang lain?"


"Ya Tuhan, minta dipakaikan gelang kaki saja dibilang memperdaya orang lain!" Lisa menepuk jidatnya gemas. Di mana aku bisa mencari guru les privat biar suamiku bisa belajar romantis sedikit?


Sambil mengumpat dalam hati, Lisa mengambil kotak beludru itu kembali. Kemudian membuka kotak gelang kakinya bermaksud dipakai sendiri. Farhan yang melihat perubahan wajah Lisa menjadi masam langsung merebut benda itu dari tangan Lisa.


"Biar aku pakaikan!" Ketus dia bicara, kemudian menarik kaki kiri anak itu ke atas pangkuannya dengan wajah yang masih tetap datar.


"Katanya logikamu mengatakan untuk apa punya tangan dua kalau tidak dipakai? Gimana sih? Plinplan banget," ejek Lisa seraya menggerutu sebal. Matanya sudah menatap kesal Farhan yang sedang berusaha membuka pengait gelang kaki itu.


"Logikaku sama sekali tidak berguna saat berada di sampingmu." Farhan membalas tatapan Lisa dengan sorot mata lapar.


"Maksudmu apa ...?" Ini arah bicaranya belok ke mana, sih?


"Apalagi memang?" Pria itu mengecup pungggung kaki Lisa setelah selesai memakaikan gelang kaki pada wanita itu.


"Minta cium?" tanya wanita itu menebak-benak. "Sini cium, tapi abis itu pulang ya."


"Kebetulan aku punya banyak waktu untuk menemanimu di sini. Bagaimana dong ...?" Dengan santainya Farhan bicara. Matanya terus menatapi objek menarik yang sedari tadi terus mengganggu penglihatannnya. Ditariknya tubuh Lisa hingga kepalanya menempel kembali ke dada pria itu.


"Em ... em ...." Lisa mendadak kehilangan kata-katanya. Wanita itu gagal fokus saat tangan Farhan sudah berlabuh pada bagian terlarangnya.


"Aku tahu ini adalah turunan terjal yang sangat berbahaya, tapi aku sudah terlanjur menginjak pedal gas. Sayangnya remku juga sudah blong sejak lama. Jadi nikmatilah."


"Apa yang kamu katakan." Gemetar-getara cemas Lisa bertanyan. Otak negatif wanita itu berusaha menebak hal buruk yang akan terjadi selanjutnya jika ia tidak segera menghalau kegilaan Farhan. "Jangan bilang kamu ingin melakukannya di kantorku? Please, aku gak mau Mas!"


Tangan pria itu sudah menjelajah ke mana-mana. Lalu, dengan arogannya Farhan menjawab, "Aku hanya memberitahu, tidak butuh penolakkanmu sama sekali!" tukas Farhan tetap lanjut.


Beda jauh dengan karakter Farhan yang dulunya suka malu-malu, kini ia jauh lebih agresif soal kepentingan yang satu ini. Pria itu terus maju sambil membaringkan tubuh Lisa di atas sofa.


"Ruangan ini adalah bekas mendiang ayahku. Aku tidak bisa melakukan hal gila seperti ini di kantor ayahku."


"Sttt ... Ayahmu akan senang jika kita berhasil menciptakan cucu untuknya di tempat ini. Jangan khawatir." Kalimat Farhan mengandung jejak arti yang sangat dalam.


Jangan pernah mencoba menghalangi macan buas yang tengah lapar. Begitulah arti tatapan dan segala sesuatu yang terucap. Selanjutnya, Farhan mulai beraksi layaknya cassanova top satu.


"Auwwww!" Lisa memekik saat bibir Farhan mendarat di tempat yang tidak semestinya.


Gila, aku seperti sudah pernah mengalami situasi macam ini. Tapi di mana?


-Bersambung ....


***


Buat yang mau cepet minta up jangan lupa kasih vote poin bungan dan kopi yang banyak. Makasih atas dukungannya.