
"Blokir nomornya! Ganti nomormu! Ini adalah kesempatan terakhirmu, sudah cukup selama ini aku menahan diri untuk tidak membalas teror dari mantanmu. Terakhir ... aku harap ini yang terakhir kalinya terjadi. Aku tidak ingin ada perdebatan soal mantan lagi!"
"Iya Mas, iya! Aku kapok!" lirihnya terisak-isak. Matanya mengedar ke arah lain. Berusaha menghindari tatapan Farhan yang menyeramkan.
Berkali-kali Lisa memohon, tapi emosi pria itu belum juga luruh. Lisa sampai frutrasi harus bagaimana lagi.
"Seharusnya kamu tahu siapa suami Lis! Kamu tidak ingin melihat suamimu mendekam di penjara karena kebodohanmu, 'kan?"
Farhan menatap Lisa frustrasi. Kata itu membuat Lisa semakin panik.
"Engga Mas! Engga! Tolong jangan bicara seperti itu ...."
Kali ini Lisa berusaha membalas tatapan mata Farhan yang berkilat-kilat. Tatapannya menjurus takut. Ia paham sekali apa yang diucapkan suaminya.
Farhan manusia yang ditakdirkan memiliki segudang emosi. Ia bisa melakukan hal gegabah apa saja jika miliknya disentuh orang lain meski dalam keseharian logika adalah andalannya.
Lisa berusaha memeluk pria itu dari arah depan. "Maafin aku Mas. Ya ampun! Aku nggak nyangka hari ini kita akan berdebat sampai separah ini. Perasaan aku ke kamu ngga berubah Mas! Dia bukan orang penting yang wajib kita ributin!"
"Dulu juga aku bukan orang penting di matamu Lis! Hubungan kita hanya sebatas sekretaris dan atasan! Tapi nyatanya ...?"
"Huhh!" Farhan menghempaskan napas kasar. "Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit! Hal seperti itu juga bisa diterapkan pada hati manusia. Awalnya iseng, lama-lama mendalami perasaan. Siapa yang tahu nantinya akan berakhir seperti apa?"
Tok ... tok ...
Tiba-tiba pintu diketuk di tengah perdebatan mereka berdua.
"Bunda ...." Terdengar lirih, namun masih dapat didengar jelas suara siapa di luar sana.
Ah, Tuhan! Belum juga selesai, masalah baru datang kembali.
"Ayah ... Bunda! Lagi berantem, ya?" Kali ini Cello berseru. Suara di balik pintu kamar itu terdengar panik. Di mana gedoran pintu semakin keras dilakukan oleh mereka berdua.
Farhan berjalan ke arah pintu dan lekas memutar knop pintu. Terlihat Lisa yang masih memposisikan diri membelakangi pintu. Ia berusaha menghilangkan jejak air mata agar tidak dicurigai oleh dua bocah yang hatinya sangat sensitif dan peka.
"Bunda sama ayah kenapa?" Cello berseru saat pintu baru saja di buka. Ditatapnya punggung Lisa yang masih tampak bergetar menahan isakan air mata.
Cello berusaha menerobos masuk. Namun tubuh Farhan yang besar menghalangi di ambang pintu.
"Bunda nggak papa, kalian kenapa ke sini nggak ngabarin?" tanya Farhan gugup. Ini adalah pertama kalinya mereka berdua bertengkar hebat sampai ketahuan oleh anak asuhnya.
Bukannya menjawab, Cello dan Cilla malah melongok ke dalam. Berusaha melihat keadaan Lisa yang masih berdiri membelakanginya.
"Bunda kenapa Yah? Bunda diapain?'" tanya Cello panik.
Farhan menatap dua baby sitter yang berdiri dengan wajah menunduk. Dari raut wajah mereka yang takut, sudah dipastikan bahwa Cello mendengar keributan Farhan dan Lisa dari dalam.
"Jangan-jangan Bunda udah ngga sayang sama Ayah ya, makannya ayah marah ke bunda?" Cilla ikut menyergah dengan mata berbinar nyaris menangis. Tampaknya mereka berdua mendengar semua percakapan antara Farhan dan Lisa.
"Hmmm!" Farhan berdeham. Memberi kode pada dua baby sitter anak-anak untuk membawa keduanya pergi sebentar.
"Tunggu di ruang teve ya, sebentar lagi ayah dan bunda ke sana," ucap Farhan, lembut.
Dua baby sitter itu langsung membawa si kembar ke ruang teve. Di mana Farhan menghela resah seraya menutup pintu kamar.
Pria itu berjalan ke arah Lisa yang tengah menghapus air matanya sedari tadi. Mata itu terus mengeluarkan cairan bening yang tak terkontrol.
"Hentikan tangismu, atau anak-anak akan semakin panik melihat pertengkaran kita!"