
Lisa segera memesan taksi untuk menyusul Farhan ke kantornya. Hati wanita itu benar-benar tidak tenang dengan pertengkaran yang terjadi barusan. Pasalnya, Farhan dan Lisa memang jarang sekali bertengkar. Kalau tadi Lisa tidak memancing amarahnya duluan, suaminya juga tidak akan marah sampai berani meninggalkan wanita itu dalam keadaan menangis.
Sesampainya di kantor, Lisa langsung disambut oleh Sasha dengan pandangan menghujam yang penuh dengan ketidaksenangan. Wanita itu sedang duduk santai di depan monitor saat Lisa datang.
"Nona Lisa mau ke mana?" tanya gadis itu tanpa beranjak dari kursi kerjanya saat Lisa hendak menyelonong masuk ke dalam.
Lisa melirik kursi duduk Sasha yang dulu sempat menjadi singgasananya selama dua tahun, yang kini sudah berganti pemilik lantaran ia sudah naik jabatan menjadi direktur. Wanita itu juga melirik kursi mbak Vivi yang telah ditempati orang lain karena wanita itu sedang cuti melahirkan.
Semuanya penuh kenangan manis. Menyongsong kerinduan dan membuat Lisa ingin kembali pada masa manis-manis greget itu.
Setelah terdiam beberapa saat, Lisa berkata, "Aku ingin bertemu suamiku, memangnya mau apalagi?"
Seperti biasa, Lisa berkata ketus saat berhadapan dengan wanita ular yang mulutnya sama-sama pedas. Sebelas dua belas dengan Lisa saat masih baru-baru menikah dengan Farhan dulu.
"Tuan Farhan sedang tidak bisa diganggu. Sebaiknya nona pergi saja. Tadi dia sudah titip pesan, jangan menerima tamu dari mana pun."
"Tapi aku istrinya, bukan sembarangan tamu!" ucap Lisa yang mulai naik darah dengan sikap Sasha. Wanita itu menatap gadis kemayu yang tengah merapikan file di depannya dengan muka bengis. Ingin rasanya melempar wajah Sasha dengan pantofel kalau tidak ingat malu dilihat beberapa sederet karyawan lain.
"Kalau begitu telepon saja suamimu. Suruh dia keluar dan menjemputmu, aku hanya menjalankan perintah atasan!" ketus gadis itu seraya berjalan ke arah mesin fotokopi. Sasha berbicara dengan gaya bahasa non formal pada Lisa seperti tidak ada hormatnya sekali. Membuat sebagian orang yang melihat kejadian itu terkesiap dengan kelancangan seorang Sasha.
Lisa mengepalkan kedua tangan. Kemudian bergegas pergi ke lobi kantor sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Pertama-tama ia menelpon Alex untuk meminta bantuan. Tapi pria itu tidak menganggkat panggilannya sama sekali.
Apa kamu semarah itu sampai tidak sudi membalas pesanku? Aku memang salah, aku tahu kamu marah, tapi aku tidak mau ada pertengkaran seperti ini di antara kita, Mas.
Tanpa sadar air mata Lisa jatuh perlahan. Ia segera mengerjap-ngerjap dan buru-buru menghapusnya sebelum dilihat orang lewat.
Lisa melangkah pelan dan mulai meninggalakan lobi. Hatinya sangat sakit saat Farhan memilih tidak mau menemuinya. Sebagai anak yatim piatu yang selama ini hanya bergantung kasih sayang seorang Farhan, Lisa merasa berada di titik terendah dan tidak punya siapa-siapa lagi sekarang.
Wanita itu pun mulai menangis kembali. Ia mengusap air matanya beberapa kali diikuti langkah kakinya yang semakin cepat menuju litf untuk turun. Beberapa orang yang melihat hanya bisa tertunduk, tak ada yang berani menegur lantaran mereka tahu siapa Lisa. Akan sangat berbahaya jika mereka yang hanya karyawan sok ikut campur dengan urusan bossnya. Walau tak dipungkiri bahwa mereka merasa iba melihat keadaan Lisa yang menangis sampai tak ingat tempat.
Saat Lisa hendak turun dan menekan tombol lift, tiba-tiba seorang gadis ikut menekan sambil berdeham. "Kamu!" pekik Lisa setengah terkejut. Ia menatap gadis yang mirip dengan Sasha lekat-lekat.
"Ah, kamu Lisa ya? Ayo masuk dulu, mau turun, 'kan?" Gadis itu menarik Lisa sok akrab. Membuat Lisa geram dan reflek menghempaskan tangannya.
"Jangan sentuh aku Sekretaris Sasha!" Lisa mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi wajah sembabnya.
Gadis itu terkekeh geli. Seakan tahu perasaan Lisa, ia asik tertawa tanpa mau tahu kenapa Lisa menangis. "Dari nada suaramu yang jutek, sepertinya kamu memiliki hubungan yang tidak baik dengan adikkku ya?"
"Maksudnya apa sih, jangan sok akrab dan membuatku bingung deh, Sha." Mau tidak mau Lisa menoleh pada gadis itu. Memamerkan wajah sembabnya yang kurang enak dipandang.
***
Hari ini dubel up. Jangan lupa kasih poin ya. wkkwwk