
Jum'at ini ibu kota terkena mendung.
Karena jadwal sekolah hari ini mereka berangkat siang, terpaksa si kembar tidak berangkat dengan Farhan dan Lisa seperti biasanya. Keduanya berangkat pukul sembilan diantar oleh supir. Sementara Lisa dan Farhan sudah berangkat terlebih dahulu ke kantornya masing-masing.
Sesuai arahan dari Cilla kemarin, Cello dan gadis itu pergi ke toko squisy langganan Cilla untuk membeli cincin tunangan versi anak jaman now. Karena Cilla sudah biasa belanja di toko tersebut, jadi supir hanya diam dan melaporkan kegiatan harian mereka berdua seperti biasa.
Kebetulan toko itu terletak tak jauh dari sekolah, jadi mereka berdua langsung mampir ke toko itu sebelum jam masuk sekolah.
"Mau cincin yang mana?" tanya Cilla sambil melirik squisy edisi terbaru di rak atas yang tampak menggiurkan.
"Adek pilihin aja deh, aku gak tau. Malu juga kalo lama-lama ditempat beginian." Cello memandang sekelilingnya tak nyaman. Semua dekorasi berwarna merah muda dan dipenuhi pernak-pernik anak wanita. Membuat Cello kikuk dan merasa di bawa ke dunia Isekai oleh adiknya.
"Uang kakak banyak gak? Cilla mau beli mainan sekalian tapi ya." Seperti biasa, anak licik itu selalu memanfaatkan momen menguntungkan setiap kali ada kesempatan.
"Gak tau, ini uang jajanku sebulan. Tadinya mau aku kasihin Malika, tapi gak jadi."
"Ikh!" Cilla memukul bahu kakaknya saat itu juga. "Gak usah ngasih uang ke Malika juga dong! Emangnya dia siapa? Aku yang adik Kakak aja gak pernah dikasih," protes anak itu tidak terima.
Cello langsung menutup mulut adiknya sebelum kesalnya bertampah parah. "Ssst ... jangan ngambek dulu. Lagian gak jadi ngasihnya."
"Pokonya jangan ngasih apa-apa ke anak cewe. Kecuali seizin Cilla," ketus anak itu sampai bola matanya mau copot.
"Iya ... iya!" Cello mengangguk demi tujuan utamanya. Ia benar-benar lupa kalau adiknya sangat posesif. Tak seharusnya Cello menceritakan hal itu pada Cilla.
"Ya udah mana uangnya?" Cilla menyodorkan tangannya ke depan mata sang kakak. Anak itu langsung mebelalak begitu melihat sekantung uang yang Cello ambil dari dalam tas.
"Banyak banget?"
"Itu uang jajan satu bulan. Punya kamu juga segitu kalau gak diabis-abisin buat beli LOL," ejek Cello. Anak itu memang sengaja menahan diri untuk tidak jajan sama sekali. Dan terkumpulah uang pecahan yang cukup banyak untuk ukuran anak-anak.
"Ya udah, ayo sini!" Cilla menarik tangan kakaknya. Lalu meminta penjaga toko untuk mengambil kotak berisi aneka cincin yang cantik dan manis-manis.
"Dia suka warna apa? Ada banyak pilihan, nih," ucap Cilla sambil mencoba satu-persatu cincin di tangannya.
"Mana kutahu, beli aja semuanya biar gampang milihnya."
"Semua?" Cilla menatap kakaknya heran. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya. "Ini banyak banget loh Kak! Kita cuma butuh dua, satu buat kamu, dan satu lagi buat Malika."
"Gak papa, nanti kalau ilang, dia masih ada stok banyak," ujar Cello sambil menyeringai jenaka.
"Tapi—"
Cello langsung memotong pembicaraan adiknya. "Uangnya masih ada sisa, 'kan? Kamu beli mainan aja gih, sisanya buat kamu semua."
"Eh ... serius?" Mata anak itu berbinar bangga. Ia tidak jadi marah. Cello mangangguk dan mengambil sekotak cincin di tangan Cilla. Ia sengaja membiarkan adiknya senang agar otak posesif itu sedikit berkurang.
"Aku cuma butuh cincinnya," ujar anak itu.
Setelah mengatakan itu, Cello langsung bergegas membayar sekotak cincin yang dia mau. Cello segera pergi ke sekolah sebelum bell masuk berbunyi. Sementara Cilla ia tinggalkan lantaran terlalu lama memilih barang-barang yang dia mau.
Supir yang melihat mereka pun tak ada yang curiga karena kotak cincin itu dimasukkan di dalam tas oleh Cello.
Sejauh ini semua rencana konyol mereka berjalan lancar tanpa hambatan.
*
*
*
Sesampainya di sekolah, Cello langsung bergerak cepat mencari keberadaan Malika. Tak susah menemukan anak itu. Biasanya Malika selalu duduk di belakang sekolah sebelum bell masuk berbunyi. Dan Cello langsung berlari ke tempat tujuannya lantaran ia tahu bahwa Malika masuk pagi, dan jam istirahatnya tinggal sebentar lagi.
"Malika!" ia berteriak cukup keras. Kemudian berlari menuju tempat duduk di mana Malika sedang mengerjakan PR dadakkan di tempat itu.
"Ngapain kamu gangguin aku?" ketus Malika tanpa menoleh ke samping sedikit pun.
Cello melirik buku PR Malika, ia sudah paham kalau anak itu memang selalu mengerjakan PR-nya di kelas. Namun Cello memilih diam tak berkomentar.
"Hah?" Malika sontak mendongak. Menatap bocah tengil yang kalau ngomong tidak pernah disaring terlebih dahulu. "Maksud kamu apa?" murka anak itu sambil melihat aneka cincin yang dikemas dalam kotak unyu-unyu.
"Sekarang kamu adalah tunangan aku!" terang Cello sejelas-jelasnya. Mata itu menyorot tanpa dosa saat mengatakannya. Ugh, betapa imutnya ekspresi anak itu saat mengatakan hal yang ia sendiri tidak paham maksud jelasnya seperti apa.
Andai bertunangan semudah itu konsepnya, mungkin kata jomlo akan segera dihapus dari KBBI.
"Aku gak suka pake cincin beginian. Aku juga gak mau tunangan sama kamu!" Malika meletakkan kotak itu di pangkuan Cello sambil berdecak frustrasi. Pulang sekolah nanti, ia akan mengatakan semua ini kepada ayahnya. Malika benar-benar sudah tidak kuat diganggu oleh anak gentayangan itu. Rasanya ingin memukul dan menendang Cello saat ini juga.
"Aku udah beli ini buat kamu. Uang jajanku satu bulan abis cuma buat beli ini. Masa ditolak," keluh Cello dengan nada memelas seperti bocah ingusan.
"Tapi aku gak mau! Aku gak suka pake cincin juga," kekeh Malika masih tetap mendelik kesal ke arah Cello.
"Ayolah, kasian papah aku pengin banget anaknya nikah sama kamu. Masa kamu gak kasian sama anak yatim piatu?"
Malika membola heran. Bisa-bisanya Cello menggunakan alasan senatural itu untuk memaksa seorang gadis. "Heuh!" desah gadis kecil itu.
Ia memang tahu bahwa Cello dan Cilla adalah anak yatim piatu. Mereka berdua cukup terkenal di sekolah. Wajar jika banyak yang tahu cerita dan asal-usulnya.
"Tapi kita masih kecil. Mana bisa tunangan," terang Malika. Berharap pria kecil itu paham dengan edukasi sederhananya.
"Pokonya kamu terima cincin ini aja dulu. Sebentar lagi aku masuk!" Cello menaruh kotak cincin itu di atas pangkuan Malika kembali. Lantas berlari karena bell masuk kelas dua akan segera berbunyi.
"Hei ... cincinnyaa!" Malika berteriak. Namun Cello sudah menghilang secepat kilat. "Sebel ... sebel ... sebel!" teriak anak itu.
Ia menunduk geram seraya menatap cincin-cincin tersebut. "Ukh, bener-bener adik kelas tidak jelas itu! Siapa juga yang mau tunangan sama dia? Pake cincin anak lima tahun seperti ini pula!"
...***...
...Up kedua: Jangan lupa kasin poin hadiahnya....
...Waktunya cuci mata....
...VISUAL ANAK REYNO DAN JENNIE:...
...Novel (Suamiku anak Mami)...
...CILLA...
...Mirip Jen kan??...
...CELLO...
...Perpaduan Jen dan Eunwoonya kentel banget. Wkwkw....
...Visual Malika Cello:...
...
...
...Chemistrynya kentel banget yakan? Ada yang nanya, apakah mereka berjodoh? G semudah itu Bambang! 🤭 . Kan cuma kisah anak-anak. Tak sebaper kisah orang dewasa....