HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 61 : (Season 2)



"Gimana rasanya?"


"Gak Enak, lah! Makanan apaan kayak begitu. rasanya aneh semua!" Cello mencelos, sudut matanya memilih menatapi bangku-bangku kosong dari pada melihat wajah Malika yang penuh dengan aura meledek sedari tadi.


"Ga enak, tapi kok bisa abis, ya? Berarti sebenernya kamu doyan, cuma males aja." Malika tersenyum geli.


"Aku terpaksa, Kecap! Bukan doyan!" Masih berbicara dengan ketus, sebenarnya Cello merasa tidak terima perutnya dijelajah oleh makanan aneh seperti itu. "Pokonya kalo kita udah nikah, aku ngga mau kamu masakin aku sayuran yah. Aku sukanya ayam goreng aja. Makan itu setiap hari gak papa."


Malika mencibir geli. "Siapa juga yang mau nikah sama kamu!"


"Gitu ... kamu ingkar janji?" Bola mata Cello melotot, nyaris mau copot. Ekspresinya yang lucu-lucu menggemaskan membuat Malika sedikit tergelak.


"Udah akh, kamu ke kelas aja gih, aku mau beli makanan di kantin." Anak itu merogoh uang jajan dari dalam tas. Ia berjalan meninggalkan Cello yang masih bersungut-sungut menahan kesal.


"Hueek!" Cello menutup mulutnya mau muntah. Perutnya serasa diracun setelah memakan bekal makanan Malika barusan. Ia terpaksa melakukan itu, karena Malika terus memaksa Cello menghabiskan potongan-potongan sayur jahanam yang menjijikkan saat terkunyah di mulut.


Selepas apel dari kelas Malika, Cello memutuskan kembali ke kelas. Ia mendapat tepukkan kasar saat sedang berjalan di lorong. Cilla sedang menatapnya dengan pandangan murka. Yang bisa ia tebak bahwa ada sesuatu yang terjadi pada adiknya.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya anak itu. Cilla berdecak, kakinya menghentak-hentak sambil menenteng bekal makanan yang sepertinya belum disentuh sama sekali.


"Aku kesel Kak! Aku ngajakin Evan makan siang bareng, tapi dia malah milih makan bareng si Kecap di kantin. Apasih istimewanya Botol Kecap penyok itu? Kenapa semua orang lebih suka main sama dia?"


Tentu saja sang kakak mendapat terjangan sorot mata tajam. Cello sampai meremang melihat adiknya yang begitu murka saat menyebut nama Malika. Ia bahkan tak berani membela atau sekadar menimpali.


Namun, sebuah ide brilian muncul di kepala Cello dengan cepat. "Gimana kalo kita susulin mereka ke kantin aja?"


"Mau ngapain?


"Ikut aja ...."


Cello menarik lengan adiknya menuju kantin. Tak membutuhkan waktu lama, mereka dapat menemukan di mana letak keberadaan dua bocah tersebut. Malika dan Evan tengan duduk berduaan melakukan adegan uwu-uwu. Keduanya makan nasi goreng sepiring berdua seperti lagu Ida Laila.


"Kita boleh gabung, kan? Soalnya tempatnya penuh semua."


"Boleh kok, sini duduk Cill." Evan si bocah terbijak tersenyum manis ke arah Cilla, tapi tidak pada Cello si pria kecil licik yang sudah dianggapnya sebagai saingan terberatnya. Cilla duduk di samping Malika, sementara Cello duduk bersebelahan dengan Evan.


"Kalian Kok makannya sepiring berdua gitu?" tanya Cilla seraya membuka kotak bekalnya.


"Iya, Likanya ngga abis kalo makan sepiring sendiri," ujarnya.


"Cewek manja, makan sepiring aja ngga abis," celetuk Cilla kemudian. Malika hanya diam, terus menyendok nasi goreng yang piringnya terletak di tengah-tengah meja itu. "Kamu udah makan, Kak?" tanya Cilla pada kakaknya.


"Udah, tadi aku dikasih bekel sama Malika." Matanya melirik Evan guna melihat ekspresi anak itu. Sayup-sayup Cello mendengar embusan napas kasar keluar dari bibirnya—hidung Evan juga sudah mulai kembang kempis kepanasan. Namun sedetik kemudian ia beceletuk hingga membuat Cilla terbelalak.


"Aku udahan makannya, kamu janga lupa catet hari jadian kita ya, biar nggak lupa." Sambil mendorong piring itu agar lebih dekat dengan Malika.


"Emang kalian udah jadian?" tanya Cilla tak senang. Mendadak ia tidak berselera makan mendengar mereka berdua memutuskan berpacaran.


"Anak kecil 'kan nggak boleh pacaran!" Lantas berceletuk lagi, merasa mendapat bekal cukup dari Lisa dan Farhan dalam menghadapi pergaulan anak jaman sekarang yang terkadang suka membagongkan.


Kedua bocah itu hanya diam, tidak ada yang menjawab karena omongan Cilla memang benar.


Cello yang sudah tahu bahwa Malika dan Evan sudah memiliki keniatan ke arah sana ikut menimpali. "Ngga papa pacaran, yang penting nanti nikahnya sama aku. Kata si Kecap, pacaran 'kan ngga mesti jodoh, Dek. Biarin mereka pacaran, nanti juga putus. Kita doain cepet putus," ujarnya pasti.


Evan yang tadinya hendak pamer hanya dapat melipat bibirnya canggung.


***


Bagaskara sudah menjulang tepat di atas kepala. Menemani aktivitas beragam para penduduk bumi di berbagai pelosok ngeri. Dan hari ini, ialah hari di mana Farhan dan Lisa akan mengerahkan usahanya untuk kesekian kali. Ia hendak berkunjung ke rumah bunda untuk melakukan ritual bujuk membujuk, alias merayu si kembar agar segera pulang. Cukup berat untuk mengajak mereka berdua pulang, belum lagi Lisa dan Farhan juga harus merayu bundanya.


Sebelum pergi ke rumah bunda, Farhan sengaja mengajak Lisa berkunjung ke rumah Rico sebentar untuk mencocokkan beberapa data perkembangan tentang kerja sama antara Revical Grup dan Burning Sun. Hasilnya lumayan signifikan. Kapitalisasi pasar sebesar 3.11 Triliun yang terkumpul, berhasil memperoleh laba harian sekitar 57.94 Milyar. Hal ini jelas mendapat apresiasi luar biasa karena banyak pihak-pihak yang akan diuntungkan termasuk para pemegang saham.


Setelah selesai dengan urusan kerja, Farhan memutuskan untuk bernostalgia sejenak. Mereka bermain voli di atas kolam setinggi dada, dan hanya mengenakan boxer mini sebagai penutup bagian tubuhnya. Sementara dada bidang bak model pakaian dalam, mereka biarkan terpampang di bawah sorot matahari yang cukup menyengat.


Lisa dan Bebi yang tengah duduk di tepi kolam sedikit terpesona melihat kelincahan mereka berdua dalam melempar bola.


"Mbak Lisa!" Ibu muda berparas imut, seimut namanya itu menoleh. Melirik Lisa dengan bibir mesem sedikit malu. "Mbak kalo main sama suami mbak barbar banget ya, itu kok punggung suami kamu sampe banyak bekas baret-baretnya gitu."


Lisa pun mengangguk. "Ya begitulah, aku memang selalu barbar, emangnya kamu enggak?" Dia balas menoleh, tatapanya terlihat menyelidik penuh. Bebi menyengir diikuti dengan anggukkan juga.


"Sama saja sih, tapi aku selalu rajin potong kuku biar mas Rico nyaman. Ngga kayak mbak Lisa, kukunya kayak artis, panjang banget tuh," cibir Bebi sambil melirik kuku Lisa.


"Hmmm. Sudah kutebak! Tapi suamiku ngga masalah kok! Punggungnya slalu tersedia buat digaruk."


Bebi tersenyum malu. Keduanya terdiam beberapa saat, larut dalam pikirannya masing-masing. Sebenarnya ada sepenggal cerita lucu di balik kisah hidup mereka berdua. Lisa adalah contoh wanita pejuang garis dua sejati, di mana hampir setiap periode ia mengharapkan terjadinya telat datang bulan yang dapat melukis garis dua di alat tes uji coba kehamilannya.


sementara Bebi, ia adalah seorang ibu muda yang sempat menolak kedatangan takdir lantaran tak terima dengan kenyataan bahwa ia sedang hamil. Wanita itu langsung mengamuk saat mendapati dirinya hamil dipercobaan pertama. Ia menyalahkan Rico yang tidak bisa hati-hati dan sempat mengacam ingin menggugurkan kandungannya. Rico sampai harus berjuang mati-matian agar dapat membujuk Bebi supaya mau menerima takdirnya, sampai akhirnya Lala dapat hadir dengan selamat menemani kesibukan keduanya.


"Ya, begitulah siklus kehidupan manusia yang sudah menikah. Hidup akan hampa jika tidak bercinta. Bahkan di saat hamil pun, aku malah tambah semangat ingin sering-sering melakukannya. Kalau tidak ingat ada bayi di dalam perutku, mungkin ronde mainku bisa sampai dua kali lipatnya peraturan minum obat."


"Ck. Mbak Lisa lucu, jujur banget." Bebi terkekeh geli. Namun sedetik kemudian wajahnya berubah panik saat mendengar tangisan Lala dari dalam. "Duh, si Lala kayaknya bangun Mbak! Aku ke dalam dulu ya."


Ia berlari ke dalam kamar. Meninggalkan Lisa yang masih menatap dua mahluk tampan yang tengah bermain voli di dalam kolam. Lisa segera meraih handuk di meja seraya mendekat ke tepian.


"Mas udahan dong mainnya, si kembar udah pulang sekolah dari sejam yang lalu, nanti kalau kelamaan di sini mereka keburu pada tidur siang."


Farhan menghentikan aktivitasnya. Ia naik ke permukaan, menerima handuk yang diberikan Lisa untuk menyeka tubuhnya. "Kenapa kamu senyum-senyum?"


"Nggak pa-pa, malam ini kita nginep di rumah bunda aja yuk Mas!"


Farhan mengernyit. "Tumben banget, memang kenapa?"


"Mau nyoba hal-hal baru."


Sontak menoleh, Farhan melotot. "Jangan aneh-aneh ya!"


***


Assalamuallaikum, hai ...


Mohon dibaca ya ... Untuk sementara ini jangan nanyain kapan update dulu ya, karena Ana lagi berjuang melawan virus korona delta +. Kalian baik-baik ya ... Jaga kesehatan. Karena kalo udah sakit gini, rasanya ga nyaman banget. Doain aku, biar bisa nulis lagi buat kalian 😥.


Yang mau kasih semangat di novel lewat hadiah bunga dan kopi aja, biar bisa naik rank. Makasih untuk para pendukung Lisa dan Farhan.


Terima kasih.