HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kisah Rico 2



l


Rico masih diam seribu bahasa. Ia merasa murka dengan Wicaksono Albraham selaku ayahnya. Bagaimana bisa sang ayah menjodohkannya dengan wanita yang hobinya maling sapi? Terlebih usia mereka terpaut jarak empat belas tahun.


Sungguh, Rico harus segera membuat misi untuk menguak alasan di balik perjodohan gila ini.


"Kalau kamu? Kenapa kamu mau dijodohkan denganku?" Bebi berbicara dengan bahasa teman. Sama sekali tidak ada aura hormat seperti yang harus ia lakukan kepada suaminya. Bahkan, nama Rico saja Bebi suka lupa. Beruntung, Rico tidak mempermasalahkan sikap urakkan seorang Bebi.


"Aku mau dijodohan untuk menerima permintaan terakhir ayahku saat sedang sekarat." Rico menghel berat dengan hati yang tersayat-sayat. "Sialnya, ayahku malah tidak jadi mati!"


"Buahahaha ... alasanmu lucu sekali!" Bebi tergelak kencang, tangannya memukul-mukul spring bed ranjang tanpa sadar.


Rico mendengkus, hidungnya mengembang karena emosi. Ia terus menatap gadis itu sambil sambil mengumpat dalam hati. Lalu Rico berkata lagi,


"Jangan menghinaku. Nasib hidupmu sendiri jauh lebih parah. Disuruh nikah karena malingin sapi orang tua. Dasar bocah!"


"Aku hanya mau maling harta orang tuaku saja. Sayang 'kan, punya kekayaan sebanyak itu kalau tidak dipakai," ujar Bebi yang bangga sekali dengan statusnya sebagai maling.


"Tetap saja kau maling!" cibir Rico. Bebi mengangguk, mengakui bahwa dirinya memang bertangan panjang.


"Karena aku maling, dan kamu adalah suamiku. Artinya, nasibmu jauh lebih tidak buruk daripada aku. Kau suami dari seorang maling. Hahaha." Bebi tergelak kencang tanpa rasa malu.


"Benar. Nasibku sungguh malang. Pesonaku yang menjadi kebanggan luntur semua gara-gara menikahi maling sapi," ejek Rico yang tak membuat Bebi marah sama sekali.


Rico menghempaskan tubuhnya di samping Bebi. Gadis imut yang wajahnya mirip Barbie itu menggeser duduknya ke samping. Risih dengan adanya Rico yang tiduran di sampingnya.


"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan di malam pertama kita?" Rico menatap lekat wajah gadis itu. Tangannya meraih surai hitam yang masih basah sehabis mandi.


Bebi paham kode Rico, ia juga sering melihat sapi-sapinya bercinta setiap kali sepasang sapi dimasukan ke dalam satu kandang yang sama. Persis seperti Rico dan Bebi saat ini.


"Huuuh." Rico menghela, kasar. "Ternyata kamu pintar juga, Dipsyku sama sekali tidak bereaksi meihatmu." Rico memandang dua moci yang menempel di kaos polos milik Bebi. Lalu menyelusuri tubuh itu dengan akhir rasa yang tak berselera.


"Dipsi itu siapa?" tanya Bebi kebingungan.


Rico mengulas senyum jenaka sambil berkata, "Dipsy adalah penerus bangsaku. Sesuatu di balik celana yang hobinya bergerak-gerak setiap kali aku membayangkan Irene Red Velvet. Satu-satunya wanita yang mampu membangunkan Dipsy dari tidur panjangnya."


"Cih!" Bebi berdecak geli. "Kenapa namanya harus Dipsy?"


"Karena bentuknya lurus ke atas, tegang dan mirip antena di kepala Dipsy."


"Dasar gila!" Satu umpatan melayang kasar.


Bebi merinding ngeri selaras dengan kedua tangan yang reflek memeluk tubuhnya. Ia tidak menyangka bahwa Rico memiliki sisi jenaka di balik kelakuan dinginnya saat dipelaminan. Namun, ia merasa aman untuk malam ini dan seterusnya.


Setidaknya, Bebi tidak harus khawatir karena Rico sudah menjelaskan bahwa Bebi bukanlah selera Dipsy. Meskipun pepatah mengatakan tidak ada kucing yang menolak diberi makanan enak. Tapi Dipsy 'kan Teletabis, bukan kucing garong.


***



Berikan komen kalian sebanyak-banyaknya mengenai kesan pertama... Uhuyyy.....