HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
100% Tampan Membahana



Rico mengerahkan lima belas petugas dekorasi untuk membuat kamar pengantin baru lagi. Mau tidak mau, karena itu adalah perintah langsung dari si boss Farhan Budiman. Kini, pria itu sedang duduk di sofa, mengawasi para staff agar pekerjaan mereka cepat selesai.


Sementara Farhan dan Lisa sedang mengungsi di kamarnya. Entah sedang apa, Rico tidak mau terlalu memikirkan kegiatan mereka berdua. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan tugasnya sebelum mata hari terbenam. Agar acara lomba balap kecebong Farhan nanti malam bisa berjalan lancar tanpa hambatan.


"Bisakah kalian bekerja lebih cepat lagi? Kenapa kalian lelet sekalit, sih?" Rico sampai memijit pelipisnya, matanya terus memperhatikan para staff yang sedari tadi seperti gagal fokus dalam bekerja.


"Baik, Tuan," jawab mereka kompak.


Dalam hati mereka menggerutu kesal. Karena si biang kerok yang membuat tidak fokus tak pernah sadar diri. Malah menuduh mereka lelet dalam bekerja.


Asal Rico tahu! Bahwa kehadiranmulah yang membuat para staff melirik-lirik. Menelan saliva. Dan berandai-andai memiliki pria tampan yang sedang duduk mengawasi sedari tadi.


Bosan duduk-duduk saja, akhirnya Rico memutuskan untuk mengelilingi area kamar. Mengecek satu-persatu pekerjaan para staff demi terciptanya kesempurnaan. "Bunga ini agak layu, coba ganti dengan yang baru." Rico berkomentar.


Staff itu hanya mengangguk tanpa berani menjawab, Lalu mengganti bunga yang baru ia susun dengan yang baru. Sfaff itu segera berpaling, lalu memegangi bagian dadanya yang nyaris copot karena kagum dan bangga dapat melihat wajah Rico dari dekat.


Rico kembali berjalan menghampiri satu-persatu staff yang bertugas.


"Sebaiknya jangan menaruh vas mawar putih di dekat kamar mandi. Taruh saja di dekat pintu masuk." Rico menunjuk lagi, menyuruh salah seorang untuk memindahkan bunga sesuai perintahnya.


Mereka mulai kelimpungan seperti cacing kepanasan setiap kali Rico mendekat. Bahkan, ada salah satu yang nyaris menjatuhkan satu bucket bunga hanya karena gugup melihat ketampanan Rico yang di luar batas wajar.


Meskipun semuanya sudah mengenal Rico. Namun, ini adalah pertama kalinya mereka dapat berinteraksi sedekat itu dengan Rico. Apalagi pria itu turun tangan langsung dalam menyusun kamar pengantin bossnya. Hati para wanita tambah meleleh melihat sikap Rico. Mereka menafsirkan betapa setianya Rico kepada Farhan.


Tak heran, mereka langsung berpikir bahwa Rico adalah calon suami yang setia. Sungguh, betapa beruntungnya wanita yang akan menjadi pendamping pria itu kelak.


"Tuan!" Salah satu staff wanita yang usianya masih sekitar dua puluh lima tahunan memanggil Rico dengan tatapan putus asa. Pria itu menoleh pada sumber suara.


"Ada apa?" tanya Rico sambil mencium setangkai bunga mawar yang ia pegang di tangan kanannya.


"Bisakah Anda keluar saja dari ruangan ini?"


"Ya ...?"


Sontak semua mata tertuju pada wanita yang berani mengusir Rico itu. Tak jauh beda, Rico juga ikut terperangah mendapati staff yang kelewat kurang ngajar kepadanya.


"Apa maksudmu?" tanya Rico lagi. Wajahnya langsung berubah garang. Namun tak menghilangkan ketampanan pria itu sama sekali.


"Saya perhatikan, semua teman-teman saya jadi gagal fokus karena Tuan terus mondar-mandir di hadapan kami. Tolong mengertilah, Tuan, ketampanan Anda sangat mempengaruhi kinerja kami. Jika Anda terus berada di dekat kami dan menyakiti jiwa para staff yang meronta-ronta, saya pastikan pekerjaan kami tidak akan kelar sampai besok pagi."


Rico masih terpaku mencerna setiap ucapan gadis muda itu. Baru saja Rico ingin melayangkan hukuman, si gadis lancang itu berkata kembali,


"Saya hanya mewakili suara hati teman-teman saya yang tidak berani mengutaran keresahannya, Tuan. Mohon maaf jika Tuan tersinggung dengan ucapan saya." Gadis itu menunduk, lalu melanjutkan pekerjaanya kembali.


Masih setengah jengah, Rico berseru pada semua staff yang sedang bergeming di tempatnya masing-masing. "Apa benar yang dikatakan gadis itu? Apa kalian merasa terganggu dengan kehadiranku?"


Hening. Tak ada yang berani menjawab.


"Cepat katakan!"


Bentakkan Rico membuat semuanya tergugu.


"Iya, Tuan." Mereka menjawab dengan kompak. Kepalanya menunduk tanpa berani melihat ke arah Rico.


"Oke. Jadi Saya harus pergi?"


Lagi-lagi tak ada yang berani menjawab. Mereka tidak seberani gadis yang tadi menyampaikan keluh kesahnya pada Rico.


"Baiklah ... baiklah, saya pergi. Pastikan pekerjaan kalian selesai sesuai waktu yang sudah ditentukan.


Rico langsung bringsut dan pergi meninggalkan kamar itu. Entah ia harus marah atau bangga dengan pengakuan gadis berani itu. Di usir gara-gara wajahnya kelewat tampan rasanya tidak masuk akal.


Apakah jiwa wanita selemah itu saat bertemu dengan pria tampan?


Sepertinya Rico mulai takut dengan anugrah yang diberikan Tuhan kepadanya. Ternyata memiliki wajah mulus tanpa cacat dan tanda-tanda keburikan bukanlah hal yang bagus. Tak selamanya tampan menguntungkan hidup manusia.


***


Ekspresi Rico yang marah sekaligus heran.