
"Awalnya aku butuh uang, tapi semenjak menjadi budak nafsu om Adam, aku mau pisang!"
"Astaga, Anaaa! Bisa-bisanya seorang gadis berkata seperti itu." Lagi-lagi pria tua setengah penyakitan itu dibuat terkejut bukan main. Wicaksono masih tidak menyangka bahwa perawat yang baik, polos, dan selalu menebar keceriaan adalah wanita tidak benar. "Jaga kelakuanmu, Ana! Seorang gadis tidak pantas seperti itu."
Lalu Ana tersenyum dengan tawa kecil yang menghiasi pipinya, "Siapa bilang aku masih gadis? Sejak terjerat cinta om Adam aku bukan lagi gadis, Tuan!" sahut Ana tidak tahu malu. Dengan tawa yang menggema-gema tentunya.
Wicaksono yang syok langsung memegangi bekas operasi ginjalnya yang mulai nyeri akibat ocehan Ana. "Stop, Suster Ana! Aku sudah tidak kuat mendengar ucapanmu! Kau bisa membunuhku perlahan."
Wicaksono menggelengkan kepalanya. Untung Anarita bukan anak kandungnya.
Gadis itu menyeringai jenaka. Dia sudah tahu bahwa Wicaksono adalah seorang bapak yang kejam. Namun tiga bulan merawat pria tua itu setiap hari mampu menumbuhkan kedekatan yang membuat Ana tidak canggung apalagi segan terhadapnya. Menurut Ana, ada banyak kebaikan di balik sifatnya kejam seorang Wicaksono.
"Saya hanya bercanda, Tuan. Jangan terlalu dianggap serius. Saya memang seorang simpanan pejabat, tapi bukan pada jalur sah-sah mendesah atau Institut pelakoran. Dia hanya meminjam jasaku untuk mengalirkan dana korupsi. Agar tidak diendus oleh pihak PKK."
"KPK!" teriak Wicaksono yang sudah geram tingkat Kecamatan.
"Ya, maksudnya itu, Tuan." Gadis itu mengulas senyum sambil menutupi mulutnya ala-ala anak perawan jika sedang malu.
"Dasar anak gadis nakal!" sungutnya kesal.
"Biarpun saya nakal, tapi kesucian saya terjamin."
"Masih perawan?"
"Ambigu, Tuan! Hahaha." Ana tertawa ngakak-ngakak. Membuat Wicaksono mengepalkan kedua tangannya emosi. Karakter Wicaksono yang kejam ternodai sempurna oleh gadis kecil bermulut mercon itu.
"Jangan terlalu diseriusi, Tuan. SUMPAH saya masih perawan. Jika Anda tidak percaya silakan dicoba!" Ana menarik seragam bawahnya hingga paha itu nyaris terbuka.
Wicaksono yang merasa bercanda anak itu kelewatan langsung menepis tangan Anarita. "Gila, kau pikir aku pedofilia?"
"Bercanda, Tuan. Hehehe."
Wicaksono menghela kasar, lalu menaikkan satu alisnya seraya bertanya lagi, "Memangnya kau tidak takut ikut terseret hukum? Bagaimanapun juga pekerjaan itu sangat beresiko. Kau bisa saja ikut terseret. Lebih baik hentikan."
"Seratus juta hanya recehan, satu Milyar akan kuhadiahkan untukmu jika berhasil."
"Apa-apa! Anda serius?" Satu suapan bubur masuk ke dalam mulut Ana sendiri. Membuat Wicaksono menepuk jidat setengah frustrasi.
"Serius! Tapi tidak harus kau makan jatah makanan siangku juga, kan? Apa om Adammu lupa transfer?"
"Astaga!" Ana menohok. Buru-buru ia menelan bubur di mulutnya dengan susah payah. "Saya akan mengganti dengan yang baru, Tuan."
"Tidak perlu! Katakan rencanamu dulu, baru aku makan." Wicaksono langsung menyergah sebelum Ana beranjak.
"Baiklah, jadi begini …." Wajah anak itu berubah serius. Sama persis dengan Wicaksono yang menunggu ide bagus seorang Anarita. "Ini berhubungan dengan hobiku sebenarnya."
"Kalau begitu katakan, jangan bertele-tele."
"Iya … iya." Ana menaruh semangkuk bubur yang ada di tangannya ke atas nakas agar suasana di ruangan VIP itu semakin mendrama. "Jadi hobiku adalah membaca novel setiap waktu. Dari ratusan novel yang aku baca, hampir semua penulis novel menuliskan sebuah kisah perjodohan. Termasuk aku juga." Dia tertawa lagi dengan renyahnya.
"Lalu?" tanya Wicaksono. 100 persen ia tidak paham apa hubungannya novel dengan kehidupan nyata.
"Rata-rata novel yang aku baca ya begitu, mereka selalu menuliskan orang tuanya yang sakit-sakitan, mau mati, sekarat! Lalu, dengan bahasa sedih dan diksi-diksi yang dibuat seikan terbang mungkin, tokoh orang tua akan menyampaikan pesan-pesan, yang pada intinya dia ingin melihat anaknya menikah sebelum mati. Kemudian si anak yang merasa iba dan tidak ada pilihan lain, memutuskan untuk menikah dengan berat hati. Begitu kira-kira."
"Apa kau ingin aku sekarat dulu agar Rico menikah? Kurang ajar sekali kau, Ana!" Wicaksono sudah membenarkan posisi duduknya—hendak mengusir Ana dari ruangan itu.
"Tahan dulu, Tuan, budayakan mendengarkan dengan selesai baru berkomentar." Ana memasang kuda-kuda, takut dipukul si bapak tua. "Saya tidak mengharapkan Anda mati, saya mau menyarankan, cobalah trik seperti itu."
"Jadi kau ingin aku berpura-pura sekarat agar Rico mau menikah? Begitu?"
"Tepat sekali!" Ana menganggukkan kepala sambil menepuk tangan Wicaksono. "Kita berada di dunia nyata yang penuh dengan tipu-tipu, Tuan. Sulaplah ruang VIP ini menjadi layar drama yang dapat dinikmati penontonnya. Sewa dokter-dokter profesional untuk mengelabui anak Anda dan buatlah kejadian itu senyata mungkin. Saya pastikan, anak Anda akan menerima perjodohan itu walau agak terpaksa," ujar Ana penuh keyakinan.
Wicaksono mengangguk, paham.