HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 45 : (Season 2)



Peristiwa malu-malu kucing di rumah sakit tadi berubah menjadi suasana mencekik saat Farhan memasuki kantor polisi di mana dua bocah SMA itu sedang diamankan. Langkah sepatunya mengayun pelan, tatapannya terlihat dingin dan membuat udara di sekeliling orang yang ada di sana mendadak hilang sebagian. Terlalu horor melihat wajah garang Farhan yang tak ada ekspresi baik-baiknya sejak menginjakkan kaki dari lobi depan.


Di sana, di sebuah kursi besi panjang dengan penjagaan ketat beberapa polisi, dua orang tua pelaku tengah menangis menyesali perbuatan tercela anak-anaknya yang tidak bisa dimaafkan. Mereka ingin marah. Ingin mengamuk. Ingin menolong. Tapi tak kuasa berbuat apa-apa selain meratapi nasib anaknya yang mendadak malang akibat ulah bocah itu sendiri.


"Tuan!" Semuanya berlutut memohon sebuah ampunan dari orang yang mereka pikir berhati salju dan memiliki watak dermawan. "Tolong maafkan putra dan putri kami, Tuan!"


Alex langsung sigap maju ke depan sebelum mereka sempat menyentuh sepatu mahal Farhan yang tampak mengkilap. "Bangunlah, Ibu, Bapak! Mari kita selesaikan masalah ini secara tuntas tanpa ada drama!"


Pria itu membangunkan empat orang tua yang tengah dilanda keputusasaan. Sementara Farhan sudah duduk di kursi yang baru saja dipersiapkan oleh salah seorang petugas untuk dirinya. Matanya menyorot tajam. Melotot pada dua manusia yang tengah berdiri di samping jeruji sambil dijaga dua polisi.


Gemetar-gemetar takut, mereka tak berani menatap wajah Farhan sama sekali. Bahkan melihatnya pun tidak berani.


"Tolong maafkan putra-putri kami, Tuan! Mereka bilang tidak bermaksud membuat anak-anak Anda celaka. Hanya iseng-iseng semata," ucap salah seorang ibu yang menjadi orang tua pelaku wanita.


"Jadi nyawa anakku yang nyaris terancam kau anggap iseng?" Farhan mengepalkan kedua tangannya, geram. Alex segera menghalau sebelum pria itu bertindak nekat di dalam kantor kepolisian.


"Tenangkan diri Anda dulu Tuan," lirihnya.


Ayah dari si pelaku cowok pun tak mau kalah, beliau mencoba mengajak Farhan bernegosiasi. "Tidak seperti itu maksud kami Tuan. Kita 'kan sama-sama orang tua. Jika anak Anda dalam posisi anak kami, saya yakin Anda akan melakukan hal yang sama untuk membela masa depan anak Tuan sendiri. Sebagai sesama orang tua yang menyayangi anaknya, saya mohon dengan sangat, tolong ampuni dan bebaskan anak kami. Kami janji akan mendidik mereka lebih tegas lagi, Tuan," ujarnya.


"Mudah sekali ya kalian bicara. Bagaimana jika kalian berada di posisisiku yang nyaris kehilangan seorang anak, apa kalian masih sangggup berkata seperti itu?" telak Farhan emosi.


Semuanya mendadak bungkam. "Nyawa anakku hanya satu!" tegas Farhan murka.


Farhan mengangguk tanda mempersilakan. Ia sendiri juga paham kalau emosinya mudah meledak kapan saja. Bukannya menyelesaikan masalah, yang ada Farhan akan menambah perkara karena mencekik mereka tanpa sadar.


"Jadi begini semuanya." Mata Alex memandang para orang tua itu satu-persatu. "Sebelumnya perkenalkan nama saya Alex, saya di sini sebagai sekretaris tuan Farhan yang akan mewakili beliau untuk menjelaskan, bahwa pengajuan kalian tentang menyelesaiakan masalah secara kekeluargaan akan kami tolak dengan berbagai pertimbangan yang sudah kami pikirkan sebelumnya. Demi menghadirkan efek jera dan agar tidak menjadi contoh buruk untuk kedepannya, pelaku akan tetap mendapat pidana atas kasus yang mereka lakukan. Ada pun keringanan yang mereka dapat, mereka akan mendapat pidana khusus anak di bawah umur dan mendapat pendidikkan penuh layaknya siswa lain."


"Ya Tuhan. Saya mohon Tuannn. Tolong pertimbangkan nasib anak kami sekali lagi ...."


"Mohon maaf." Alex menautkan kedua tangannya di depan wajah. "Jika Anda semua tidak berkenan, mari kita bertemu dan selesaikan masalah ini di pengadilan hukum."


Sontak mereka meraung-raung tak kuasa. Dua siswa yang sedang menunduk dengan tangan terborgol pun ikut menangis mendengar keputusan Alex yang tidak dapat diganggu gugat.


Bagai mendapat petir di siang bolong, keduanya sama sekali tidak menyangka bahwa perbuatan yang diawali dengan sebuah keisengan dapat menimbulkan dampak separah ini untuk masa depan mereka.


Nasi sudah menjadi bubur. Kini mereka harus mendekam di dalam jeruji dan menghabiskan masa mudanya di sana sampai waktu yang entah kapan ditentukannya.


*


*


*


Segini dulu ya. Kalo udah 200 komen aku up part yang uwu-uwu lagi. Jangan lupa kirimin hadianya gengs. OTW akhir bulan, bantu naikin rank seiklasnya ya. hehe