
Kehangatan yang melimpah keluar dari tubuh Farhan untuk kedua kalinya pada malam ini. Pria itu bergulir ke samping dengan napas tersengal-sengal dan sisa kenikmatan yang membuat setengah otaknya masih melayang penuh hikmat.
Bisa dibilang kondangan ranjang kali ini cukup memuaskan walau terhalang acara ngambek-ngambek tak jelas seakan mengulur waktu keduanya.
Sebenarnya Farhan juga masih kuat jika harus menamba ronde sekali lagi. Namun melihat wajah Lisa yang sudah sangat kelelahan membuat ia urung meminta jatah tambahan pada kunjungan seminggu dua kalinya.
Gagang gayung juga sudah lumayan cukup puas. Terbukti ia tidur nyenyak di bawah himpitan bantal guling yang kaki Farhan dekap di bawah sana. Pria itu tidak mau terlalu berlebihan. Apalagi sampai menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kandungan Lisa. Farhan tidak mau hal itu sampai terjadi.
"Ngadep ke sini deh, Mas!" Lisa menarik selimut untuk menutupi dadanya yang sedikit terbuka. Tangannya meraba punggung sebelah kiri Farhan agar segera berbalik menghadapnya. "Ada yang mau aku omongin soal Ello. Kamu jangan tidur dulu, ini penting banget!"
"Mau ngomong apa? Kok tumben sekali?" tanya Farhan sudah berbalik menghadap Lisa kembali. Matanya berusaha menerawang kegelapan demi melihat raut wajah istrinya yang hanya tersorot pencahayaan lampu temaram.
"Ini soal Ello Mas, aku ngga tau tuan Haris ngomong apa sama dia, yang jelas keadaannya jadi kacau banget!"
"Kacau gimana? Kamu kalau ngomong yang jelas." Farhan mengernyit. Jantungnya mulai bertalu-talu tidak jelas saat merasakan tubuh istrinya mulai bergetar dengan tangis tertahan. Padahal beberapa saat tadi Lisa terlihat bahagia dengan pencapaiannya.
"Jangan menangis! Aku malah tambah panik kalau kamu seperti ini. Apa yang Ello katakan, apa dia mengancam tidak mau pulang lagi? Sudah ku bilang tenang saja! Mereka berdua biar menjadi urusanku, setelah sunat minggu depan kupastikan keduanya pulang ke rumah," sembur Farhan dengan rentetan omelannya.
Rahang pria itu mengeras karena kalut. Lisa menggeleng samar. Bukannya diam, isak tangisnya malah semakin jadi. "Bukan itu. Ini masalah baru."
"Masalah apa?"
"Aku juga tidak tahu pastinya. Hanya saja tadi Ello minta izin ke aku, kalau dia mau nerusin sekolah di Amerika setelah kenaikan kelas dua. Mas ... aku tahu keluarga Haris adalah keluarga bangsawan yang selalu tegas mendidik putra-putrinya, tapi aku tidak tega jika anak sekecil Ello harus menuntut ilmu sejauh itu. Hatiku sakit banget!"
"Jadi ini masalahnya?" Farhan mengangguk paham tanda mengerti. Tangannya sibuk mengelus-elus pundak sang istri agar berhenti menangis.
Mengenal luar dalam seperti apa watak tuan Haris, membuat ia tidak kaget sama sekali mendenger kabar seperti ini. Ia sudah menebak hal ini akan terjadi suatu hari nanti. Hanya saja Farhan sendiri merasa waktunya terlalu cepat. Biasanya para anak di bawah didikkan tuan Haris akan melanjutkan belajarnya ke Amerika setelah lulus SMA. Seperti ia dan William yang dulu diperlakukan seperti itu. Tapi ini anak SD, bagaimana bisa? Apakah Cello yang menawarkan diri?
Farhan mendesahkan setengah napasnya agak kasar.
Di antara semua anak, mungkin hanya Reyno yang memiliki hak istimewa pemberian Tuhan sejak kecil. Maminya selalu rela bertengkar hebat dengan tuan Haris hanya karena ingin memanjakan anak itu dan selalu mendekapnya pagi siang malam. Farhan sudah hafal dengan gamblang tentang suluk-buluk keluarga Haris Giovani Londa selama ini. Ia sendiri pun harus mengikuti didikkan keras tuan Haris agar dapat mencapai kesuksesan.
Sambil terus mengelus rambut belakang istrinya, Farhan mulai bersuara, "Apa itu keinginan Ell sendiri? Kalau iya kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mendukung Lis," ucap Farhan lembut.
Lisa mengangguk. Bibirnya tercekat, sulit sekali terbuka walau hanya sekedar menjawab; iya.
"Jangan nangis. Kasihan bayi kita, nanti dia juga sedih." Farhan menyusut air mata Lisa dengan ibu jarinya. Lalu mengecup dua kelopak basah itu agar jangan mengeluarkan buliran air mata kembali.
Setelah menarik dan membuang napasnya berkali-kali, Lisa pun mulai bercerita,
"Dia bilang yang tahu hal ini baru aku. Bisa dibilang, ini memang masih menjadi wacana tuan Haris dan Ello sendiri. Tapi cara dia merengek minta izin membuat hatiku sakit. Dia begitu antusias ingin belajar ke sana demi jadi orang sukses katanya."
Farhan tersenyum. "Bukannya itu bagus? Kenapa kamu menangis, harusnya kamu dukung cita-cita mulia seperti itu Lisa. Anak kita yang satu itu benar-benar memiliki pemikiran yang sangat dewasa." Farhan mencubit gemas pipi istrinya.
Lisa semakin menangis mendengar ucapan Farhan yang tidak ada sedih-sedihnya sama sekali. "Kamu gimana sih, Mas? Bukannya sedih malah ngeledekin aku gitu? Harusnya kamu sedih, kamu bingung kayak aku!"
"Tidak usah bingung-bingung. Kalau anak kita mau belajar ke sana karena kemauannya ya didukung. Masalah mau berakhir bagaiamana, kita hanya bisa menerima dan selalu mendukung. Lagi pula Amerika tidak jauh. Penghasilanku masih lebih dari cukup untuk berkunjung ke sana seminggu sekali."
"Tau akh! Kamu sama Ell sama saja. Dari mananya Amerika tidak jauh!"
Wanita itu membalik badannya kesal. Ia tidak menyangka bahwa Farhan dan Cello memiliki satu pikiran yang sama. Ah sial, tentu saja ia, mereka berdua 'kan memang pria keras kepala menyebalkan. Kalau sudah berkeinginan susah sekali untuk digagalkan.
Dan seperti mendapat karma instan, Farhan gantian berusaha membujuk Lisa yang balik ngambek setelah ia sendiri berhenti.
"Jangan marah dulu. Masalah ini masih belum jelas. Besok aku akan datang ke kantor pusat untuk membicarakan hal ini dengan tuan Haris agar kita segera menemui titik terang."
"Aku sebel sama kamu! Kamu ngga pernah bisa mengerti perasaan wanita, selalu saja tidak peka!" Lisa menepis lengan Farhan yang melingkar di pingganya.
"Astaga Lisa! Kamu harus sabar. Seperti apa pun keputusan mutlak nantinya, kita sebagai orang tua harus bisa mendukung dengan senyuman. Kamu pikir aku tidak sedih mendengar Ell berkata seperti itu. Tentu saja aku sedih, apalagi aku memikirkan nasib adiknya jika ditinggal pergi oleh Ell. Mereka berdua hampir tidak pernah berpisah barang sedetik pun. Cilla pasti sedih kalau hal ini sampai terjadi."
Farhan yang saat itu tidak tahu rencana Cello akan mengajak Cilla juga langsung terfokus memikirkan nasib anak perempuan manja satu itu. Malam itu ia habiskan untuk membujuk dan menenangkan hati istrinya. Farhan tahu bahwa wanita hamil memang sangat sensitif.
***
Cerita ini aku riset dari kehidupan asli orang kaya gengs. Jadi g hoak-hoak amat. Ya begitulah. Anak yang terlahir dari keluarga sultan, memang kebanyakan dipaksa keadaan. Di saat anak biasa lain baru belajar baca abcd, mereka udah mulai les. belajar bahasa. belahar musik. Ini itu banyak.
Semua anak orang kaya selalu dibangun karakternya sejak dasar. Biar dia tahu, ini loh hidup orang kaya, buat dipandang kaya dan selalu kecukupan, itu ga mudah, semua ada perjuangan.
Kalo belum paham juga. Coba kenalan sama rafathar, dia masih bayi aja udah main film dan punya tabungan sendiri. Cello g seberapa. Intinya satu anak lain dan yang lainnya gk sama siklus tumbuhnya. Selama mereka nyaman y biarkan.
Hargai cerita ini, minimal dengan komen dan like. Terima kasih sayangkyu.