
Waktu berlalu begitu saja, tak terasa kegiatan bercocok tanam di ladang gandum telah sukses dilaksanakan. Tinggal menunggu hasil panen dan kembali pada jadwal ritual rutin setiap malam Selasa dan Kamis.
Puji syukur juga Rico panjatkan saat menjemput bossnya yang ternyata masih sehat walafiat. Tidak ada cacat dan tanda-tanda keburikkan dari sudut mana pun. Masih tampan dan tidak berubah menjadi batu menangis, apalagi batu ginjal.
Sekembalinya mereka ke Jakarta, Farhan dan Lisa langsung disambut riang oleh dua ondol-ondol kembar yang menantinya di rumah. Keduanya begitu antusias menunggu kabar baik dari kemarin. Maksudnya, menanti dedek bayi hasil bulan madu yang wajib mereka tuntut mirip dengan baby El. Anak si mantan cassanova yang mendadak tobat setelah nyungsep di lubang buaya. Maksudnya jurang cinta Shea.
Ah ya, sekarang mereka sudah resmi tinggal di rumah besar Farhan. Pada akhirnya, ada baby sitter yang mau mengasuh dua mahluk pintar tapi nakalnya luar biasa itu.
Kegiatan kerja Lisa juga akan dikurangi. Meskipun belum bisa mengurus si kembar setiap waktu, Lisa berjanji akan menjadi ibu asuh yang baik dan bisa membagi waktu. Bagaimanapun juga, Lisa belum sanggup jika harus berhenti bekerja secepat itu, ia merasa sayang dengan pendidikkan dan prestasi yang diraihnya selama ini.
Terlebih, semua keluarga mendukung keputusan Lisa. Si kembar juga paham, bahwa Lisa tidak sama dengan Jennie yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga daripada pendidikkan dan karier. Selagi tidak ada persiteruan, biarlah hal itu terus berjalan sebagaimana mestinya.
Farhan dan Lisa sedang duduk di ruang tamu. Baru sampai rumah setengah jam yang lalu.
"Bunda ..." Si manja Cello mulai tempel-tempel dan akhirnya mendarat di pangkuan Lisa. Sesekali ia memeluk, lalu menciumi pipi Lisa sebagai bentuk kerinduannya.
Sementara Cilla sedang duduk di lantai, asik membongkar oleh-oleh dari Jogja. Ia akan lupa segalanya jika sudah bertemu dengan makanan. Anak gadis itu mulai memakan dan menghitung bakpia patok di kotak kue yang ia temukan.
"Satyu ... duwaa ... tigyaa ... empadd ... buanaak ... keunyang." Begitulah semboyan si kecil mungil yang hobinya makan kue setiap saat.
"Dedeknya mana, Bun? Katanya bulan madu itu bikin dedek." Penantian Cello selama ini mulai dipertanyakan. Farhan dan Lisa saling pandang dengan senyuman geli begitu mendapatkan pertanyaan dari pria kecil berotak super itu.
Cilla yang mendengar langsung menghentikan aksi makan kue. Lalu menatap Lisa dan Farhan dengan mulut belepotan. "Iyaah. Kok tiddak bawa dede?" tanya dia ikut-ikutan. Kue bekas gigitannya tidak jadi dimakan karena teralihkan oleh topik penting. Cilla memberikan kue itu pada Milo si kucing oren pemakan segalanya.
Lalu, anak itu melompat ke pelukkan Farhan setelah diingatkan perihal dedek bayi.
"Memangnya kalian mau punya dedek bayi?" Farhan membuka omongan setelah menciumi kedua pipi Cilla.
Si genit membalas mencium kedua pipi Farhan. "Ya maulah. Biyal bisya syepelti tante Sheya."
"Nanti ya, Sayang. Lagi di proses dalam pabrik dulu," imbuh Lisa dengan senyum jenaka.
"Pabriknya jauh ya, Bun?" tanya Cello mendongak-dongak. Anak kecil kan memang suka penasaran ya, katanya pintar kalau begitu.
Merasa sudah tidak kuat menahan beban letihnya, Farhan mengajak Lisa ke kamar untuk istirahat. Tak lupa meminta izin dulu pada dua mahluk yang duduk akur di lantai. Sibuk membuka oleh-oleh.
"Kalian berdua main sama bibi asuh dulu ya, ayah sama bunda mau ke kamar. Boleh 'kan?" Farhan sudah menyeret koper, hendak mengistirahatkan diri sebelum pergi ke kantor siang nanti.
"Boyeh," jawab Cilla.
"Terima kasih ya." Lisa Berkata. Lalu mengusap kepala bocah itu sebelum mengikuti Farhan ke kamar.
"Yah," panggil Cello. Farhan menoleh, menghentikan langkah kakinya untuk mendengar dia mau berceloteh apa lagi.
"Kalo ada dedek bayinya, nanti perut bunda Lisa jadi gendut ya?" tanya Cello, tiba-tiba ia teringat edukasi yang diberikan neneknya waktu itu. Cello memang cerdik dan memiliki daya ingat yang kuat. Beda jauh dengan Cilla yang mudah lupa jika sudah liat makanan enak.
"Iya. Memang kenapa?" tanya Farhan agak bingung.
"Ello gak suka cewek gendut, bisa gak dedek bayinya taro di perut ayah aja. Biar bunda tetap cantik, gak papa kalau ayah gendut, mah."
Farhan melongo, cengo.
"Tidak bisa, itukan sudah tugasnya bunda, tapi bunda akan selalu cantik meski perutnya gendut."
"Awwwh! Masa sih?" Lisa menutup mulutnya girang. Wanita itu langsung kelepek-kelepek dipuji cantik di depan anak-anaknya. "Ayah bisa aja," balas Lisa malu-malu.
Farhan pura-pura merinding. Geli sendiri melihat tingkah boneka mampang yang sedang dalam mode lebay.
***
Gabut banget ya, bab ini?🤣
Jangan lupa komen dan likenya ya ..