HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Mencari Tambatan Dipsy



Kemarahan Rico masih berlanjut. Ia tidak terima dengan kecerobohan Lisa dan Farhan yang membuat Dipsynya mendadak baper. Adegan panas mereka di kantor membuat Rico pusing karena Dipsy tiba-tiba menuntutnya untuk mencarikan pasangan. Dia tidak mau Lala atau Pooh. Kalau bisa yang cantiknya setara Irene Red Velvet.


Sementara itu, Rico memilih untuk bekerja setelah melakukan take down durasi CCTV jahanam itu. Beruntung, penyaluran CCTV di ruang kerja Farhan tidak bersifat umum. Artinya, hanya Farhan dan Rico seorang yang dapat melihatnya. Di mana Ricolah satu-satunya manusia yang menjadi saksi kekejaman video itu. Bahkan, otaknya masih travelling seperti BANK keliling yang menagih hutang pada ibu-ibu.


"Sabar." Satu tepukan dari tangan boss tidak tahu diri jatuh di bahu Rico. Pria itu mendengkus, menangis tangan Farhan kesal. "Makannya nikah. Umurmu sudah waktunya punya cucu." Farhan kembali duduk ke kursinya sendiri setelah mengambil file dari meja Rico.


Farhan mulai sok menggurui. Membuat pria berumur tiga puluh empat tahun itu semakin murka. Untung Lisa sudah balik ke kandanganya, jadi tidak ada tambahan bumbu nyinyir dari gadis bermulut lada merica itu.


"Bagaimana dengan anak pak wali kota di provinsi sebelah? Dia sangat cocok denganmu. Lebih baik kau terima saja cintanya." Mata Farhan tertuju serius pada Rico.


"Diamlah, Tuan. Saya tidak suka dengan gadis yang terlalu agresif seperti itu," ujar Rico sebal. Matanya menatap Farhan penuh penekanan. Menyiratkan bahwa ia tidak butuh dijodoh-jodohkan.


"Kau berani menyuruhku diam?" Farhan membalas tatapan Rico lebih kejam.


"Saya masih kesal padamu, Tuan. Bukankah Anda sendiri yang bilang, aku boleh kurang ajar padamu di waktu-waktu tertentu."


"Pintar!" Farhan mengangguk. Tidak jadi marah dan mengakui kekalahannya.


Rico mulai menggunakan bahasa pertemanan dengan Farhan. Sama halnya dengan Lisa, Rico juga memiliki hak istimewa dan diperbolehkan menggunakan bahasa aku-kamu di saat-saat tertentu.


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja aku merasa khawatir padamu. Waktu aku pergi ke klinik untuk periksa, mister yang mengobatiku berkata kalau kelainanku terjadi karena faktor usia. Di mana dia berkata bahwa milikku kurang berfungsi akibat tidak pernah digunakan."


Sontak Rico membola murka. "Jaga bicaramu Tuan, penerus bangsaku tidak mungkin karatan. Meski tidak pernah bertemu dengan selembar daun jati, dia selalu rutin main sabun setiap seminggu sekali."


"Cih!" Farhan berdecih geli. "Bangga sekali dirimu, Rico.


"Aku bukannya tidak mau menikah. Hanya saja Dipsyku terlalu sulit diajak mencari pasangan. Selama ini, belum ada satu pun wanita yang bisa menggetarkan Dipsy kecuali Irene Red Velvet, Tuan."


"Kalau begitu kenapa tidak kau pacari saja Irene itu," jawab Farhan tidak pakai pikir-pikir. Dia kira Irene seperti Lisa yang mudah ditaklukan.


"Irene adalah artis luar negeri. Mana mungkin aku bisa mendapatkannya semudah itu. Sampai jenggot Dipsy memutih pun aku tak mungkin bisa menikahinya."


"Kalau begitu cari replikanya saja. Mudah bukan?"


"Boneka sex?"


"Bukan bodoh! Cari wanita yang wajahnya mirip dengan dia."


"Belum nemu. Kalau pun ada, aku sudah melamarnya sambil membawa 100 ayam jago," ujar Rico sebal. Mulut Farhan suka mengada-ngada kalau sedang jadi teman seperti ini. Membuat Rico ingin menguncir bibirnya kalau tidak ingat dia adalah boss.


"Kenapa harus ayam jago seratus?"


"Karena 100 burung merpati harganya mahal. Aku terlalu pelit untuk mengeluarkan duit sebanyak itu," ujar Rico kesal. Matanya teralihkan karena layar ponsel yang tiba-tiba bergetar.


Sebuah pesan yang Rico terima membuat pria itu syok bukan main. Mata hazelnya membola sempurna. Nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ya Tuhan!"


****


Up ke tiga. Selamat membaca. Jangan lupa bagi-bagi vote, biar cerita ini masuk rank 20. Mayan bisa buat beli kuota kalo masuk. Wkwkw.