
Hari menjelang pagi saat Lisa terbangun dengan keadaan masih berbaring lemas di dalam mobil. Di sampingnya ada Farhan yang tengah terlelap, lengkap dengan wajah kuyunya karena habis menggempur sang istri mati-matian.
Istilah gaya baru yang Lisa katakan sukses membuat darah di dalam tubuh Farhan mendidih seketika tadi malam. Ia begitu tertantang saat Lisa menyebutkan gaya barunya lewat bisikan.
'Memanjakan gagang gayung gersang yang hampir punah'
Ugh, sontak Farhan merasa terhina. Ia yang merasa masih memiliki stamina penuh langsung bertindak brutal dan membuat mobil itu bergoyang-goyang seperti karakter mobil kartun di teve-teve. Bedanya mobil di kartun suka mengajak anak-anak bernyanyi riang, sedangkan mobil Farhan hobi mendesah dengan lenguhan-lenguhan manja yang menggetarkan jiwa. Ck.
"Mas! Jam berapa ini?" Lisa sudah panik. Ia merapikan rambut dan membenarkan bajunya yang acak-acakkan sisa tadi malam. "Mas Al!" teriaknya lagi.
Kali ini dibarengi satu pukulan yang melayang di bahu pria itu. Farhan mengerjap gelagepan seolah habis ditenggelamkan di dasar sumur.
"Katanya kamu ngga mau tidur. Mau nungguin sampai subuh biar langsung jemput Cilla. Gimana sih?"
Wanita di sampingnya sudah bersungut-sungut sambil menyisir rambutnya asal-asalan.
"Emang sekarang jam berapa?"
"Sepuluh!" pekik Lisa.
"Astaga!" Farhan langsung bangkit dan ikut membenahi dirinya. Ia memang berniat begadang sampai pagi. Tapi apa daya hormon endrofin di dalam tubuhnya terus meninabobokan pria itu sampai terlelap tanpa sadar.
"Ello pasti ketakutan di rumah sakit sendirian!" Mulai teringat anak yang dibiarkan sendirian di ruangan rawat inap.
"Ya jelas takutlah! Kamu si!" Lisa keluar dari dalam mobil setelah keadaannya cukup rapi. Disusul Farhan dari arah belakang yang berlari cepat guna mengimbanginya.
Awalnya Farhan hanya ingin memenuhi keinginan Lisa, tapi entah kenapa main di mobil rasanya asik juga. Hingga pria itu lupa daratan dan berujung kelelahan setelah melakukan.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Cello, dan alangkah terkejutnya Farhan dan Lisa saat melihat seluruh ruangan itu telah ramai dipenuhi keluarga besar. Ada mami Dina dan papi Haris, bunda Lynda dan ayah Hermawan. Juga Cilla yang terus menatap sang ayah dengan wajah horor penuh tanda tanya.
"Em, maaf ... kami habis dari luar," ujar Farhan seraya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Oooo ... habis keluar!" ucap semuanya kompak. Membuat Lisa dan Farhan kikuk dengan serangan mata curiga dari semuanya.
"Keluar di mana, Han?" Suara bunda memecah keheningan yang sempat terjadi beberapa detik. Ia berjalan ke arah Farhan sambil meraih kerah baju pria itu secepat kilat. "Pakai kancingnya bajunya sampai salah-salah begini loh, pemirsa."
Farhan menunduk malu. Ia yang biasanya datar dan memiliki kepercayaan diri penuh mendadak ciut lantaran diserang banyak orang sekaligus.
"Hmmm. Kami berdua tidur di mobil, Lisa kurang suka terang."
Sontak Lisa menoleh dengan tatapan sinis karena namanya dibawa-bawa. Matanya tertuju ke bawah seolah mengatakan; kupotong gagang gayungmu, Mas!
"Katanya ayah mau jemput Cilla, tapi malah ngga dateng-dateng, padahal udah ditungguin lama," protes selanjutnya di lakukan oleh si kecil menggemaskan yang tengah duduk di samping kakaknya sambil mengunyah buah apel.
"Ello juga ditinggalin," serunya.
"Kata suster dia sampai nangis ketakutan loh, mana ponsel kalian berdua di tinggalin di sini pula!" timpal bunda penuh hardik meminta sebuah pertanggungjawaban si orang tua asuh.
Lisa dan Farhan mendadak terkena serangan mental. Mereka bingung atas semua ucapkan yang menyudutkan keduanya. Tak ada Farhan yang biasanya to the poin. Tak ada Lisa yang selalu barbar dan memiliki sejuta kata dalam menjawab. Keduanya bungkam dan memilih diam mengakui kesalahan.
*
*
*
Beberapa jam sebelum keluarga Cello datang. Malika sempat datang mengendap-endap ke kamar sebelah. Tempat di mana Cello dirawat. Ia membuka kamar itu perlahan, dan mendapati Cello sedang duduk memeluk lutut di atas ranjangnya.
"Ell, kamu kenapa?" Bukannya jawaban, malah mendapat serangan pertanyaan.
"Bunda sama ayahku mana?" Malika sedikit terkejut melihat tubuh anak itu sudah gemetar ketakutan.
"Bundaaa," lirihnya lagi.
"Bunda kamu mungkin lagi pergi dulu. Jangan nangis." Gadis kecil itu berjalan mendekat, menangkup dua sisi wajah Cello, dan mengusap air matanya penuh penghayatan.
"Aku temenin sampe ada yang datang." Malika naik ke atas ranjang. Duduk di samping pria kecil cengeng tersebut sambil menahan senyuman.
"Masa cowok nangis," ledeknya.
"Aku takut rumah sakit!" Cello langsung memeluk tubuh Malika sambil merengek-rengek seperti anak bayi. "Bunda sama ayahku kemana sih?"
"Aku ngga tau! Mungkin mereka lagi ada kepentingan. Udah diem! Kalau kamu nangis aku ngga mau nikah sama kamu!"
Seketika Cello terdiam. Ia melepas pelukkan dan mulai mendongak. "Kok gitu? Bohong itu dosa Kecap!" Ia menghardik sambil mengusap air matanya.
Satu jitakkan melayang di kepala Cello. "Aku ngga suka dipanggil kecap. Kamu harus panggil aku kakak kayak adik kelas yang lainnya," protes anak itu. Bibirnya manyun tidak senang. Tangannya bersidekap sambil melayangkan tatapan kemarahan.
"Aku juga ngga mau jadi adik kamu. Lagian kalo kita udah nikah, nanti aku mau manggil kamu bunda. Kayak ayah Hanhan ke bunda Lisa."
Pembicaraan mereka semakin berat, sampai suster yang baru datang untuk mengawasi keduanya mengelus dada berkali-kali. Ya Tuhan. Ada saja cobaan yang harus aku cobain, keluhnya dalam hati.
"Aku lebih suka dipanggil mamah Malika," celetuk gadis itu dengan polosnya.
"Boleh juga mamah. Tapi aku mau dipanggil ayah aja."
"Mana ada begitu! harus sesuai pasangannya biar cocok! Ayah bunda, mamah papah, bapak ibu, begitu cara nyebutnya, Marcello!"
Cello mengangguk pura-pura paham. "Ya udah deh, terserah kamu aja, asal kalo udah gede nikahnya sama aku."
Ya Tuhan, apalagi ini? Kenapa pembahasan anak jaman sekarang berat sekali. Bisa-bisa aku kena mental illness kalau begini caranya. Telinga si suster itu berasa mau meledak. Meskipun tidak percaya, tapi hal itu nyata terjadi di lingkungan anak-anak masa kini.
***
Segini dulu ya, aku baru perjalanan jauh dari luar kota. Ini juga nyempetin update. InsyaAllah, nanti malam up lagi kalau banyak yang komen dan kasih hadiah. Wkwkkw.