
Insiden tikus raksasa dan drakula sudah teratasi. Berkat maha karya bibir tawon Farhan, Cello benar-benar berhenti meminum ASI oplosan dari berbagai sumber amunisi. Kini, anak itu murni minum susu sapi di dalam gelas beling sehari 3 kali.
Di antara semuanya, bunda yang merasa paling senang, wanita paruh baya itu langsung mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumahnya. Akhirnya gunung kembar nenek terbebas dari belenggu uyel-uyel Cello setiap malam.
Iklan pencarian bibi asuh juga sudah diperbarui. Kalau tadinya setiap pengasuh harus bersedia menyusui anak piranha yang giginya tajam-tajam, kini kata itu telah dihapus. Dipastikan beberapa orang akan berminat jika tidak ada testimoni susu bengkak atau p*ting korengan yang Rico pasang. Pria itu memang sengaja memberikan detail negatif menjadi pengasuh si kembar meski nama anak-anaknya disamarkan. Maka dari itu tidak ada satu pun baby sitter yang minat untuk berkerja mengasuh dua bocah penguji nyali itu—meskipun gaji mereka dibayar tinggi. Terutama karena faktor kebiasaan Cello yang suka uyel-uyel berbagai macam jenis buah dada.
Semua itu Rico lakukan karena ia lelah harus ganto-ganti baby sitter setiap minggu. Rata-rata baby sitter si kembar hanya bertahan empat hari. Alasannya karena mereka merasa kuwalahan dengan tingkah Cello yang luar biasa. Usil, nakal, suka menggigit p*ting susu. Tidak nurut seperti pada Lisa, Cello begitu liar ketika di asuh oleh tangan orang asing.
Semua sudah cukup. Waktunya mengenang para wanita yang pernah menjadi korban kekejaman anak empat tahun itu. Biarlah Tuhan yang membalas keikhlasan hati mereka. Beri tepuk tangan untuk Cello karena sudah berhasil berhenti melakukan kebiasaan buruknya. Yakinlah, mama Panda dan papa Teddy yang ada di atas sana bangga pada anak itu.
***
Kembali lagi pada kesibukan kantor. Semua kariyawan dihebohkan dengan kedatangan direktur pusat yang tanpa aba-aba terlebih dahulu. William, pria itu memasuki kantor Farhan layaknya prince carming yang gagah dan menawan hati. Menyapa para kariawan dengan sopan dan tersenyum lebar secerah sinar mentari.
Prok ... prok ... prok ...
Pria itu bertepuk bangga. Matanya menatap Farhan dan Rico secara bergantian. "Hebat ... hebat ... hebat. Jadi ini alasanmu tidak mau kucarikan wanita seksi dari luar sana? Ternyata kau sudah berniat menikah dengan gadis beracun itu." William tersenyum geli jika mengingat pertemuan Farhan dengan gadis beracun tersebut.
Ia masih setengah tidak percaya, jodoh Farhan adalah bocah yang meracuninya sejak dulu.
Merasa diabaikan kedatangannya oleh Farhan, William beralih mengganggu Rico yang sedang terpaku menatap layar. "Pak Rico, Apa kau tahu ... kenapa Farhan bisa menikahi gadis itu?"
Rico diam, tidak menjawab ucapan William.
William semakin kesal dengan dua sejoli itu. "Baiklah, benar-benar tidak ada yang mau menyambut kedatanganku rupanya." William melangkahkan kakinya ke sofa, lalu duduk seperti tamu agung tanpa disambut.
"Mau apa kau datang kemari? Apakah di pusat sedang tidak ada pekerjaan? Sepertinya hidupmu terlalu santai," ucap Farhan tanpa menoleh.
"Aku ingin memastikan, benar tidaknya yang Mami ucapkan. Bahwa kau menikahi gadis dengan perbedaan umur 9 tahun. Ternyata gadis itu dia ...."
"Ya benar, aku sudah menikah dengannya. Apa yang kau mau?" tanya Farhan dengan nada ketus.
"Hahaha." William tergelak kencang. "Lucu ... lucu sekali. Dulu kau bilang tidak mungkin mencintai gadis itu. Padahal, wajahmu selalu merona setiap kali melihat gadis itu ganti baju di ruangan tamu."
William beralih pada Rico. Masih memegangi perutnya yang ngilu akibat terlalu banyak tertawa. "Pak Rico, kau tahu tidak ... Farhan sengaja memasang CCTV di setiap sudut hanya untuk melihat anak kecil ganti baju. Hahaha."
"Cih! Kau selalu saja membela tuanmu," ucap William seperti pecemburu.
"Karena aku direkrut oleh tuan Haris untuk membela tuan Farhan. Jelas aku akan membela tuanku mati-matian," balas Rico logis.
"Tapi aku juga sama-sama direktur bimbinganmu. Bagaimana bisa kau sekejam itu padaku, Pak Rico?" William menggerutu kesal.
Di tengah-tengah pertikaian Rico dan William. Lisa datang dengan setumpuk berkas di tangannya.
"Permisi ... " Kepalanya nongol dari balik pintu.
Ekspresi William berubah senang melihat wajah menggemaskan Lisa. Secepat itu moodnya berubah ketika ada mainan menyenangkan di depan matanya. "Waah ... waah .... waah! Ini dia ratu Monalisa yang kita tunggu-tunggu. Selamat ya, Nona. Akhirnya kau menikah dengan kakak kebanggaanku. Beruntung, akhirnya keperjakaan Farhan yang berharga jatuh ke tanganmu," ucap William tanpa malu.
"Aku tidak butuh selamat darimu, Tuan Willaim!" Lisa segera berjalan ke arah Rico, lalu menaruh tumpukan file itu di atas meja kerjanya. Pandangannya acuh, tidak mau melihat ke arah William sama sekali.
"Wih! Sombong ya, mentang-mentang sudah menjadi nyonya Farhan Budiman. Sepertinya kau sudah lupa kesan-kesan indah kita di masa lalu."
Tidak ada kisah indah, sesungguhnya Lisa sangat membenci William karena pernah mengejar gadis itu sambil meneriakinya dengan kata maling. Wanita itu nyaris mati digebugi warga. Ketika ditanya kenapa melakukan itu, William menjawab dengan enteng. Bahwa ia mengejar Lisa atas perintah Farhan.
Menghela napas berat, akhirnya Lisa terpancing dengan sikap semena-mena William. "Kenapa kau hobi sekali menggodaku sih, Tuan? Aku bisa jadi nyonya Farhan Budiman juga karena kau yang menangkapku dulu. Jadi, jangan banyak tanya kenapa semua ini bisa terjadi! Tidak ada yang tahu nasib orang akan seperti apa di masa depan," murka Lisa kesal.
"Hehehe, gadis kecil sudah dewasa rupanya. Aku punya hadiah untukmu. Aku yakin kau akan menyukainya."
Tersenyum licik, William berjalan ke arah Lisa bak seorang kesatria hendak melamar putrinya. Ia memutar tubuhya ke belakang punggung wanita itu sambil mengambil sesuatu dari balik kantung celananya. "Kalung ini sangat cocok untuk lehermu yang polos." Pria itu memasangkan kalung yang dipegangnya ke leher Lisa. Membuat semua terkejut, terutama Farhan yang wajahnya sudah merah padam.
"Cantik," ucap William memuji. Ia mendekatkan bibirnya ke arah Lisa, lalu membisikan sesuatu yang hanya bisa di dengar oleh wanita itu.
Garis peperangan di mulai. Mata Farhan tak teralihkan sedikit pun dari dua mahluk yang sedang berdiri di depan pintu keluar. Pandangannya murka, seperti hendak meruntuhkan gedung dan seluruh isinya.
Sementara Lisa yang masih syok, mencoba memahami situasi gila yang sedang terjadi.
***
Maaf atas keterlambatan update. Lagian gak lagi ditungguin kan? Wkwwk.