
Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Di sebuah restoran ternama tepatnya di tengah ibu kota, Lisa dan Farhan sedang duduk manis di ruang tunggu sambil menunggu kedatangan Zian dan istrinya.
“Ehm …” Suara dehaman Zian membuat Farhan tersentak. Ia masih dapat mengenali intonasi berat itu walaupun hanya berupa dehaman saja. Laki-laki itu segera membalikkan tubuhnya. Dan benar, ada sosok Zian di sana dengan senyum bahagianya.
Pelukan singkat pun terjadi di sana sebagai pelepas rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
“Kau dari mana saja selama ini? Aku pikir kau sudah pindah ke planet lain,” ucap Zian sembari menepuk bahu Farhan—yang membuat laki-laki itu mengerutkan dahi sambil meneliti sekujur tubuh Zian dari atas sampai bawah, untuk memastikan bahwa Farhan tak salah orang.
Komponen otak-otak Farhan mulai beradu argumen. Spesia ini benar Zildjian Maliq Azkara, kah? Sejak kapan mafia kejam seperti Maliq berubah menjadi ramah dan terkesan jenaka? Farhan menatap pria itu penuh kecurigaan seolah Zian habis maling ayam tetangga.
Masih dengan sisa keterkejutannya yang tidak tampak, Farhan berkata, “Kau sangat berubah, ya … aku tidak menyangka Tuan Maliq yang dulu kejam bisa menjadi jinak.” Ia melirik Naya, Farhan tebak semua perubahan itu berasal dari betina di samping Zian. Wanita memang memiliki kekuatan super istimewa. Yang terkadang membuat laki-laki rela berubah hanya untuk bersanding dengan dirinya.
“Aku juga tidak menyangka kalau kau ternyata tidak berubah sama sekali, masih datar. Hehe.” Mengakhiri basa-basi, Zian pun mengenalkan Naya pada Farhan dan juga istrinya, Lisa. Lalu setelahnya memasuki sebuah ruangan yang telah dipesan Farhan.
**
**
**
“Kau memesan menu yang aku minta, 'kan?” tanya Zian sesaat setelah tiba di sebuah ruangan yang hanya ada mereka berempat. Zian memperhatikan desain interior mewah sekilas, lantas bergabung duduk sambil menggandeng lengan istrinyam
“Tenang saja, sudah aku pesan sejak jauh-jauh hari,” jawab Farhan yang sudah duduk dulan bersama Lisa.
Restoran ini adalah tempat yang menyajikan steak dengan daging terbaik seibu kota. Karena istri Zian tidak dapat mengkonsumsi makanan berlemak, Farhan memesankan salad yang hanya dibuat khusus untuk Naya.
“Maaf kalau merepotkan, soalnya Naya belum boleh makan sembarangan setelah menjalani operasi pencangkokan hati beberapa tahun lalu.”
“Aku mengerti,” ucap Farhan sambil mencolek pinggang istrinya. Bukan apa-apa, sebab sejak tadi wanita itu tidak melepaskan pandangannya dari wajah Zian yang konon katanya mirip dengan mantan Lisa.
Makan malam pun berlanjut, mereka berempat sesekali mengobrol seru di mana Farhan memilih menjadi pendengar setia. Naya dan Lisa saling berbagi pengalaman seputar masalah mengidam wanita hamil yang kadang terasa aneh.
Kini semua makanan sudah tersaji rapi di atas meja. Naya tampak antusias melihat salad segar yang cukup unik di matanya. Warna sayurnya ditata dengan mengurutkan warna-warna lucu seperti jati diri Naya. Di tengahnya ada semacam nugget vegetarian bebas lemak yang aman dikonsumsi olehnya juga. Sementara yang lainnya mendapat daging steak terbaik dengan tekstur daging juicy yang siap memanjakan mulut penikmatnya.
“Hei …” Farhan menyikut lengan Lisa karena sedari tadi wanita itu terus menatap hidangan tanpa menyentuhnya. Seolah daging lembut mewah itu sudah dibubuhi racun sianida oleh si pelayan.
Lisa menjawab gertakan Farhan dengan mata melotot penuh tanya. Ada apa sih? Begitulah mata Lisa berbicara.
Fahran mendekatkan bibirnya ke telinga Lisa sambil berbisik seperti kumpulan ibu-ibu gosip. "Kenapa tidak di makan?" tanya pria itu. Merasa malu sendiri.
“Aku pengen makan disuapin sama Kak Zian.”
JEDUARRRR
Sepertinya petir menyambar di siang bolong. Sebuah permintaan aneh dan horor bagi Farhan baru saja terucap dari bibir sang istri. Mata Lisa menjurus lurus ke arah Zian saat berkata.
“Yang benar saja?” Farhan lagi-lagi berbisik. Membuat Zian dan Naya merasa tidak nyaman dan mengira dua suami istri itu sedang menggosipinya.
“Kalau ngga disuapin dia, kayaknya aku ngga bisa makan,” rajuk Lisa dengan suara keras keras. Dan tentunya langsung terdengar di telinga Naya dan Zian.
"Aku mau makan disuapin Kak Zian!" ucapnya dengan mata merah hampir terisak.
Tatapan Lisa lebih mengarah pada istri Zian. Matanya berbinar polos dengan harapan Naya mau berbagi suami sedikit untuk sekedar menuruti kegiatan mengidamnya.
"Ah, silakan! Orang hamil memang keinginannya suka yang aneh-aneh."
Naya yang paham seperti apa repotnya orang ngidam langsung menyuruh Zian bertukar posisi dengannya. Di atas meja bulat melingkar tersebut, kini Lisa diapit oleh dua pria sekaligus.
Jangan tanyakan seperti apa ekspresi Farhan saat. Meski marah ia terlihat pasrah. Namun semuanya, kecuali Lisa, dapat merasakan betapa membaranya mata pria itu.
Zian yang baru pertama kali melihat ekspresi cemburu Farhan bersorak hore. Ia berkedip pada istrinya, memberi kode bahwa drama somplaknya akan segera di mulai.
"Aku potong dulu ya, dagingnya." Zian baru saja hendak meraih piring Lisa, namun Farhan dengan cepat menariknya.
"Tidak perlu repot-repot! Aku sudah menyiapkannya!" Farhan menukarkan steak miliknya dengan punya Lisa.
Dasar bocah, kalau tidak begini aku yakin steak di piringmu pasti akan kamu makan untuk diri sendiri Han. Zian tertawa geli dalam hati.
Suapan demi suapan Zian melayang lembut ke mulut Lisa. Benar-benar pemandangan yang sangat menyebalkan lantaran Farhan dan Lisa hampir tidak pernah memiliki momen manis seperti itu.
"Pelan-pelan makannya. Kamu lucu sekali sih! Mau menjadi adikku tak?" goda Zian sok jenaka. Di mana Farhan hanya memangku dagu seraya menatap datar ke arah mereka. Meskipun dalam keadaan cemburu, tetap saja wajah datar Farhan yang agung masih terselamatkan.
Sementara Lisa melirik Naya. Takut istrinya marah. Namun dilihat dari antusiasnya dalam menikmati hidangan, Naya terlihat tidak peduli sama sekali dengan kelakuan suaminya.
Acara kebakaran jenggot masih terus berlanjut. Noda di bibir Lisa membuat Zian tertawa licik sambil meraih tisu di atas meja.
Saat Zian hendak mengelap bibir Lisa, Farhan dengan sigap menampik tangan kekar tersebut. "Tidak perlu melakukan yang seperti itu! Cukup suapi saja."
Farhan meraih tisu dengan hati bersungut-sungut. Lantas mengelap sudut bibir Lisa agak sedikit kasar.
Mendapat perlakukan seperti itu, Lisa tampak biasa. Ia sedang fokus menikmati acara mengidamnya. Bukan dia tidak tahu perasaan Farhan, tapi jujur saja Lisa tak bisa menahan keinginannya.
Ternyata begini rasanya orang nyidam aneh, batin wanita itu yang merasa seperti mendapat kepuasan tersendiri setelah kemauannya dituruti.
Setelah selesai, Zian menepuk pundak keras Farhan yang sedari tadi kaku dan tegang.
"Sabar Han! Orang hamil memang seaneh ini. Jika ada istilah hamil diluar nikah. Istrimu termasuk dalam istilah HAMIL DI LUAR NALAR!!"
Zian berbicara keras. Lantas terbahak-bahak puas.
***
Up kedua. Jangan lupa vote dan poinnya biar makin rajin.
Kolaborasi bersama author Kolom Langit dengan judul novel My Hot Baby (Terjebak cinta dokter playboy). Jangan lupa sempatkan diri untuk mendukung kami. Terima kasih.