HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Pempers



"Kau berani membohongiku?" Mata Farhan menyalang tajam. Menggila murka walau Lisa sudah berlutut memelas iba pada pria itu.


"Dan kau berani menyuruh setelah membohongiku!" Farhan bertepuk tangan dengan kemarahan memuncak hingga ke ubun-ubun. "Hebat! Nyalimu besar sekali, Lisa!"


"Maaf."


"Ah, bukankah lebih baik kau nikmati karma yang baru saja diberikan Tuhan untuk seorang istri pembohong?" Farhan berdecih sinis setelahnya.


"Maaf."


"Apa kau tidak memiliki kata lain?"


"Aku salah."


"Selain itu?"


"Aku salah, aku minta maaf."


Gadis itu meremas piyama. Masih tertunduk seraya berlutut. Senjata paling ampuh saat ia merasa takut.


"Heuh!" Farhan menghela napas kasar. Lantas berbalik pergi dan hendak melangkang pergi.


"Tuan!" panggil Lisa saat Farhan hendak memutar handle pintu kamar. Pria itu menoleh dengan tatapan marah yang belum bisa mereda begitu saja.


"Apalagi?"


"Jangan marah. Bagaimanapun juga aku istrimu. Meskipun jelek, menyebalkan, cengeng, aku tetap istri sahmu."


"Kau sedang mengajakku bernegosiasi?" tanya Farhan dengan nada membentak. "Semenjak jadi istriku kau semakin berani ya?" telak Farhan.


"Bukan seperti itu, Tuan. Aku berjanji, ini terakhir kalinya aku membohongimu." Jari Lisa menunjuk huruf V.


"Karena kau takut kena karma, 'kan?"


Lisa hanya menunduk takut. Tidak berani menjawab perihah kebohongannya itu.


Ia ingin menceritakan soal keegoisan Farhan di atas ranjang, tapi Lisa merasa belum pantas untuk meminta timbal balik dari pria itu. Apalagi pernikahan mereka terbilang kurang normal. Dari awal, mereka menikah bukan karena saling cinta. Tapi karena butuh. Farhan butuh Lisa untuk menjaga si kembar. Sementara Lisa mau menjaga karena ia tidak rela anak sahabatnya jatuh kepada ibu tiri lain.


Anggap ini sebagai bentuk balas budinya pada Jennie dan bundanya yang telah baik pada Lisa selama ini.


Lisa berkata kembali, "Aku mengaku salah."


"Lalu?"


"Jangan pergi. Kau tidak boleh meninggalkanku dalaman keadaan marah. Tetap lah di sini."


"Dasar bodoh!" Farhan tetap membuka pintu.


"Mau kemana?" rengek Lisa seolah berat melepas Farhan pergi. "Jangan pergi, ikh!" decaknya manja.


"Bukankah kau membutuhkan bantuanku? Bagaimana aku bisa menuruti keinginanmu kalau aku tetap di sini."


Lisa langsung mendongak dengan wajah bahagia. "Jadi, kau ingin membantuku, Tuan?"


Sorot matanya menimbulkan kelegaan. Akhirnya Lisa selamat dari efek kehabisan benda penting itu.


"Hmmm. Ada lagi yang kau butuhkan?"


"Tidak ada, Tuan. Aku sangat berterima kasih padamu."


Farhan tak menjawab. Lantas berlalu pergi meninggalkan Lisa. Wanita itu tersenyum bersamaan dengan pintu yang baru saja tertutup.


Lakukanlah tugasmu sebagai seorang suami, Tuan. Membeli pembalut adalah adegan romantis yang selalu ditunggu-tunggu kaum wanita.


***


Hujan cukup deras membuat pria itu terpaksa harus memeluk tubuhnya sendiri. Farhan masih berdiri di depan lobi apartemen, menatap mini market yang ada di seberang jalan—berjarak sekitar 12 meter dari tempatnya berdiri. Pria itu mendongak ke arah langit, di mana air turun cukup deras. Jika ia lari, pasti bajunya basah kuyup, tapi Farhan malas kalau harus kembali ke apartemen untuk mengambil payung. Akhirnya Farhan Farhan memberanikan diri untuk lari. Mengorbankan jas kerjanya terbalut oleh air hujan.


Ah, akhirnya dia merasakan repotnya memiliki istri untuk pertama kalinya. Dulu, Farhan sempat berpikir bahwa ia tidak perlu menikah. Karena istri adalah benalu yang memberatkan segala urusannya. Namun, semua itu berubah semenjak kehadiran si kembar. Tuhan selalu memiliki cara dalam memberikan keajaiban pada umatnya. Selalu ada hikmah di balik bencana dan perihnya kehilangan.


Gemetar menggigil, Farhan memasuki mini market dan mulai mencari rak yang ia cari. Ada banyak sekali jenis, pria itu tidak tahu pembalut mana yang sering dipakai Lisa.


Saat Farhan sedang dilanda gulana, seseorang di belakang menepuk punggungnya tiba-tiba.


"Han!" seru pria yang menepuk bahunya.


Farhan menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.


"Bryan?" Farhan menyambut tak kalah heboh. "Ah, kau di sini rupanya." Lantas menepuk bahu  Bryan dengan tawa lepas.


Sedikit cerita, Farhan adalah teman Bryan saat kuliah. Pria tampan berdarah Inggris itu belum lama menikah dengan istrinya. Dulu sifatnya tidak beda jauh dengan Farhan, tapi sekarang seperti bumi dan langit.


Bryan menjadi kategori budak cinta akut semenjak bertemu istrinya Shea. Wanita yang tak sengaja ia hamili beberapa bulan lalu. Sungguh, Farhan selalu mengelus dada dan berkata amit-amit saat mendengar kebucinan Bryan ketika membahas istrinya Shea. Ia selalu merasa takut bahwa hidupnya akan berada di bawah kendali perasaan cinta. Dan sekarang, Farhan sedang menuruti kemauan Lisa, di saat ia belum menjadi budak cinta seperti Bryan pada istrinya. Sedasyat itu damage seorang istri sampai membuat Farhan luluh dan menuruti permintaan memalukan Lisa.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Bryan penasaran.


"Aku tinggal di sini. Di apartemen depan." Farhan menjawab dengan canggung. Di urungkannya niat membeli pembalut. Farhan tidak mau harga dirinya jatuh. Bryan akan mengejek sambil tertawa jahat jika ia tahu Farhan hendak membeli pembalut.


"Oh begitu."


"Kau mau beli apa?" Farhan balik bertanya.


"Aku mau membeli camilan untuk istriku. Dia sedang berada di mobil. Biasa, semenjak hamil Shea selalu menyukai yang manis-manis. Sampai di mobil pun ia merengek minta camilan."


"Oh begitu." Farhan tidak peduli. Ia sedang memikirkan cara agar dapat mengambil pembalut tanpa diketahui Bryan.


"Kau sedang membeli apa?"


Farhan tidak bisa menjawab. Mana mungkin ia mau memberi tahu.


"Han!" Bryan memanggil sekali lagi. Farhan nampak seperti maling yang hendak mencuri kotak amal. Kebingungan dan salah tingkah sendiri.


"Aku hendak membeli pampers untuk si kembar." Pria itu segera meraih satu ball pampers yang ukurannya jumbo.


Bryan sampai menyerngit heran. Perasaan keponakan Farhan tidak sebesar itu. Ah sudahlah, Bryan tidak peduli. Shea sedang menunggunya di mobil.


"Aku buru-buru. Sampai ketemu lain waktu." Farhan segera berlari ke arah kasir untuk membayar apa yang ia beli. Meninggalkan Bryan yang masih memegang keranjang kosong.


Persetan dengan pembalut. Pampers juga sama saja. Dapat menambal kebocoran.


***


Pintu terbuka, Lisa langsung berdiri antusias saat melihat suaminya datang. Pria itu nampak kesal dengan wajahnya yang masih merah padam. Tambah kesal saat melihat Lisa menatapnya dengan wajah polos tak berdosa.


"Aku mandi dulu!" Farhan melempar kantung kresek belanjaanya.


"Terima kasih, Tuan," jawab Lisa.


Ketika pria itu sudah berlalu ke kamar mandi, Lisa langsung membuka kantung belanjaan. Dan alangkah terkejutnya ia ...


"Astaga!" Lisa teriak seketika. "Ya Tuhan, kenapa suamiku bodoh sekali?"


Lisa menjenggut rambutnya Frustasi. Buru-buru Lisa menyusul ke kamar mandi sebelum Farhan melakukan kegiatan mandi.


"Mau apa kau?" bentak Farhan kesal.


"Kau salah membeli pembalut, Tuan. Apa kau tidak bisa membedakan mana pembalut dan mana pampers?"


Lisat tak peduli, ia terus membetak Farhan dengan berani. Bila perlu, Lisa ingin menyumpal mulut Farhan dengan sandal jepit Hello Kitty yang ia pakai saat ini.


"Tentu saja aku tahu. Tadi aku tak sengaja bertemu dengan temanku saat hendak mengambil pembalut. Jadi, mau tidak mau aku membeli pamper saja. Toh itu juga sama, anti kerut anti bocor. Aku baca di cover depannya."


"Tapi aku bukan bayi, Tuan!"  Lisa menghentak-hentakkan kakinya kesal.


"Yang penting bisa dipakai. Itu namanya alternatif."


Pempers?


Ya Tuhan, ia tidak pernah menyangka bahwa di usianya yang ke 23 tahun harus menggunakan pampers bayi. Sejak kapan benda itu jadi alternatif haid.


Jelas tertulis untuk bayi dan ada gambar bayi tertawa.


Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya Lisa memakai pembalut palsu itu karena butuh.


Kini ia akan berhenti menghayal adegan manis-manis di cerita novel. Harapannya pupus. Bahkan, melakukan adegan romantis dengan cara membeli pembalut saja Farhan tak mampu.


Manusia planet itu memang beda. Terlalu beda dalam mengapresiasi kata romantis. Bolehkah Lisa sebut ini sebagai adegan romantis yang berakhir tragis?


'Pampers bayi adalah alternatif pembalut.'


Lisa tak akan melupakan kata itu seumur hidup.


***


Rank vote dari pembacaku turun... 😢