HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kunjungan Lisa.



Rayuan terakhir Lisa dikerahkan. "Kembalilah pada perusahaan kami, Pak Rico! Meskipun saya adalah istrinya, tapi Bapak jauh lebih penting di mata tuan Farhan. Saya janji ... jika Bapak mau kembali, tidak ada lagi kata cemburu ataupun ejekkan homo yang keluar dari bibir saya untuk kalian berdua. Bagaimana?" tanya Lisa—diikuti gelengan kepala yang menandakan Rico tidak mau.


"Saya sungguh tidak bisa, Nona. Berapa kali saya haru mengatakannya agar Nona paham?"


Sebuah kalimat pasrah mengandung rasa salah dilontarkan. Rico seperti begah membahas ajakkan kembali ke Revical Grup. Andai kata tragedi tembak itu berhasil membuat Rico mati, mungkin itu jauh lebih baik. Ia merasa berat dengan kehadiran orang-orang yang datang mencegahnya pergi. Bahkan, tuan Haris datang menemuinya secara pribadi kemarin. Rico sempat melihatnya sebelum ia di suntik total untuk melakukan operasi pengangkatan peluru.


Lalu, Lisa mengangkat dagunya dengan tegas. Memamerkan sisi angkuh dari wajahnya yang selalu ceria. Tatapannya terkesan santai tapi diikuti aura kesal yang cukup kuat. "Bagaimana kami bisa mengerti, kalau Bapak saja tidak memberikan alasan yang tepat dan langsung pergi begitu saja," ujar Lisa, matanya terus mengarah serius tanpa berkedip.


"Bukankah sudah jelas? Saya adalah penerus Burning Sun, ibu dan ayah saya hanya memiliki satu anak kandung. Sedangkan istri keduanya divonis mandul, tanpa saya, mereka hanya memiliki anak hasil adopsi yang tidak kuat dijadikan penerus Burning Sun. Itu adalah alasan yang sangat logis? Kurang penjelasan apalagi?" Rico membalas tatapan Lisa dengan melemparkan penyataan tegas dan padat. Namun, penjelasan rinci Rico tak segera membuat seorang Lisa langsung percaya begitu saja. Karena ia tahu bahwa ungkapan hati pria tak akan semurni suara hati istri.


"Saya tidak percaya, Pak, itu hanyalah alasan umum. Tapi saya yakin, bapak pasti memiliki alasan lain di balik semua itu." Tatapan yang semula agak marah berubah teduh. Lisa sedikit menurunkan frekuensi bicaranya agar Rico dapat bicara dari hati ke hati.


"Maaf, Nona Lisa. Saya tidak bisa," kekeh Rico.


Lisa menggeleng dengan bahasa penolakkan. "Dari kemarin suamiku tidak makan sesuap nasi pun, apa Bapak tega membiarkan dia mati perlahan? Jujur, aku sebagai istrinya tidak bisa melakukan apa-apa kalau sudah menyangkut kedekatan hubungan kalian berdua." Kali ini Lisa menambahkan sedikit bumbu kebohongan. Padahal Farhan hanya kurang nafsu makan, bukan tidak makan sama sekali. Namun hal itu sukses melukiskan guratan khawatir di bingkai wajah Rico.


Dan fakta perlahan terungkap. Rico mulai mengurai jawaban, "Biar kuberi sedikit rahasia. Sebenarnya ini adalah upayaku untuk melindungi kalian. Tolong mengertilah, Nona Lisa. Aku yakin Nona jauh bisa mengendalikan tuan Farhan dari pada saya. Hal ini sudah saya pikirkan dengan baik dan matang sebelum memutuskan untuk keluar dari Revical Grup."


Justru, Rico yang mulai mengkhawatirkan dirinya saat kembali ke perusahaan ayahnya nanti. Akahkah Rico mampu bertahan? Jika hidupnya saja setara dengan ajang kematian.


"Kalau begitu kasih tahu alasan yang tepat. Agar aku tidak memaksamu untuk kembali," ujar Lisa. Dia sendiri juga mulai frustrasi menyuruh Rico kembali. Padahal ini berdasarkan inisiatifnya sendiri. Farhan sama sekali tidak menyuruh Lisa untuk merayu seorang Rico agar kembali.


Rico membenarkan bantal penyanggah agar posisi duduknya lebih nyaman lagi. Lalu ia membuka menegaskan fakta untuk kedua kalinya, "Intinya ini adalah upayaku untuk melindungi kalian. Tolong mengertilah, Nona Lisa. Dan jangan terlalu banyak bertanya."


Lisa menampik cepat, "Tidak bisa, Pak! Mungkin saya akan tinggal di sini selamanya daripada mati penasaran. Saya akan menunggu di sini sampai kebungkaman Anda sepenuhnya terbuka."


Ucapan Lisa terbukti. Tiga jam berlalu begitu saja, ia masih setia duduk di samping Rico sambil melipat kedua tangannya. Tak ada kata mengeluh, ataupun pergerakkan yang menunjukkan bahwa ia bosan. Membuat Rico gila sampai mengacak dan menjambak rambutnya sendiri atas ketidaknyamanan yang tercipta di ruangan ini.


"Anda benar-benar wanita tangguh ya, Nona!" Gelengan kepala kasar itu keluar.


"Begitulah nyonya Farhan, tidak perlu diragukan lagi kualitasnya." Lisa menjawab dengan wajah datar dan suara angkuh ala si jutek.


Rico menghela napas pelan, lalu mengembuskannya perlahan. Akhirnya ia membuka apa yang selama ini menjadi rahasianya, "Baiklah, aku menyerah. Akan kuceritakan semua yang terjadi pada Nona."


"Kalau begitu ceritakan!" Lisa sedikit melirik Rico, tapi wajahnya masih tetap ketus karena ia tidak mau terlihat antusias.


"Saya kembali ke perusahaan ayah memang tidak semata-mata karena wajib. Tapi karena saya ingin melindungi orang-orang yang disayangi oleh tuan Farhan, termasuk Anda, Nona."


"Aku?" Lisa menunjukk diri sendiri dengan mata yang melebar sempurna. Tak dipungkiri hal itu sangat mengejutkan.


"Tapi kenapa Anda tidak bilang pada kami, Pak? Lagi pula itu baru ancaman, bukan? Belum tentu benar dilaksanakan." Lisa berusaha menganggap hal itu tidak penting sama sekali. "Kalau Bapak jujur, saya yakin suamiku juga tidak akan marah, dia pasti akan mencari solusi terbaik untuk hal ini," ujar Lisa lagi.


"Solusi terbaiknya adalah ini. Saya tidak mau membahayakan keselamatan Nona ataupun siapa saja. Sekuat apapun nantinya kita berusaha melindungi, iblis bertopeng manusia itu tidak akan tinggal diam sebelum pencapaiannya terkabulkan. Jika dia saja mampu menyakiti istri dan membuang anak kandungnya, menurut Nona, apa yang akan dia lakukan pada orang lain?"


Lisa sedikit merinding mendengarnya. Tapi ia masih terus menyanggah, "Ada polisi, kita bisa meminta bantuan mereka," ujar Lisa dengan polos.


"Polisi?" Rico tertawa jahat dengan nada mengolok. "Kita tidak memiliki bukti, jika mengerahkan bantuan polisi, perusahaanlah yang akan terkena imbasnya. Dalam dunia bisnis ada yang dinamakan sisi gelap. Hal itu hanya perlu uang dan kekuasaan. Ayahku bisa membunuh Anda tanpa dipenjara. Apakah Nona percaya?"


"Ngerii!" Lagi-lagi Lisa dibuat ketakutan. "Jadi bapak melakukan semua ini demi keselamatan saya dan yang lainnya?"


"Hmmm." Sambil menganggukkan kepala, ada rasa berat dan sedih yang menyelimuti wajah tegas Rico. Lisa bahkan bisa merasakan kegundaan itu.


"Saya sangat berterima kasih atas pengorbanan Bapak, tapi sebenarnya saya bingung. Apa yang harus saya lakukan setelah mengetahui hal ini? Apa saya harus memberitahu tuan Farhan agar dia berhenti mengharapkan Bapak?" tanya Lisa.


"Jangan!" tahan Rico dengan wajah mengancam. "Dia adalah pria yang ambisius, dia pasti akan melawan Wicaksono demi mempertahankanku. Tapi masalahnya, aku sungguh tidak ingin terjadi perang darah di antara ayah dan anak. Lebih baik aku saja mengalah, karena itu sudah menjadi garis takdirku sebagi anak kandung seorang Wicaksono," urai Rico.


"Hmm. Saya paham sekarang, tapi masalahnya bagaimana saya bisa menghibur tuan Farhan atas kepergian Bapak. Sementara dibandingkan Anda, status saya sama sekali tidak penting di matanya. Mungkin dia hanya menganggap saya teman ranjang dan ibu asuh si kembar," ucap Lisa dengan wajah yang mendadak dibuat sedih.


"Apa Nona sedang bicara masalah pengakuan cinta?"


Lisa membalas pertanyaan Rico dengan anggukkan polos. Iya itu.


"Jika itu masalahnya, Nona tidak perlu khawatir. Saya sudah tahu tuan Farhan luar dan dalam. Kupastikan 1000000000000 persen tuan Farhan sangat mencintai Nona. Terlalu banyak Fakta yang tidak bisa aku jabarkan, intinya semua itu nyeritatkan bahwa tuan Farhan sangat mencintai Nona sejak negara api belum menyerang," terang Rico dengan bangganya saat menceritakan kedekatannya dengan Farhan. Sampai tahu suluk buluk Farhan dan membuat Lisa tersudut alias benar-benar bukan orang penting.


"Memangnya dia melakukan apa? Ceritakanlah sedikit padaku agar semuanya jelas."


"Ini merupakan aib seorang pria, Nona. Saya tidak bisa memberi tahu, tapi Nona bisa mulai bertanya perlahan pada Tuan Farhan, pasti dia akan menjelaskan," saran Rico.


"Huuh. Aku jadi penasaran, kan!" gerutu Lisa kesal.


Dari yang Rico lihat, Lisa mulai memikirkan rahasi Farhan yang Rico spoiler-kan. Membuat Rico merasa senang karena pengalihan konspirasi itu berhasil membuat Lisa lupa dengan tragedi perpisahan Farhan dan Rico.


***


Hargai cerita ini dengan cara like, komen, dan vote bunga. Karena itu dukungan penting yang membuat cerita ini terus berlanjut.