
Like dulu sebelum baca dong.
***
“Beraninya kau mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu pada anak kecil. Di mana otakmu, hah?”
Farhan sudah emosi luar biasa saat mendengar penjelasan dari pak Farik. Pria itu menatap garang bapak paruh baya yang ada di hadapannya. Kalau tidak ada Lisa di sampingnya, mungkin Farhan sudah menghajar pak Farik saat ini juga.
“Tenang Mas! Jangan emosi dulu,” tahan Lisa. Tangannya terus melingkar di pinggang Farhan agar pria itu jangan sampai main tangan.
Pak Farik tertunduk dalam dan semakin merasa bersalah. Ia menatap cangkir berisi kopi yang masih penuh isinya. Tadi saat di pantai, ia sempat meminta maaf, kemudian menceritakan masalah Cello dan Malika pada tuan Haris. Namun tuan Haris menyuruh pak Farik menceritakan ini pada Farhan juga karena status pria itu adalah walinya.
Dan kafe yang mereka datangi menjadi tempat terhoror bagi pak Farik. Berbeda jauh dengan respon tuan Haris yang tampak senang saat mendengar cerita Cello, Farhan justru marah besar karena menganggap hal itu merusak otak polos anak kecil. Sama sekali tidak bermoral di matanya.
“Maaf Tuan, saya benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang saya katakan akan berdampak sejauh ini. Saya hanya ingin bernostalgia mengenang masa-masa indah saat almarhum tuan muda Reyno masih ada. Dan apa yang saya ceritakan pada Cello memang benar adanya. Saya tidak sedang mengada-ada.”
Hal itu pun membuat Farhan salah persepsi dalam menanggapi ucapan pak Farik. “Jadi maksudmu, kau ingin menjodohkan Marcello dengan putrimu Malika hanya karena bualan Reyno di masa lalu, apa kau gila? Jangan bilang kau melakukan ini agar keluargamu bisa naik kasta!”
Farhan menyalang murka. Membuat pak Farik bergetar gugup seraya menelan salivanya susah payah. Sungguh pak Farik sama sekali tidak pernah memikirkan hal segila itu. Ia tahu bahwa Cello merupakan calon penerus revical grup, namun pak Farik tidak pernah berpikir sejauh itu.
“Maaf Tuan, sepertinya Anda salah paham. Saya benar-benar tidak sengaja menceritakan hal itu. Tapi sumpah demi Tuhan, saya tidak pernah berniat menjodohkan putri saya dengan anak Anda. Saya cukup sadar diri dengan posisi saya. Sudah ditolong sampai sejauh ini saja saya sangat bersyukur. Mana berani saya memikirkan perjodohan apalagi kepikiran ingin naik kasta. Meskipun kami hanya orang rendahan, otak saya tidak sepicik itu. Sekali lagi tolong maafkan gurauan saya yang kelewatan, Tuan.”
Farhan diam tak menanggapi.
Lisa segera mengambil alih untuk angkat bicara. “Maaf Pak, suami saya memang tidak suka perjodohan dalam bentuk apa pun. Dan dia juga selalu mati-matian menjaga dan mendidik anak angkat kami. Wajar jika ia marah karena perubahan sikap Cello yang sangat aneh belakangan ini. Kami tidak bermaksud menyinggung masalah kasta atau latar belakang keluarga bapak,” ucap Lisa hati-hati.
Suasana semakin tegang karena Farhan hanya diam tanpa berkomentar setelah mendengar ucapan pak Farik tadi. Entah marah atau merasa bersalah, tidak ada yang tahu pasti. Apalagi ekspresinya datar sekali.
“Tidak Nona, memang ini kesalahan saya yang terlalu kelewatan mengajak anak kecil bercanda.”
“Sepertinya ini hanya salah paham, tidak usah dipikirkan lagi, lebih baik kita berdamai, toh mereka hanya anak kecil,” ucap Lisa merasa tidak enak. Kemudian menyikut lengan Farhan agar meminta maaf pada pak Farik.
Farhan langsung menyergah kesal. “Apanya yang tidak usah dipikirkan? Cello sampa berani mengajak anak gadis orang bertunangan. Apa kamu pikir hal seperti itu merupakan kelakuan terpuji untuk anak kecil? Di mana otak kalian sebagai orang dewasa?”
Kini giliran Lisa yang kena semprot oleh Farhan. Soal mendidik anak, pria itu memang tidak pernah main-main. Bagi Farhan merawat anak titipan jauh lebih berat daripada merawat anak sendiri.
“Mas, sudah dibilang tindak-tanduk anak kecil itu jangan terlalu dianggap serius. Mungkin Cello tak sengaja melihat dan kemudian mencontoh tingkah orang dewasa. Kita cukup memberikan nasihat dan edukasi agar anak itu mengerti, tidak perlu sampai menyalahkan orang lain apalagi bertengkar seperti ini.”
“Terserahmulah!” Farhan mendorong kursinya ke belakang, kemudian bangkit dan hendak meninggalkan Lisa dan pak Farik berdua saja.
“Aku mau ke penginapan dulu, aku lelah!” gumam pria itu pelan, tapi masih dapat didengar oleh Lisa dan pak Farik.
Pak Farik langsung panik begitu Farhan pergi. “Nona, sepertinya tuan sangat marah.”
Lisa segera menyambar tas dan berdiri. “Tidak masalah … dia tidak semengerikan yang orang lain lihat, kok. Maaf saya harus pergi dulu, saya harap bapak tidak menganggap kemarahan suami saya dengan serius. Anggap saja kemarahannya seperti Cello, nanti dia akan lupa dan memaafkan dengan sendirinya."
Lisa berlari menyusul Farhan setelah mengatakan itu. Pak Farik mendesah sambil menyandarkan punggungnya ke belakang. Kemudian bergumam pelan sambil menatap kepergian Lisa.
***
Lisa berlari menyusul Farhan secepat kilat, beruntung lift yang akan membawa Farhan datang cukup lama. Jadi Lisa bisa menyusul pria itu dan naik bersama ke atas.
"Jangan seperti anak kecil. Kamu pikir aku apaan main tinggal-tinggal begitu saja?" gerutu Lisa kesal.
Farhan memalingkan wajah, enggan menatap Lisa. "Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu. Bisa-bisanya kamu tenang melihat anakmu berkelakuan seperti itu!"
"Siapa yang tenang. Aku juga kepikiran, tapi menghakimi dan menyalahkan orang lain bukan jalan ninja yang bisa menyelesaikan masalah," terang Lisa ketus.
"Aku juga tahu, tapi aku sudah terlanjur kesal dengan sikap bapak tua itu. Apalagi melihat wajahnya yang jenaka. Menyebalkan," gerutu Farhan sambil melirik sinis ke arah Lisa.
"Kenapa ngomong menyebalkannya sambil melihatku," protes Lisa tak mau kalah. Ia langsung memelototi Farhan dengan muka sepenuhnya bengis.
"Maaf Beb," gumam Farhan, lirih.
"Beb?" Sontak Lisa membola dan langsung mencengkram kedua kerah baju Farhan. Ia menatap Farhan penuh penekanan. "Siapa yang kamu maksud Beb, hah? Jangan macam-macam ya, Mas! Kamu sudah ketangkap basah salah manggil namaku!"
"Aku tidak salah memanggil nama. Aku sengaja memanggilmu seperti itu."
"Hahaha!" Lisa terbahak heboh. Beruntung di dalam lift hanya ada mereka berdua. Dalam sekejap wanita itu berubah garang kembali. "Jangan berkilah. Kamu tidak pandai berbohong. Memanggilku sayang saja satu abad sekali. Mana mungkin kamu bisa memanggilku dengan kalimat romantis seperti itu."
"Beb versiku beda!" Pintu lift terbuka, Farhan menarik tangan Lisa untuk keluar. "Beb itu: beban hidup."
Begitu santuy-nya Farhan berkata seperti saringan jebol.
"Hei, YA!" Lagi-lagi Lisa dibuat ternganga. "Beraninya kau menganggapku beban hidupmu. Suami sialan!" umpat Lisa.
Farhan tersenyum tipis. "Nyatanya memang seperti itu kok! Logisnya kamu adalah beban yang selalu membuat otakku bekerja keras setiap hari agar bisa mengimbangi tingkah dan sikapmu. Sekeras apa pun aku menolak, nyatanya tetap saja aku memikirkanmu setiap saat. Bukankan itu termasuk beban hidup yang harus aku tanggung?"
"Au ah gelap! Kamu itu mau romantis apa mau nyebelin sih? Pokoknya aku akan menarik jatahmu malam ini. Biar tahu rasa!" tegas Lisa sok berkuasa.
Kini mereka sudah masuk ke dalam kamar. Farhan memepet tubuh Lisa ke arah tembok sambil menatap wajah itu penuh hikmat. "Jatahku malam ini sudah disponsori oleh Sashi. Kamu jangan lupa bahwa kita sedang melakukan program hamil yang jadwalnya sudah diatur sedemikan rupa. Jika kamu tidak ingin segera bertemu anak kandung kita, silahkan saja menolak."
Farhan menyeringai licik. Membuat Lisa berdecak lantaran kalah telak.
"Nyebeliiiiin!"
Aku akan membalas perbuatanmu. Lihat saja nanti.
***
Kasih vote dan hadiahnya dong... 🤭