
Menjelang waktu sore, momen di mana dua bocah polos itu tengah mengungkapkan ketertekanannya selama beberapa pekan ini.
"Ayah dan bunda sangat baik selama ini. Makanya kita ngga mau bikin mereka susah lagi. Kita ngga mau ngrepotin ayah dan bunda karena ngurusin kita yang nakal." Cilla yang paling pintar bicara sudah menangis sesenggukkan di samping kakaknya sedari tadi. Anak itu teramat natural dan lugas saat mengutarakan semua isi hatinya.
Bunda Lynda mengembuskan napasnya beberapa kali untuk menetralkan pikirannya yang tak bersahabat. Ia dapat merasakan hati cucu-cucunya sedang sakit kali ini. "Siapa yang bilang seperti itu? Ayah Farhan sayang sama kalian, mana mungkin merasa direpotkan. Jangan nangis lagi ya."
Cello menyergah pembelaan itu dengan cepat. "Ayah udah ngga sayang kita, Nek. Semenjak bundah hamil, ayah selalu sibuk ngurusin bunda Lisa aja. Bahkan kita dilarang deket-deket sama bunda karena ayah selalu bilang kita pengganggu. Sebentar lagi dedek bayinya lahir, kita pasti akan dilupain."
"Eh .... Kenapa Ello bisa ngomong gitu?" Lantas beralih pada Cilla. "Memang benar ayah Farhan bilang seperti itu?" Meminta jawaban pasti pada si gadis kecil yang paling pandai bicara.
Dia mengangguk tanda membenarkan. "Ayah sering bilang, kalau kita bisanya cuma gangguin dan bikin bunda Lisa capek. Padahal Cilla cuma tanya tentang PR aja. Tapi ayah marah dan nyuruh kita gak boleh manja lagi karena udah gede. Kita udah ngga boleh lagi deket-deket sama bunda karena sekarang bunda harus fokus sama dedek bayinya."
Terkoyaklah hati Bunda Lynda saat itu. Sebagian tubuhnya seakan remuk mendengar cucunya dianggap pengganggu yang menyiratkan bahwa Lisa harus lebih fokus kepada anak kandungnya saja.
Selama ini Farhan selalu diam dan berkata keadaan di rumahnya baik-baik saja. Ia selalu berkata mampu menghadapi si kembar tanpa bantuan siapa pun. Nyatanya yang Farhan ucapkan tak sesuai dengan keadaan.
Bunda Lynda berlutut di bawah sofa tempat mereka duduk, ia memeluk kedua bocah tak ber-orang tua itu dengan perasaan nyeri yang membuncah kuat.
Ya Tuhan, tolong maafkan anak hamba, Farhan. Dia sedang lalai menjaga titipan-Mu. Tolong sadarkan dia.
Bunda Lynda mengelap sudut matanya yang memanas. Air matanya sudah jatuh dan terburai ke mana-mana.
"Boleh, 'kan, kalau kita tinggal sama Nenek dan kakek di sini?" tanya Cilla diikuti tatapan memelas oleh kakanya.
Keduanya mata bocah polos itu berbinar penuh harap seakan tak ada tempat untuk bernaung lagi. Netra beningnya menyiratkan luka bahwa si kembar itu telah dibuang oleh orang tua asunya. Ia terus menunggu jawaban bunda Lynda yang tengah kebingungan harus menjawab apa.
Wanita paruh baya itu tak lekas menjawab, membuat dua bocah itu dirundung perasaan takut dan cemas. "Nenek sama kakek ngga bolehin kita di sini ya?"
"Karena kita nakal?" timpal Cello.
"Kita janji ngga akan nakal-nakal banget sama nenek dan kakek kalo tinggal di sini. Boleh ya, Nek? Soalnya kita ngga tau lagi harus tinggal sama siapa. Cilla ngga mau ke rumah Grandma dan Grandpa karena ada Gibran," tutur Cello.
Makin remuklah hati Bunda Lynda mendengar ratapan sedih kedua bocah itu. Ia mengusap-usap dua kepala kecil itu secara bergantian. "Boleh sayang ... boleh. Nanti nenek omongin sama ayah Farhan dulu ya. Cilla dan Ello yang kuat, jangan ngomong seperti itu, masih banyak yang sayang sama kalian. Mungkin pikiran ayah Farhan sedang terbagi jadi kurang peduli, maafkan ayah Farhan ya Nak," ucap bunda mewakili sang anak yang tengah abai itu.
Dua bocah itu mengangguk kompak.
"Kita ngga marah. Tolong bilangin juga Nek, kita sayang banget sama ayah dan bunda, tapi mulai sekarang kita ngga mau bikin ayah dan bunda Lisa susah lagi," kata Cilla diakhir kalimatnya.
Sukses mengoyak-ngoyak hati Bunda Lynda hingga menjerit tak karuan.
...***...
Mendengar curhatan si kembar sebelum Farhan datang tadi cukup meresahkan pikirannya. Ia tidak berniat menjatuhkan atau membela siapa pun. Namun, tindakkan memanjakan yang Farhan lakukan terhadap istrinya terlalu berlebihan menurut bunda Lynda.
Sebagai orang tua yang sayang dan tak ingin anaknya terjerumus pada lembah dosa. Lynda menarik sebuah ketegasan agar Farhan bersikap lebih rasional lagi dengan keputusan untuk mengadopsi si kembar beberapa tahun lalu.
"Si kembar sudah tidak ingin tinggal denganmu lagi. Biarkan dia di sini. Mereka lebih aman jika hidup dengan kakek neneknya."
Sontak Farhan mendelik tak terima. "Kenapa begitu?" Nyaris ia menuduh bunda meracuni otak dua bocah kembar itu agar menjauhi dirinya.
"Kamu pikir sendiri saja Han. Sikap apa yang kamu berikan kepada mereka akhir-akhir ini sampai dua bocah itu berani mengemasi barang-barangnya dan memohon untuk tinggal di sini." Bunda Lynda berkata ketus. Sebenarnya ia tak tega, namun benteng ketegasan harus tetap dibangun untuk memperkokoh hati Farhan. Karena mengadopsi seorang anak tak semudah yang pria itu bayangkan. Harus memiliki keadilan seimbang dan tidak boleh lalai dengan tanggung jawabnya sebagai orang tua.
"Bund ... maaf. Apa aku telah melakukan kesalahan?" Pria itu bergeser dari duduknya. Lantas bersimpuh ke hadapan bunda seraya menggenggam kedua tangan wanita paruh baya itu. Berikutnya, ia sedikit mengeluarkan nada lembut dan manja. "Tegur Alan jika memang salah, Bun. Tolong jangan bersikap acuh tak acuh seperti ini."
Wanita paruh baya itu menghela napas. Ia mendongak sebentara agar air matanya tak mudah jatuh begitu saja. Herwawan yang sedari tadi duduk di samping istrinya, ikut menenangkan Farhan dengan cara mengusap-usap bahu anak itu.
"Mengurus anak yatim piatu memang tak semudah mengurus anak sendiri Han. Harus benar-benar ikhlas dari hati terdalam. Tidak boleh pilih kasih. Meskipun jasa kita sangat dimuliakan oleh Tuhan, tapi keputusan yang kita ambil bisa menjadi dosa besar jika kita sampai lalai dan menyakiti perasaan mereka yang sudah tak memiliki pilar untuk berlindundung lagi," tutur ayah menimpali. Rautnya juga tampak sedih sama seperti istrinya.
Bunda yang pikirannya sudah lebih tenang mulai angkat bicara lagi.
"Kalau kamu sudah tidak sanggup bilang Han, kamu punya keluarga, kamu tidak sendiri. Bunda tahu kamu sedang fokus terhadap istrimu yang sedang hamil. Tapi bukan berarti kamu bisa semudah itu mengesampingkan mereka yang masih kecil dan butuh perhatian orang tua. Apa susahnya menemani mereka belajar sebentar? Apa susahnya menemani mereka bermain dan makan? Apa kesibukan orang dewasa terlalu penting sampai harus mengabaikan keinginan sederhana anak-anak tak berdosa seperti meraka? Toh mereka tidak sampai meminta kamu membawakan bulan untuknya, bukan?"
"Maafkan aku bun, Maaf!" Farhan membenamkan kepalanya dalam-dalam di pangkuan sang bunda. Bunda mengusap-usap kepala pria itu lembut. Kemudian memumpahkan semua perasaan yang menghimpit dadanya selama ini.
"Hati bunda sangat sakit saat mendengar semua curahan hati mereka, Han. Hanya kebutuhan sederhana yang mereka inginkan, tapi kamu abai dan tidak mengerti kemauan mereka sama sekali. Sebagai ibu yang sudah ditinggal pergi putrinya, sebagai ibu yang tidak bisa melihat perkembangan putranya tumbuh dewasa, bunda sangat-sangat hancur mendengarnya, Han. Mungkin sekarang kamu merasa repot, merasa susah, merasa terbenani, tapi waktu mereka di masa kecil tidaklah banyak. Mungkin sekarang kamu tidak paham, tapi kamu akan merasakannya jika umurmu sudah serentan kami. Betapa rindunya kami terhadap masa kecil anak-anak kami. Betapa rindunya kami ingin menggendong dan menyuapi anak-anak kami makan. Ah, Andai waktu sebentar itu bisa diputar lagi, Han. Kami tidak akan mengeluh capek saat anak sakit dan rewel, kami tidak akan memarahi anak kami saat dia mencoret-coret dinding rumah, kami akan mendidik dan menemani setiap langkah kembang mereka dengan perasaan bahagia hingga melepaskannya bersama orang yang tepat."
"Maaf Bun, maaf, Yah. Maafkan aku ...." Kini Farhan sadar akan kelalainnya. Pria itu meraung penuh penyesalan dalam pangkuan sang bunda.
Bunda menepuk bahu pria itu. Lantas memberikan secarik kertas yang sudah ditulis oleh si kembar untuk dirinya dan juga Lisa. Ia menarik napas dalam-dalam karena terlalu sesak dan mulai kesulitan berbicara.
"Maaf Hah, kamu telah gagal."
*
*
*
Bukan forum untuk saling melempar hujatan, tapi guna menyadarkan.
Bantu kasih dukungan melalui- kasih hadiah untuk yang sayang sama novel ini. Terima kasih.