
Ck. Sesuai yang Lisa duga. Belum basah bibir Farhan berencana dengan niatnya, pria itu sudah melanggar janji yang ia buat sendiri lantaran tak kuat disuguhi dua mantau lezat bergizi milik istrinya. Lisa yang merasa lucu pun tertawa ngakak. “Percuma kamu nyuruh tukang rumah buat nambahin satu tempat tidur. Buktinya nggak dipake ‘kan, Mas?” ejek Lisa.
“Sial! Berani-beraninya kamu playing victim padaku, jelas kamu duluan yang menggodaku seperti tadi. Pria mana yang bisa tahan melihat istrinya bertingkah seperti itu? Dasar istri tidak tahu diri!” Farhan menjentik dahi Lisa dengan jemarinya. Lalu berguling dari atas tubuh wanita itu sambil mengembuskan napasnya agak kasar. Pupil mata menatap langit-langit kamar, merasakan sisa kenikmatan yang masih menjalar di sekujur tubuhnya.
“Aku menggoda karena sudah tahu bahwa kamu tidak akan kuat menahannya, Mas Al kusayang. Boro-boro sembilan bulan, belum ada sembilan jam saja kamu sudah menerkamku dengan begitu liar. Ck.” Lisa menjawil dagu Farhan. Pria itu langsung melotot kesal dengan wajah setengah jengah.
“Berhenti menggodaku!” Kemudian memutar posisi tubuhnya ke samping membelakangi Lisa.
“Jangan marah dong, Sayang.” Tangannya melingkar manja di pundak Farhan. Lalu turun untuk mengelus gagang gayung yang masih lunglai di balik boxer spongebob pria itu.
Farhan memilih diam dan mengabaikan Lisa. Lantas wanita itu berbicara kembali,
"Itu artinya aku sangat memukau perhatianmu Mas, hingga kamu tak tahan melihatnya." Lisa tersenyum mengejek sambil menutup mulutnya. Rasanya begitu bangga karena telah berhasil menggoda suaminya menggunakan bra anuable pemberian Bianca di resepsi pernikahann waktu itu. Ampuh total 100%. Lisa sampai berpikir jangan-jangan desainer produk itu memberikan jimat khusus untuk memikat gairah laki-laki. Ck.
"Jika tidak ada bayi kita di dalam, aku akan memakanmu habis-habisan sampai pingsan." Pria itu bergumam kesal di balik bantal. Masih tidak terima dengan kelakuan sang istri yang binalnya keterlaluan.
"Duh, jadi mau lagi 'kan!" goda Lisa seraya menggelitik punggung suaminya. Farhan menggeliat, memutar tubuhnya menghadap Lisa kembali.
"Jaga sikapmu. Aku tidak ingin bayi kita kenapa-napa jika terlalu over." Di elusnya bagian perut itu dengan kedua tangan. Tatapannya langsung berubah bersamaan dengan gagang gayung yang siap OTW main komidi putar karena terus dimainkan oleh si barbar.
"Wah, sepertinya aku akan mendapat saingan baru. Pasti nanti kamu akan lebih menyayangi anak kita dibandingkan aku."
Satu cubitan melayang keras di pipi si tukang protes, Lisa. "Kalian berdua bukan perbandingan. Rasa sayangku sama rata dengan porsi yang berbeda-beda."
Lisa menyipitkan matanya sedikit. "Oh ya, lalu porsi seperti apa yang kamu berikan untukku?" Sambil membelai-belai apapun yang terjamah olehnya.
"Porsi ranjang!" Pria itu kalah telak lagi, dan akhirnya menjatuhkan bibirnya di mana-mana sampai pemiliknya teriak kelojotan. Farhan yang masih kurang puas berniat melakukannya. Ia mencoba bersikap selembut mungkin dalam mengatur temperamen gagang gayung agar Lisa merasa nyaman.
.
.
.
.
***
Hari memasuki waktu pagi saat Lisa mengerjapkan matanya perlahan. Wanita itu menguap, lalu mengedarkan padangannya mencari sang suami. Dan ... matanya langsung membola begitu melihat aneka menu makanan aneh-aneh yang tersaji di atas meja. "Apa-apaan kamu, Mas?"
Lisa menoleh ke samping. Menatap sang suami yang tersenyum penuh arti ke arahnya. "Itu adalah makanan-makanan yang biasa dikonsumsi wanita hamil. Aku sudah menyiapkan semuanya sebelum kamu meminta."
Farhan mengernyit tidak senang. Tatapannya berubah marah sekaligus kecewa. "Bagaimana mungkin kamu tidak ingin? Aku sudah menyiapkannya menu yang disukai ibu hamil khusus untukmu."
"Tapi aku nggak minta, 'kan?"
Embusan napas panjang keluar dari hidung Farhan. "Lalu apa yang kamu inginkan? Aku pasti akan menuruti semua keinginanmu. Apa kamu ingin makan seblak yang dibeli langsung dari Bandung? Makan bakpia patok kesukaanmu di Jogja. Atau makan bakso malang di Malangnya langsung? Katakan saja Lisa."
"Aku tidak mau apa-apa, Mas." Lisa menggeleng-geleng samar. Ada rasa kesal melintas sebentar, tapi lucu jika melihat wajah si batu bernapas yang mendadak antusias.
"Mana bisa wanita hamil seperti itu. Pokoknya kamu harus menginginkan sesuatu." Farhan menggendong Lisa secara paksa. Lalu mendudukkan tubuh wanita itu menghadap makanan yang sudah dia siapkan sejak jam empat subuh.
"Mas, aku mau makan di bawah. Aku pengin makan menu sarapan yang biasa kita makan," tolak Lisa.
"Jadi kamu tidak akan memakan menu yang aku siapkan? Kenapa kamu tidak seperti wanita hamil lainnya? Apa jangan-jangan kamu menahan keinginan? Awas saja jika berani," ancam Farhan.
"Untuk apa menahan keinginan kalau aku mau sesuatu? Aku pasti akan berusaha mendapatkanya, Mas."
Pria itu menggerutu murka. Membuat nyali Lisa menciut seketika. "Terserahlah, prercuma aku berusaha menjadi suami yang baik. Nyatanya tidak terlihat di matamu."
"Kamu itu kenapa sih, Mas? Kok jadi marah sama aku?" Lisa mundur ke belakang. Memasang jarak agak jauh dari posisi Farhan duduk. "Nyeremin banget tau gak sih! Aku sudah bilang tidak mau makan itu. Kamu kenapa jadi tukang paksa dan sensian banget hari ini?"
Farhan tergugu-gugu. "A-apa kamu bilang?" Lantas menggeram sambil mengacak-acak rambutnya ke belakang. Dia bangkit menuju pintu, hendak keluar meninggalkan Lisa.
Lisa segera memanggil. "Mas!"
"Apalagi?" Pria itu menoleh sambil memutar bola matanya ke atas.
"Mau kamu apa sih? Aku tidak ingin bertengkar pagi ini."
"Kalau tidak ingin bertengkar, artinya kamu harus memakan semua menu yang aku siapkan. Bisakah?" Farhan meninggikan satu alisnya.
"Iya, aku akan memakannya. Tapi temani aku di sini. Jangan marah lagi."
"Benarkah?" Pria itu tersenyum cerah, wajahnya berubah sumringah begitu Lisa mengatakan iya.
Eh, tunggu. Kenapa wajahmu jadi senang begitu? Ah, jangan bilang kamu menyuruhku memakan semua itu karena kamu sendiri yang sedang ngidam. Ini gila banget si. Nyidammu sangat aneh, Mas!
***
Jangan lupa komen dan like 😋