HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Mertua Baru



Lupakan Farhan yang santai seperti berjemur di tepi pantai. Kini Lisa harus menghadapi mertua garang yang sedang menyetir mobil dengan gaya anggun. Entah ia mau dibawa kemana oleh Nyonya Dina. Lisa tidak tahu dan memilih pasrah menghadapi kenyataan.


Mobil berhenti tepat di depan restaurant steak mewah dengan desain aestetik.


Nyonya Dina memarkirkan mobilnya di depan lobi, lantas mengajak Lisa turun dan menyerahkan kunci mobilnya pada satpam untuk diparkirkan.


Huh. Sungguh gaya wanita arogannya mirip dengan Farhan. Padahal bukan ibu kandung.


"Kita mau ngapain ke sini, Nyonya?" Lisa bertanya takut-takut. Jemarinya saling bertaut dengan pikiran menggila, akut.


"Tentu saja untuk makan." Ketus, mami Dina berkata. Lantas berjalan angkuh mendahului Lisa. Tas branded berlogo C di tangannya mengalun, mengikuti pergerakan wanita sosialita yang kemudian duduk di salah satu meja restauran itu.


"Dasar lelet! Ah, bagaimana bisa Farhan memilih calon istri seperti ini," ucap Nyonya Dina saat Lisa baru datang ke meja, ia duduk setelah pelayan menarikkan kursi untuknya.


"Maaf Nyonya, saya masih sedikit canggung dengan Anda." Lisa menunduk hormat, dalam hati ia mengumpati Farhan yang tak mau membantunya sedikit pun.


Bahkan, Farhan tak membalas pesan Lisa saat Lisa dengan panik menghubunginya. Lisa bertanya bagaimana caranya menghadapi nyonya Dina. Ia juga berkata kalau nyonya Dina mengajaknya pergi dengan mobil. Namun, Farhan sama sekali tak menggubris rentetan pesan wanita itu.


Selanjutnya, tak ada kata sedikit pun yang keluar dari bibir mereka berdua. Pelayan membawa dua fullblood wagyu tenderloin dan dua lime squash coktail yang sudah nyonya Dina pesan. Lisa makan tanpa komentar, ia menikmatinya dengan hikmat meski ada hasrat ingin makan steak pakai nasi. Jika dengan Farhan, Lisa selalu dipesankan dua porsi atau setidaknya ditambah nasi. Namun, ini mami Dina, wanita sosialita yang anggun dan membuat Lisa harus ikut makan dengan gaya anggun juga.


Acara makan selesai.


Mami Dina mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Lisa juga sudah selesai. Ia menyingkirikan piring tempat steak ke sisi kiri. Lanta mengecek pesan, berharap Farhan membalas, tapi sepertinya nihil. Berharap pada Farhan terlalu mustahil. Seperti berharap garam berubah rasa jadi manis.


"Saya tidak bisa lama-lama. Langsung ke intinya saja." Nyonya Dina mengetuk meja dengan jari telunjuk. Pandangan menilai Lisa masih terlihat jelas di wajah berpoles make up mahal itu.


"Baik Nyonya, silakan bicara ...." Lisa ikut menatap nyonya Dina serius. Jika nyonya Dina hendak menyemprotnya dengan bisa beracun, maka Lisa sudah menyiapkan penawar bisa untuk melawan kekejam mulut orang kaya yang ada di depannya.


"Jujur saja. Kesan pertama saya melihatmu, kamu sama sekali bukan kriteria menantu idaman yang saya harapkan."


Sudah ditebak, Lisa yakin akan mendapat ungkapan seperti ini dari ibu kasta sosialita arogan nyonya Dina Renata.


"Saya cukup tau diri Nyonya, tapi jika Anda menyuruh saya menjauhi mas Farhan, saya mohon maaf. Lebih baik Anda mimpi saja," sergah Lisa. Bahasanya sedikit kasar, sengaja ia lakukan agar nyonya Dina tahu bahwa Lisa wanita tanggung.


"Lancang sekali bicaramu pada orang tua, Nona!" Seketika mata Nyonya Dina membola, ia seperti melihat cerminan dirinya di masa muda.


"Karena saya tahu, pasti Anda ingin menyuruhku menceraikan mas Farhan."


"Cih!" Nyonya Dina berdecih sinis. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Menahan geram di dalam hati karena kelancangan mulut Lisa. Lebih parah dari Jennie—menantu pertamanya.


"Aku belum berkata apa-apa, kau sudah menuduhku dengan bahasa sarkasme seperti itu. Ah, etikamu sungguh buruk," telak Nyonya Dina. Tangan lentik itu memegang keningnya, pening.


"Tidak mungkin 'kan, orang seperti Anda mengizinkan anaknya menikah dengan gadis urakan sepertiku," balas Lisa tidak mau kalah. Wajahnya tegas dan berani, menantang nyonya Dina lebih garang lagi.


"Huhh." Nyonya Dina menghembuskan napas kasar, mencoba sabar dengan wanita muda yang semangatnya sangat berkobar. "Harusnya aku tidak merestuimu, berhubung anak dan cucuku memilihmu, apa boleh buat! Semoga saja kau tidak mengecewakan mereka."


"Ma-maksudnya ... Anda mengakuiku sebagai menantu?" tanya Lisa agak terbata. Wajahnya merona malu karena ia sudah menyerang Nyonya Dina duluan dengan bahasa kasar.


"Tentu saja aku merestuimu. Apa kata-kataku yang tadi kurang jelas?" tanya Nyonya Dina dengan alis yang dinaikan satu.


Lisa semakin shock. Rasanya ingin sekali bersembunyi di lubang semut. Atau menenggelamkan diri di dasar sungai amazon yang banyak ikan piranhanya.


"Aku izin ke toilet dulu, Nyonya. Aku butuh waktu untuk mencerna ketidakmasuk akalan ini." Lisa segera bangkit, berjalan cepat untuk menenangkan mulut nyinyirnya yang memalukan.


Kenapa bisa seperti ini. Apakah ini efek drama ikan badut diskoan?


Tersenyum tipis, Nyonya Dina meraih gelas air putih sepeninggalannya Lisa pergi.


Dina memang bukan wanita yang mudah suka dengan orang baru, tapi ia mencoba menerima Lisa seperti apapun wataknya.


Kehilangan menantunya Jennie di saat mereka baru saja berdamai membuat Dina sadar tentang kesalahannya di masa lalu. Ia. tidak mau kejadian penuh luka itu terulang kembali.


Ditinggal pergi anak dan menantunya di saat sedang sayang-sayang.


Lisa kembali dari toilet setelah berhasil menenangkan keterkejutannya. "Saya sungguh minta maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya. Atas mulut saya yang lancang. Sekali lagi saya mohon maaf. Terima kasih telah merestui hubungan kami, Nyonya." Lisa membungkuk penuh hormat sebelum kembali duduk. Wajah tidak enak masih kentara di sana.


Nyonya Dina tersenyum kecut. Pikirannya masih melayang-layang. Teringat pertemuan buruknya dengan menantu pertama di masa lalu. Mungkin ini balasan dari Tuhan atas sifat arogan Dina waktu itu.


"Jangan terlalu percaya diri, saya merestuimu karena Lynda sudah menceritakan semua tentangmu. Juga karena cucu kembarku yang katanya sangat menyukaimu." Dina berujar dengan gaya angkuhnya, namun Lisa sudah cukup senang dengan ucapannya. Sudah tidak aneh lagi mendapatkan sikap seperti itu dari orang lain. Bahkan, kearoganan sudah menjadi makanan sehari-harinya yang tak pernah dia pikirkan.


"Terima kasih, Nyonya." Lisa menunduk malu. Beruntung nyonya Dina tidak membahas kekasaran mulut cabainya.


"Tapi saya memiliki satu permintaan."


"Iya Nyonya, silahkan." Lisa kembali menatap mami Dina, serius. Menunggu bibir yang dipoles lipstik merah itu bicara.


"Panggil saya mami, dan jaga baik-baik nyawamu. Saya tidak ingin kehilangan lagi."


"Eh." Lisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Saya akan berusaha menjaga nyawa saya dengan sebaik mungkin Nyony—" Lisa menepuk bibirnya yang kepeleset. "Maksudnya, Mami."


"Bagus, kau diterima menjadi menantu keluarga Haris."


Wajah Nyonya Dina berubah sendu. Ia berharap, jangan ada lagi nyawa yang hilang di dalam keluarga besarnya.


***


Maaf ya, aku ga bisa menghadirkan tawa di setiap part novel. Selayaknya hidup, pasti ada tawa, ada sedih, ada tenang, ada hampa. Nanti aku up satu kalo lagi, jangan lupa komen dan vote ya, biar naik rank.