
Untungnya Rico sudah berhasil membawa Farhan kabur sebelum si kembar melihat keadaan ayahnya yang kacau balau—setengah gila. Sementara si kembar pulang bersama Lisa ke rumah utama Farhan.
Melihat keadaan Farhan yang mengenaskan, tidak ada raut wajah khawatir ataupun perhatian yang Rico tunjukkan seperti biasanya. Rico membanting tubuh pria itu di kursi mobil belakang. Kasar—layaknya kain pel yang tampak menjijikan di matanya.
Sudah satu tahun lebih ia terbebas dari pesta gila tiga sejojo itu. Tidak direpotkan. Tidak menjadi korban. Namun, hari ini ia harus kembali ke tahun-tahun sebelumnya. Ikut berpartisipasi menjadi korban yang harus mengurus ketiga manusia planet yang sedang merasakan beautiful hangover.
Mobil Rico melaju cepat menuju apartemennya sendiri. Pria itu sengaja membuat Farhan tambah pusing dengan gaya menyetir yang ugal-ugalan. Tubuh Farhan terhoyong-hoyong. Rico tahu Farhan tidak akan muntah, karena pria itu sudah mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Li-lisaaaaa ... apa kau mau mati?" Farhan meracau di belakang Rico. Lalu terguling di sela-sela kursi.
"Lebih baik kau saja yang mati, Tuan. Biarkan Lisa menjadi istriku," ejek Rico kesal. Tatapannya lurus tanpa peduli pada Farhan yang ke sana ke mari seperti anak monyet.
Kali ini, Farhan berpindah tempat ke kursi depan. Ia bergelayut di pundak Rico seperti anak SMA pacaran. Buru-buru Rico menghempaskan tubuh Farhan sampai terjungkal. "Jangan mendekatiku! Psikis dan kejiwaanku bisa terganggu gara-gara kelakuan kalian bertiga."
Hiii. Rico merinding geli saat mengingat proses efakuasi kodok dan kutu loncat beberapa menit lalu. Dengan kuat perkasa, Rico memapah Felix dan Bryan secara bersamaanke kamar yang sudah Shea siapkan. Namun, dua pria sialan itu malah melecehkan Rico di saat ia menolong. Bryan dan Felix menggerayangi dada kotak-kotaknya, lalu menarik Rico ke atas ranjang. Saling berebut dan mengira Rico adalah wanita yang paling mereka cintai layaknya bidadari surga.
Beruntung, Rico bisa melepaskan diri dari dua manusia laknat tersebut. Tidak sampai membuat Dipsy kehilangan keperawanannya.
Berbeda dengan Farhan yang hobi menghitung jari pada saat mabuk, Bryan dan Felix lebih ke orang kegatelan yang butuh dihangatkan. Ingin rasanya Rico melepas tujuh kambing di saat mereka berdua mabuk. Rico penasaran dengan reaksi keduanya saat melihat kambing berlarian. Mungkin mereka akan mengira para kambing itu sebagai anggota cheerleaders yang sedang menemani proses hangover beautiful mereka.
Setelah menempuh perjalanan dengan tingkah Farhan yang sulit dijabarkan, akhirnya Rico dan Farhan telah sampai ke apartemen. Tempat di mana Rico berdiam diri setelah melakukan aktifitas kerja. Apartemen dengan desain interior bernuansa putih, menandakan bahwa pemiliknya masih suci dari jajahan wanita mana pun, kata Rico saat membanggakannya pada tamu yang datang.
Rico menyeret tubuh Farhan seperti budak, lalu mendudukkan pria itu di atas sofa. Saat tangannya hendak membuka baju Farhan yang terkena muntahan, Farhan langsung menyergah dengan tatapan penuh cinta.
"Dasar tidak sabaran. Mengapa kau selalu agresif begini Lisa?" Farhan Bergumam-gumam lirih sambil memegangi tangan Rico.
Sumpah! Mendadak Rico mau muntah. Semoga saja Dipsy tidak trauma dengan pelecehan ini.
Farhan mencoba bangun dari posisi bersandar, tapi jatuh kembali karena tenaganya nyaris tak ada. "Apa kau ingin segera bermain? Bagaimana ya ... aku lelah. Tapi kalau kau mau silahkan saja."
Sontak Rico mundur sedikit sambil melepaskan tangan yang dicengkram Farhan. Berduaan dengan pria di dalam rumah tidak akan menghadirkan setan sebagai orang ketiga bukan?
Rico tidak mau dianggap 'pendonor' oleh Lisa.
"Aku bukan Lisamu, Tuan. Aku Rico ... Rico ...Rico ... Jirico Albraham," tegasnya.
Farhan membentak Rico agar keras."Jangan menyebut nama pria lain saat berduaan denganku. Aku tidak senang." Masih menganggap Rico sebagai Lisa.
"Ketimun laut! Aku adalah lelaki, bukan wanita. Kenapa kamu menjadi oon sekali di saat mabuk, Tuan?" Rico memukul kepala Farhan keras-keras, agar otak pria itu cepat sadar. Saat ia hendak mengambil obat pereda mabuk. Naas, ternyata obat dan sup yang ia buat ketinggalan di rumah Bryan. Rico sengaja membawanya untuk diberikan kepada Farhan. Namun, keadaan tidak memungkinkan karena ia harus mengurus Bryan dan Felix terlebih dahulu.
"Sejak kapan kamu potong rambut. Kenapa tidak bilang, hihihi."Lalu tertawa kecil seperti orang gila.
"Cukup Tuan, lebih baik Anda hitung tangannmu. Barang kali kurang"
"Ah, felik sudah menghitungnya. Dia bilang ada tujuh," jawab Farhan. Pria itu kembali menatap Rico dengan pandangan kabur yang tidak jelas. Sekeras apapun Rico menjelaskan pada Farhan, bayangan Lisa selalu melekat pada fantasi terliarnya. Apalagi dibantu oleh pengaruh alkohol.
"Katakan padaku, kapan kamu potong rambut?" tanya Farhan lagi.
"Kapan-kapan, bukan urusan Anda!" Rico mendengkus kesal. Untungnya Farhan tidak seperti Bryan dan Felix yang mesum dan agresif. Pria itu hanya mengajak Rico ngobrol dan memperlakukannya sebagai Lisa.
"Kasar sekali mulutmu. Cepat panggil aku sayang!"
"Cih! Sayang kepalamu peang!" Rico mendorong Farhan ke samping sampai posisinya terlentang.
Tidurlah Tuan, aku bisa masuk psikiater kalau begini caranya, batin Rico kesal. Pria itu bangkit dari posisi jongkok. Tidak jadi melepas baju Farhan demi keselamatan Dipsy.
"Tunggu dulu, kau mau ke mana? Apa kamu tidak jadi memakanku?"
"Aku sudah kenyang, aku tidak selera memakan burung kenari mentah," jawab Rico dengan hati bergetar-getar menahan jijik. Ia harus segera menenangkan diri dan mengunci pintu kamar.Jiwanya sudah mendekati gila karena tindak kejahatan sejojo.
"Baiklah, biarkan aku tidur. Aku lelah sekali, tugasku hari ini banyak."
"Iskkh!" Rico meringis. Ingin memukul Farhan sampai mati. Bagaimana bisa semudah itu berkata? Sementara semua tugas Farhan dilimpahkan kepada Rico. Kejam.
Farhan berkata lagi, " Tapi ngomong-ngomong. Kamu sangat lucu Lisa. Aku suka rambut pendekmu yang seperti gadis loly."
"Jangan mimpi! Di Indonesia tidak ada gadis loli. Cabe-cabean baru banyak!" Rico mendengkus, merasakan hatinya yang terbakar-bakar emosi.
Demi apapun, aku jijik mendengar gombalamu Alan sialan.
Selepas itu, Rico meninggalkan Farhan sendirian di ruang tamu. Pria itu nampak masih bicara seolah sedang mengobrol dengan Lisa. Terus bicara walau tak ada satu pun orang disampingnya.
Biarkan saja.
...***...
...Hallo, aku balik lagi .... Masih ada yang setia baca gak? Tes-tes ombak. 5000 like 500 komentar, nanti aku balik lagi. 😘😝😝...