HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
SIM



Hari-hari berlalu begitu saja, tak terasa pernikahan Lisa dan Farhan nyaris memasuki jenjang waktu satu bulan. Di mana semua berjalan lancar, dan Farhan sudah tiga kali melakukan terapi pijat di Mister Tong Jay. Tidak hanya itu, jentik-jentik ikan cucut milik Farhan juga sudah dites dengan hasil normal sempurna. Yang artinya tidak ada kelainan apapun di tubuh pria itu. Farhan bisa segera beroperasi mengelola pabrik bayi milik Lisa kapan pun yang ia mau.


Bagaimana dengan ketangguhan gagang gayung? Tentu saja sudah berhasil.


Selayaknya bunga matahari yang disiram setiap hari, ia mekar dan selalu berkembang dari waktu ke waktu. Dedek gemesnya semakin pintar, ia bertambah lincah karena Farhan selalu mengajaknya mengeksplor aneka wahana setiap malam. Nungging, maju, mundur, berputar-putar, salto, jungkir balik, semua gaya sudah mereka coba setiap kali ada kesempatan. Kini, gagang gayung Farhan resmi memiliki SIM untuk berkelana lebih jauh menjamah kedalaman goa misteri milik Lisa. Durasinya juga sudah mulai stabil, selalu di atas dua puluh menit dengan maksimal lima pencapaian dalam sekali duel.


Tidak ada masalah ranjang lagi. Hanya kepribadian Farhan yang masih susah diajak bermanusiawi.


Sementar Cilla dan Cello, mereka masih betah tinggal dengan bunda di rumah utama. Setiap sore Lisa dan Farhan selalu datang membawakan makanan ataupun oleh-oleh. Mereka berdua tidak ikut pulang, karena Lisa dan Farhan harus kerja dan berangkan pagi-pagi sekali. Selain faktor itu juga, Farhan masih belum menemukan baby sitter yang cocok untuk si kembar sampai detik ini.


Bunda juga cukup pengertian, sengaja agar Farhan dan Lisa memiliki waktu luang untuk berduan.


***


Bugh!


Semua file yang Lisa dekap erat jatuh berantakkan. Wanita itu memegangi lututnya yang sedikit memar. Ia mengedarkan pandangannya, mencari siapa cleaning servis yang sembarangan menaruh embar di tengah jalan.


"Sialan," gumam Lisa menahan lututnya yang terasa nyeri.


"Maaf ... maaf Nona, saya tidak sengaja." Seorang wanita membantu Lisa memunguti semua berkas yang berceceran. Lalu memberikannya dengan sigap kepada Lisa.


Saat mata mereka tak sengaja bertumu, sungguh alangkah terkejutnya seorang Lisa. Ia melihat sosok mahluk astral yang tengah menggandeng tangannya, sungkan.


"Vina?" pekik Lisa terheran-heran. Ia tidak menyangka bisa bertemu anak dari bibinya di gedung Revical Grup. Dunia terlalu sempit. Anak yang dulu terkenal manja dan jahat seperti bawang merah, sekarang sudah berubah drastis dari apa yang terakhir dilihatnya.


"Kamu ngapain kerja jadi cleaning servic? Sudah turun kasta?" Edisi mulut nyinyir Lisa lincah menghina. Ia bangkit dari posisi terpuruk diikuti oleh Vina yang membantunya berdiri. Hatinya jahatanya mendadak berbunga-bunga saat melihat saudara sepupunya hanya bekerja sebagai kariawan bawahan.


"Isk, semua ini gara-gara Mba Lisa, kalau Mba tidak merebut kembali perusahaan, ayah dan ibuku tidak mungkin jatuh miskin," balas Vina tak tahu malu.


"Merebut?" Lisa masih belum paham arah bicara adik sepupunya. "Dasar tidak tahu malu, bisa-bisanya kamu menuduhku merebut perusahaan ayahku. Jelas-jelas kalian yang merebut dan membuatku harus hidup menderita seperti ini." Lisa menjewer telinga Vina kuat-kuat. Gadis itu meringis ngilu sambil teriak minta ampun.


"Ampun Mba Lisa, galak banget sih!" ringis Vina sambil menahan sakit pada telinganya yang panas.


Meskipun dulu Lisa sering disiksa dan tidak diberi makan, tapi ia selalu menjadi bawang bombay yang kejam pada dua adik sepupunya. Lisa tidak pernah ditindas seperti bawang putih. Hanya bibi dan paman yang terlalu kejam karena sering tidak memberi Lisa makan dan juga uang.


"Mulutmu itu tidak disekolahkan," bentak Lisa tidak terima.


"Tapi memang begitu yang aku dengar dari ayah, Mba. Perusahaan kita bangkrut satu tahun yang lalu. Semua sudah diakuisisi atas namamu. Sekarang kami jatuh miskin, Mba. Lihatlah, kerjaku saja hanya jadi cleaning servis karena tidak bisa meneruskan kuliah," keluh Vina mengiba. Nada bicaranya terdengar serius, membuat Lisa shock mendengar penuturan anak gadis itu.


"Bagaimana mungkin, aku tidak pernah mengutak-atik perusahaan selama ini. Hidupku sudah tenang dan damai jadi pembantu," rutuknya agak kesal.


Mendengar itu, wajah Vina berubah marah seperti menyimpan dendam kusumat amat besar. "Mba Lisa jangan pura-pura, pakaianmu saja mahal begini. Uang dari mana kalau bukan dari hasil perusahaan, coba?" geram Vina.


"Intinya aku tidsk mengakuisisi perusahaan, titik!"


Vina memilih untuk tidak peduli.


"Terserahmulah, Mbak, mau percaya atau tidak, toh itu tidak akan membuatku jadi kaya kembali. Lebih baik kasih aku uang, aku belum sarapan dari pagi." Tangannya menengadah tidak tahu malu.


Lisa menepuk tangan nakal itu keras-keras. "Beraninya kamu minta uang sama, Mbak. Dulu saja kamu pelit," ujar Lisa.


Ingatannya kembali saat ia kelaparan, di mana Vina mengadu bahwa Lisa mencuri lima buah tempe. Lisa tidak akan pernah lupa akan hal itu. Sakit, perih jika mengingat semua itu tentunya.


"Kalau gak mau ngasih ya sudah, aku mau kerja lagi." Ember sudah di tangan, Vina hendak pergi meninggalkan Lisa, namun Lisa langsung menarik tangan Vina agar menghentikan langkahnya sebentar.


"Tunggu dulu," cegah Lisa.


"Apalagi, Mba? Aku mau kerja," ujarnya malas meladeni. Kecuali jika ia diberi uang. Barulah Vina mau berlama-lama berada di dekat Lisa.


"Beneran paman sudah bangkrut?" tanya Lisa masih tidak percaya. Rasanya tidak mungkin perusahaan itu bangkrut. Apalagi perusahaan ayah Lisa cukup berkecimpung dalam mengalahkan pebisnis lain. Aneh saja jika sampai bangkrut tanpa sebab.


"Kalau tidak bangkrut, aku gak mungkin mau ngepel lantai kayak gini, Mbak." Vina berdecak sebal.


"Ya sudah, ini untuk kamu." Lisa memberikan dua lembar uang sepuluh ribuan dari saku jasnya. Vina menyerngit tidak senang.


"Dua puluh ribu?" Mata gadis itu membola protes, namun masih menerima uang pemberian dari Lisa karena butuh.


"Mba belum gajian. Itu juga sudah banyak, bisa beli dua mangkuk indomie di kantin. Dapat telur juga," ujar Lisa mengingatkan adik sepupu manjanya.


"Dasar Mba Lisa kikir!" Vina menghentakkan kaki, lalu melangkah pergi dari ruangan itu. Uang dua puluh ribu tetap ia bawa daripada tidak dapat sama sekali.


Selepas Vina pergi, Lisa langsung bergegas menuju lift ke lantai atas. Farhan pasti sudah menunggunya sedari tadi. Ada berkas penting yang harus ia serahkan secepatnya.


Masuk ke dalam lift, Lisa menyandarkan tubuhnya. Otaknya berputar memikirkan fakta kebangkrutan pamannya.


Siapa orang yang telah menjatuhkan perusahaan paman atas namaku?


Batin Lisa bertanya-tanya sepanjang lift bergerak naik.


***


Hallo, ada yang kangen aku? Jangan pelit bagi-bagi vote poin gratisnya ya, biar aku lancar ngehalu. Maciih ini loh, buat yang baik-baik dan mensuport Parhan-Lisa.