
Pria itu berjalan ke arah Lisa yang tengah menghapus air matanya sedari tadi. Mata itu terus mengeluarkan cairan bening yang tak terkontrol.
"Hentikan tangismu, atau anak-anak akan semakin panik melihat pertengkaran kita." Farhan mendekat. Ibu jarinya mengusap air mata itu dengan cekatan.
"Kenapa masih tidak mau berhenti juga?" gumam Farhan sedikit menggerutu. Mungkin karena faktor hamil. Lisa jadi lebih cengeng dari biasanya.
"Ti-tidak tahu!" decak Lisa tergugu.
Farhan menarik bagian tubuh istrinya hingga melekat di antara himpitan tangan yang melingkar erat.
Melihat Lisa yang terus menangis sesenggukan, membuat pria itu tidak tega dan mengusap-usap punggung belakang Lisa sedikit iba.
Seberkas penyesalan melintas di benak Farhan. Ibu muda yang tengah hamil sekitar empat bulan itu pasti tertekan sekali mendapat perlakuan seperti tadi. Emosi Farhan benar-benar lepas kontrol. Sampai ia lupa bahwa wanita yang ada di pelukannya tengah hamil muda.
"Maaf! Aku memang tidak dapat mengontrol emosiku jika dalam keadaan seperti tadi. Kamu tahu sendiri watakku sudah terlahir seperti ini dari dulu."
Lisa mengangguk paham. "Iya, aku juga minta maaf, kamu begitu karena aku yang memulai," Lisa melirih dengan mata menunduk menatapi alas kakinya sendiri. Jari-jarinya masih berada di bawah sana, meremas dress berwarna putih tulang yang ia kenakan.
Farhan menyentuh dagu wanita itu dengan ibu jarinya. Lantas melayangkan satu kecupan lembut di bibir wanita itu. Hanya sekilas, tapi cukup menyumpal air mata yang sejak tadi mengalir tak mau berhenti.
"Masih sayang aku, 'kan?"
Lisa mengangguk polos. "Sayang banget ...." lirihnya tercekat.
"Masih cinta?"
"Iya. Masih! Itu pasti!"
Satu kecupan melayang lagi. Kini di pipi kiri. "Mau janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi?"
"Iya, Janji ...," lirih Lisa nyaris tak membuka suaranya karena malu.
Ciuman ketiga jatuh pada pipi kanan. "Kamu harus ingat, ada Farhan kecil di dalam sini, sebentar lagi dia akan berjuang untuk bertemu ayah dan bundanya. Kamu juga harus berjuang mempertahankan cinta kita."
Kalimat itu terdengar sangat indah di telinga Lisa. Farhan yang tidak pernah hidup romantis, hari itu mengungkapkan potongan kata yang sangat manis.
Lisa sampai terheran-heran. Bisa-bisanya pria itu bersikap imut setelah marah dan mengamuk?
Di tengah-tengah lamunan, Farhan mencubit pipi Lisa hingga memekik. "Ayo keluar, anak-anak sudah menunggu di ruang teve. Mereka pasti sedang panik dan cemas sekarang! Siapkan mental, mereka akan jadi tim investigas yang akan mengintrogasi!"
Tangan Farhan mengusap air mata Lisa yang mulia mengering. Benar sekali dugaannya, setelah ia menurunkan ego dan menuangkan sedikit perhatian, tangis Lisa mulai mereda. Menandakan wanita itu butuh kasih sayang dan perhatian kecil seperti tadi.
Farhan dan Lisa berjalan ke ruang teve secara beriringan setelah Lisa mencuci muka.
"Diantar supir," jawab keduanya kompak.
"Nenek ke mana?"
"Di rumah nenek lagi ada arisan! Karena berisik dan banyak ibu-ibu ngobrol, jadi aku sama Cilla minta dianterin ke sini aja sama supir. Nenek lagi sibuk ngurusin temen-temennya."
"Yah!" panggil Cello saat Lisa dan Farhan baru saja duduk. "Ayah sama bunda kenapa berantem?"
Seperti dugaan, mereka berdua mulai mengintrogasi. Tatapannya menjurus tajam ke arah Farhan dan Lisa. Menunggu penjelasan atas apa yang mereka lihat dan mereka dengar tadi.
Farhan memilih jawaban termudah yang melintas di otaknya. "Masalah dewasa, anak kecil tidak boleh tahu!"
Membuat Cello mengernyit. Bibir Cilla juga cemberut. Mata keduanya memandang tidak suka.
"Tapi orang dewasa juga suka ikut campur urusan anak kecil! Kenapa kita nggak boleh tahu urusan orang dewasa? Kata ayah segala sesuatu harus seimbang biar adil. Kok ayah gitu? Awas aja, aku gak mau cerita ke ayah sama bunda tentang malika lagi," ancam Cello kesal.
"Iya, Cilla juga nggak mau cerita tentang Evan ke ayah sama bunda! Malesin!"
Eh?
Lisa dan Farhan dibuat ternganga tidak percaya.
Bagaimana ini?
***
Otw acara Sunatan Cello
Yang kangen, Skala Bianca
Yang kangen Bryan Shea
Yang kangen Felix Chika
Yang kangen Zian Naya.
Mereka semua akan datang mengiringi manis-manisnya acara, semoga bisa mengobati kerinduan. Tunggu keseruannya ya.
Bismillah ....