
"Aku tidak nyaman begini." Lisa memutar tubuhnya ke sana-kemari. Meskipun pampers itu ukuran jumbo, tapi tetap saja ketat saat dipakai oleh orang dewasa. Dan terlalu banyak ruang kosong di dalamnya. Membuat bongkahan Lisa terlihat mengembang seperti bayi semok lainnya.
"Jangan cerewet. Besok beli sendiri."
Hujan disertai petir membuat Farhan malas jika harus basah dua kali. Apalagi hanya untuk sebuah pembalut. Benda menjijikan yang paling dihindari kaum pria.
"Harusnya tadi ambil saja, atau tunggu temen Anda pergi dulu dong, Tuan." Lisa berujar sebal. Ikut bergabung dan tidur di samping Farhan.
"Tidak kepikiran," jawab pria itu ketus.
Lisa meraih guling di belakang kepala, lantas menghadap Farhan dengan bola mata yang masih berputar-putar sebal. "Memangnya temanmu itu segila apa? Sampai membuatmu lebih memilih pampers daripada pembalut."
"Dia teman kuliahku dulu," jawab Farhan.
"Aku pikir Anda tidak punya teman," Lisa mengejek sinis.
"Punya, hanya dua orang."
Sudah Lisa duga. Siapapun orang yang mau berteman dengan Farhan pasti anehnya sama seperti dia. Ngomong-ngomong Lisa penasaran seperi apa masa muda Farhan. Secara kuliah adalah masa-masa menyenangkan. Maka Lisa memberanikan diri untuk bertanya,
"Dulu masa kuliahmu seperti apa, Tuan? Aku penasaran, apakah banyak wanita yang menggemari Anda? Secara wajah Anda sangat tampan, kan?"
"Wanita yang menyukaiku akan takut dan kabur dengan sendirinya."
"Astaga!" Lisa menggelengkan kepala. Sungguh cerita yang mengharukan. "Kenapa mereka kabur?"
"Karena Bryan," ujar pria itu.
"Oh, teman yang tadi bertemu dengan Anda itu 'kan?"
"Hmmm."
Farhan berdeham malas. Membuat Lisa yang penasaran semakin dibuat kesal. Bercerita dengan si gunung es tak selancar yang dia bayangkan. Berbelit-belit dan sedikit omong. Harus selalu dipancing agar mulutnya mau terbuka.
"Memangnya Brayn kenapa?" tanya Lisa.
"Ceritanya panjang. Aku malas bercerita." Farhan menutupi matanya dengan lengan. buru-buru ditarik oleh Lisa sebelum pria itu selesai bercerita. Lisa yakin, pasti ada sesuatu yang menarik di balik kisah Farhan dan Bryan.
"Ayolah ... Anda selalu saja tidak jadi kalau disuruh cerita," protesnya kesal.
Akhirnya Farhan membuka mata lebar-lebar. Menghembuskan napas untuk bersiap-siap menceritakan aib di masa lalunya.
"Dulu aku dan Bryan adalah teman dekat. Kami dijuluki sejojo," ujar Farhan.
"Apa itu sejojo?"
"Sejoli jomlo."
"Hahaha." Lisa tergelak kencang, baru awalan saja sudah menarik.
"Terus Tuan, cerita lagi." Lisa semakin antusias.
"Kita berdua sangat berambisi mendapatkan nilai bagus meski dia baru S1 dan aku S2. Sampai orang menganggap kita adalah pasangan homo abadi karena sering keperpustakaan bareng. Tapi, pada suatu hari Bryan menyukai seorang gadis bernama Helena, dan gadis itu menolak Bryan dengan alasan yang memalukan."
"Alasan apa?" Mata Lisa tak berkedip. Sangat menanti cerita selanjutnya.
"Karena tampang Bryan sangat polos dan diduga tidak pandai di ranjang."
"Ck. Ceritamu sangat menarik ... terus ceritakan lagi."
"Hubunganku dan Bryan sedikit renggang karena Helena berkata lebih menyukaiku. Dia bilang, badanku bagus dan aku pasti jago di atas ranjang."
Pufftt. Lisa tak bisa lagi menahan tawanya. Ingin rasanya ia bercerita pada Helena bahwa Farhan sangat payah. Bahkan Lisa ingin menangis darah kalau mengingat kepayahan pria itu.
"Jangan tertawa, dulu aku memiliki badan yang bagus karena usaha dari papi angkatku tuan Haris. Beliau tidak hanya mengajariku masalah otak. Untuk mendapatkan pertahan diri, tuan Haris juga mendatangankan salah satu ketua geng mafia bawah untuk melatih fisikku secara keras. Karena semakin besar namaku nanti, maka akan semakin banyak orang yang berniat menjatuhkanku. Jadi, tuan Haris menyuruh kenalanya Kak Zian untuk membantuku mengatur strategi pertahanan melalui fisik."
Lisa melongo takjub. Ternyata wawasan seorang Farhan seluas itu. Sampai dilatih oleh ketua geng mafia segala.
"Wah, ngeri sekali kenalanmu itu, Tuan. Lalu, apa yang terjadi dengan hubungan Anda dengan Bryan, Tuan?"
"Hubungan kami baik-baik saja."
"Kok begitu?" Sumpah, Lisa mulai mendapati sesuatu yang berbeda di antara Bryan dan Farhan.
"Helena tidak jadi menyukaiku karena teman kami Felix menyebarkan gosip aneh tentangku ke seluruh penjuru kampus."
"Gosip apa, Tuan?"
"Felix menyebarkan rumor gila, tentang aku yang memili kelaamin ganda."
"A-apa, Tuan?" Lisa langsung tergelak sambil memukul-mukul bantal guling yang ada di depannya. "Masa lalu Anda begitu lucu, aku tidak kuat. Jadi itu yang membuat perempuan kabur?"
"Hmmm." Farhan hanya berdeham malas. Kesal melihat Lisa yang tidak berhenti tertawa.
"Tidak. Aku malah bersyukur dan berterima kasih padanya."
"Hah?"
Lisa tercengang. "Bagaimana bisa? Anda difitnah memiliki kelaamin ganda malah berterima kasih? Tidak masuk akal." Sambil menggelengkan kepala tidak percaya.
Bukan Farhan namanya kalau tidak aneh. Dan dia menjawab,
"Karena aku dan Bryan bisa fokus kembali dengan tujuan kita. Yaitu mendapatkan nilai terbaik tanpa ada masalah wanita di antara kami. Tapi Bryan jadi suka main wanita setelah lulus, untuk membuktikan penghinaan Helena."
"Jadi hanya Anda sendiri yang bertahan menjadi jomlo abadi?"
"Iya."
"Kalian berdua seumuran?"
"Tidak. Bryan dan Felix tujuh tahun lebih muda dariku. Kita berteman saat aku melanjutkan S2 ku di jurusan yang sama dengan mereka."
"Oh. Begitu...."
"Iya. Sudahlah, aku lelah mendongeng!" gerutu Farhan kesal. "Sekarang aku juga sudah menikah denganmu. Bisakah kau menghilangkan predikat jomlo itu?"
"Tapi kau tidak mencintaiku?"
Farhan tertegun menelan saliva. Memang ia tidak cinta, lalu kenapa? Begitulah isi pikiran Farhan.
"Apa menikah tanpa cinta bisa disebut sebagai pernikahan?" Lisa bertanya sekali lagi. Membuat lamunan Farhan buyar seketika.
"Aku tidak tahu," jawab Farhan. "Aku juga tidak paham dengan cinta," lanjutnya.
"Jika Anda berdebar-debar saat berada di dekat wanita yang Anda cintai, itu artinya Anda memiliki perasaan pada wanita tersebut." Lisa menjelaskan pada si oon Farhan.
"Begitukah? Jantungku juga berdebar saat melihatmu tidak mengenakan busana."
"Ya ampun!" Lisa menepuk jidatnya kesal. Rasanya ingin menggigit jari Farhan sampai putus. "Itu beda lagi, Tuan. Kalau yang seperti itu namanya berdebar karena nafsu. Semua laki-laki juga akan seperti itu," imbuh Lisa menggerutu.
"Lalu yang seperti apa?"
"Yang begini." Lisa mendekatkan dirinya. Mengikis jarak di antara mereka berdua. Gemali sayup napas Farhan terdengar halus, hingga akhirnya Lisa menjatuhkan sebuah kecupan hangat di atas bibir lunak Farhan. Mempermainkannya dengan lembut, bemburu, manis dibumbui kedua tangan Lisa yang semakin melingkar erat di pundak Farhan.
"Bagaimana?" Lisa melepas ciumannya."Apakah Anda merasakan sesuatu yang aneh, seperti getar-getar rasa cinta atau hal yang sulit untuk di utarakan?" tanya Lisa antusias.
"Ya, aku merasakan!"
"Apa?" Lisa sangat antusias
"Adikku di bawah sana menangis dan memberontak."
Ketika kejujuran membawa petaka. Kali ini Lisa menggigit jari Farhan kuat-kuat.
"Dasar suami bodoh," decaknya sambil menggigit jari yang satunya lagi.
"Beraninya kau bersikap lancang padaku?"
"Bodo ... bodo amat! Aku tidak peduli!" Lisa terus memukul-mukul Farhan. Frustasinya sudah di level akut. Ia tak dapat menahan lagi kemarahannya.
"Belajarlah membedakan antara cinta dan nafsu, agar kau tidak menjadi suami yang seperti patung."
Lisa terus memukul Farhan.
"Aku akan menjadi ibu untuk si kembar selamanya. Jika kau seperti ini terus, bagaimana aku bisa kuat menikah denganmu?"
Lisa meluapkan emosinya sekali lagi.
"Aku mengatakan hal yang jujur. Apa itu salah?"
Farhan menangkap tangan Lisa yang terus meronta seperti cacing di taburi garam. Sampai tiba-tiba terdengar suara robek yang cukup keras.
"Ya ampun, pempersku!"
Sialan!
Lisa segera berlari ke kamar mandi. Meninggalkan Farhan si suami bodohnya.
***
Buat yang penasaran sama kisah bucin dan kocak Bryan-Shea, cek aja novel My Baby Ceo karya Myafa, hanya di NT/MT.
Terima kasih.