HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Pacaran Setelah Menikah



Kembali lagi pada pasangan yang sedang dibutakan asmara cinta. Mereka berdua memakai baju couple bertuliskan 'I LOVE JOGJA' yang Lisa beli di pasar legendaris, Beringharjo.


Katanya, konsep bulan madu yang diatur Lisa mengusung tema pacaran setelah menikah. Dengan minimnya pengetahuan, Farhan mengikuti petunjuk Lisa yang ingin melakukan kencan versi kearifan lokal.


Ah ya, kini keduanya sedang jalan-jalan di dekat kawasan Malioboro. Berbaur bersama anak muda yang memburu waktu malam Minggu dengan kekasih tercintanya.


Suasana malam itu terasa hangat. Ada banyak jenis manusia di sana. Dari pemuda, tua, hingga anak kecil yang sengaja diajak jalan-jalan oleh kedua orang tua.


Farhan sendiri merasa kikuk berada di tempat seramai itu. Ia insecure melihat pasangan-pasangan muda yang mencolok penglihatan mata, sedangan Farhan lebih mirip om-om yang sedang jalan bersama gadis muda. Karena Lisa dan Farhan tidak mirip suami istri saat sedang di luar rumah.


"Apakah gaya orang pacaran seperti ini? Membosankan sekali." Perjalanan jauh tanpa arah tujuan pasti membuat Farhan menggerutu dengan hati setengah dongkol. "Sebenarnya kamu mau ke mana?" tanya Farhan pada Lisa yang sibuk memegang peta mini di tangannya.


"Tentu saja jalan-jalan, Sayang. Sebentar lagi kita sampai tujuan, kok."


"Ini sudah ke tujuh kalinya kamu bilang 'sebentar lagi'. Jika tidak ada arah tujuan yang jelas, lebih baik kita kembali saja ke hotel," keluh Farhan sambil mendengkus, tangannya menyibak poni rambut yang diterpa angin. Kasar saat melakukannya.


Lisa mengelus punggung Farhan agar berhenti marah-marah. "Sayang! Jangan pikun." Matanya sedikit melotot dengan sorot penuh penekanan. Ia mengingatkan Farhan jika pria itu lupa. "Waktu tiga hari adalah milikku. Kamu cukup menjadi ajudan setia yang menemani istrinya ke mana pun dia pergi."


"Cih! Tapi ini sama sekali tidak mirip dengan konsep bulan madu."


"Memangnya kamu sudah pernah bulan madu sebelumnya?" serang Lisa dengan nada mengejek. "Ini yang dinamanya konsep bulan madu ala Monalisa. Tuan Farhan yang budiman cukup menikmati."


Menikmati kepalamu, batin Farhan jengkel.


Bulan madu di mata Farhan tidak sama dengan konsep yang diatur Lisa. Bagaimana pun juga ia memiliki pikiran sama dengan pria normal yang mempunyai sejuta otak kotor.


Berduaan di dalam kamar selama tiga hari, lalu membuat bayi dengan berbagai rasa dan variasi. Ialah hal yang Farhan harapan. Jangan lupa tambahkan toping agar rasanya semakin sedah.


Huuh, sialnya ia malah terombang-ambing seperti orang gila—menjadi pengawal Lisa yang hobi melakukan kegiatan aneh-aneh. Kalau begini caranya ... bagaimana Farhan junior dan mini barbar akan terbentuk, jika pabriknya saja tidak pernah peka?


Lisa melingkarkan kedua tangannya di pundak Farhan bangga. "Yeey, akhirnya sampai juga!" Kini mereka memasuki pusat perbelanjaan di Malioboro. Mereka mulai berjalan ke sana ke mari tanpa ada yang Lisa beli. Hal itu membuat Farhan marah lagi.


"Aku tidang ingin beli apa-apa, Mas. Cuma mau jalan-jalan. Gak beli pun aku sudah puas," jawab Lisa tanpa dosa.


"Apa kamu gila? Untuk apa kita ke pusat perbelanjaan jika tidak ada yang ingin dibeli? Menggelikan!" Farhan sudah melipat kedua tangannya di depan dada. "Cepat beli atau kau kumutilasi!"


Pria itu melempar aura dingin. Ia tidak senang melihat istrinya terlalu irit, padahal sedari tadi Lisa mengambil dan meletakkan aneka barang yang ia jumpai. Pertanda wanita itu berminat, tapi entah mengapa tak ada satupun barang yang Lisa ambil. Hal itu makin memicu kemurkaan seorang Farhan.


"Ah, apa kamu sedang balas dendam padaku?" Farhan menyergah buta.


"Balas dendam apa si, Mas?" Lisa yang tidak paham mengernyitkan dahinya sambil mengedikkan bahu. Bahkan ia tidak bisa menebak arah bicara Farhan ke mana.


"Kau pasti ingin mempermalukan suamimu di tempat ini, bukan? Dari tadi kau hanya putar-putar tidak jelas, menghampiri semua pedagang tanpa ada satu pun barang yang kau beli. Apa kau sedang pamer pada semua orang? Bahwa suamimu orang pelit yang tidak mampu membelikan apapun untukmu! Ah, jangan-jangan kau sengaja melakukan semua itu agar orang lain ikut berpikir aku adalah suami kejam. Tidak membolehkan istrinya belanja."


Seketika Lisa menepuk jidatnya. Ekspresi wanita itu terperangah mendengar suara hati Farhan yang tidak pernah ia sangka. "Wanita memang seperti ini Mas, melihat barang bukan berarti kita ingin memiliki. Bisa jadi kita hanya iseng dan penasaran. Aku sudah besar, kalau aku ingin sesuatu, aku pasti beli kok."


"Benarkah begitu?" tanya Farhan setengah jengah. Mukanya merah, memancarkan kilatan-kilatan yang hanya bisa dimengerti oleh Lisa seorang. Sekali lagi ia merasa awam dengan isi pikiran wanita yang tidak masuk ke dalam logikanya.


"Benar, Sayang.Sebenarnya ada satu tempat yang ingin aku kunjungi sih, tapi aku takut kamu tidak mau. Makannya aku gabut dari tadi."


Farhan mendesah untuk kesekian kali. "Kamu sendiri yang bilang bahwa semua acara diatur olehmu, untuk apa takut aku tidakak mau?" balas Farhan setengah sinis.


"Berarti kamu mau, nih?"


"Hmmm." Pria itu berdeham. Lisa langsung kegirangan sambil menggandeng tangan suaminya kembali.


Tanpa rasa curiga, Farhan menerima ajakan Lisa.


***


Lisa mau ngajak ke mana nih?🤣