
Beberapa menit berlalu, Rico berhasil lolos dari segala persitegangan di antara dia dengan tuan Farhan hingga dapat melanjutkan niat selanjutnya. Pria itu mulai membuka amplop cokelat yang ia bawa tadi, lalu mengulurkan semua data itu ke hadapan Farhan.
"Namanya Alex, dia sangat pintar dan memiliki intelektual yang tinggi. Dia bukan hanya mampu menggantikan saya menjadi asisten Anda, tapi saya yakin bahwa Alex bisa membawa Revical Grup jauh lebih baik lagi ke depannya. Darah milenial yang terkandung dalam tubuhnya menyiratkan itu semua. Prestasinya diperusahaan sangat bagus dan bisa diandalkan, Tuan." Layaknya sales panci, Rico menjelaskan semua kehebatan Alex di depan Farhan agar pria itu tergiur. Namun nyatanya Farhan bergeming tanpa komentar.
(Intro: Inget gak waktu Siska dinodai oleh bibir Cello sampai Alex gak terima? Waktu itu Reyno pernah janjiin Alex kerja di tempat orang tuanya 'kan? Inilah jadinya.)
Melirik ekspresi Farhan yang diam, Rico melanjutkan bicaranya kembali. "Alex adalah kariyawan yang diutus langsung oleh mendiang tuan muda Reyno. Selama ini dia bekerja di kantor pusat sebagai manager umur. Sebelum saya sudah mengetes kelayakan anak itu, meskipun masih melanjutkan S2, tapi pekerjaannya sangat bagus," ujar Rico.
Sebenarnya yang membimbing Alex adalah Lolita, sosok sahabat sekaligus teman bisnis Rico yang selama ini diam-diam membantunya. Wanita itu adalah gadis yang pernah kepergok oleh Farhan saat Rico tengah jalan berdua di Bandung. Di mana Rico mengelak saat di tanya Farhan. Karena ia memang sengaja melakukan beberapa pertemuan rahasia dengan Lolita khusus untuk melihat perkembangan Alex.
Rico membuka lembar demi lembar tentang prestasi yang Alex raih. " Tuan bisa lihat sendiri. Di usianya yang ke 24 tahun, Alex sudah memiliki prestasi sebanyak ini. Ia juga—"
"Hentikan!" Farhan memotong penjelasan Rico berikutnya. "Aku tidak butuh asisten baru, pergilah jika kau memang ingin pergi." Farhan bicara tanpa sudi melihat ke arah Rico. Nada suara getir bercampur angkuh itu membuat hati Rico merasa teriris-iris, miris.
Kalimatnya itu terlalu menyakitkan sampai Rico frustasi dengan sikap bossnya. Sakitnya tetap ada walau ia sendiri tahu bahwa apa yang Farhan ucapkan tidak serius.
Rico mencoba meningkatkan kesabarannya lebih tinggi lagi. Ia segera merapikan segala berkas yang ada di atas meja sebelum disobek-sobek Farhan. "Ini adalah usaha terakhir saya, Tuan. Saya harap Anda mengerti keputusanku."
Merasa kesal, Farhan kembali berujar, "Bagaimana dengan janjimu?" Lagi-lagi Farhan menyergah dengan masa lalu mereka berdua. Layaknya wanita yang tak mau diputuskan, Farhan menagih sesuatu yang telah Rico ucapkan.
"Aku sangat membenci orang yang suka ingkar janji Rico, bukankah kau tahu itu?" Farhan kembali meledak-ledak. Wajahnya yang tegas menyiratkan kecewa yang amat dalam. Dia bergeming sejenak, menunggu jawaban Rico berikutnya.
Lantas, Rico menjawab dengan segala kepasrahannya jika itu sudah menjadi keinginan Farhan. "Bencilah saya sesuka hati Anda, Tuan. Asalkan Anda merelakan saya pergi, itu tidak jadi masalah," balas Rico putus asa.
"Apa aku harus berlutut di hadapanmu agar kau tetap tinggal?" Jiwa lelah itu membawa Farhan pada titik terlemah. Seperti anak yang kehilangan sosok ibu, itulah yang Farhan rasakan saat ini.
"Tuan, mengertilah untuk kali ini saja. Saya sedang melakukan yang terbaik untuk Anda. Mungkin saya tidak dapat memberitahu alasan tepatnya, tapi ini adalah untuk kebaikan kita bersama."
"Dengan cara pergi dariku?" Lemah Farhan bicara. Matanya mulai memerah, mengumpulkan partikel-partikel air yang ingin segera menumpah.
"Mati saja!" gertak Farhan sambil meninggikan intonasi. "Daripada kau kembali pada perusahaan ayahmu, lebih baik kau mati Rico. Setidaknya itu lebih terhomat dibandingkan kembali pada ayah gila yang tega membuang putra dan istrinya."
Ucapan Farhan membuat emosi Rico tersulut. Diambilnya pistol yang selama ini bertahta di baju bagian dalam secepat kilat. "Apa seperti ini?"
Gila, mungkin satu kata itu layak tersematkan untuk sikap Rico yang sudah tak menemui jalan lagi.
Pistol itu sudah mengarah pada jantung bagian kirinya. Hanya butuh satu kali tekan, maka nyawanya akan melayang.
"Lakukanlah jika kau berani. Memang mati jauh lebih baik daripada tunduk di bawah kali iblis berkedok ayah," saran Farhan dengan wajah sinis. Berharap Rico akan goyah dengan tekad gilanya.
Untuk terakhir kalinya Rico memandang Farhan dengan garang."Kau pikir aku tidak berani, Tuan?"
Ucapan Farhan membuat Rico tertantang, ia berbicara lantang. Di saat pilihan hidup terasa sulit, mungkin mati adalah jalan terbaik sesuai anjuran Farhan. Maka ia menekan pistol itu lebih dalam, hingga membuat mata Farhan membola tidak percaya.
Duarrr!
Beruntung Farhan masih sempat menepis hingga peluru itu hanya mengenai bahu kiri. Rico tersenyum getir karena berhasil menembakkan pistol itu ke tubuhnya.
"Kau gila!" Farhan membentak Rico dengan suara yang menggelegar. Jantungnya terpacu hebat saat darah segar mengalir deras dari tubuh Rico.
Mata Rico terpejam sejenak, ia sengaja tidak menahan lukanya agar darah itu mengalir sampai habis. "Ya, aku memang sudah gila karena memutuskan untuk kembali padanya. Sesuai yang kau mau, Farhan! Mati jauh lebih baik daripada tunduk di bawah kaki iblis berkedok ayah."
Tak lama kemudian, satpam dan bodyguard datang ke ruangan mereka. Farhan langsung diamankan karena semuanya berpikir bahwa pria itu yang telah membunuh Rico.
***
Memasuki plot twist/ misteri ya, guys. Jangan lupa kasih kembang banyak biar ranknya naik. 😓