
"Aku yakin si kembar aman bersama kalian. Iya kan, Je?" Pria itu menoleh pada istrinya dengan ulasan senyum bahagia.
Jennie mengangguk sambil menatap kakaknya lekat-lekat. "Justru kami lebih mengkhawatirkan kehidupan Kakak daripada mereka. Kami tahu dua bocah itu sangat kuat .... Tapi kakak?" Wanita itu menjeda ucapannya sejenak. Menatap Farhan lebih dekat hingga pandangan mereka saling mengunci satu sama lain. "Gara-gara kecelakaan pesawat yang menimpa kami, Kakak jadi sering mengalami sindrome aneh. Kakau tidak bisa lepas dan terus menyalahkan diri kakak atas sesuatu yang tidak seharusnya menjadi tanggung jawab kakak. Ayolah, semua sudah mendapatkan takdirnya masing-masing. Dengan keadaan Kakak yang seperti ini, apa Kakak pikir kami tidak khawatir?"
Reyno menyergah lagi, "Mulai sekarang, berjanjilah pada kami, hiduplah dengan tenang tanpa menyalahkan diri sendiri atas kematian orang lain. Yakinlah, kami ada bersama kalian walau alam kita sudah berbeda. Berbahagialah sampai suatu Tuhan mempertemukan kita suatu saat nanti."
"Satu hal lagi. Tolong jaga sahabatku baik-baik. Meskipun karakternya terlihat kuat dan tangguh. Dia adalah wanita berhati lemah, lebih parah dari adikmu." Kalimat terakhir yang Farhan terima dari Jennie sontak membuat pria itu menohok. Matanya mengerjap-ngerjap, dan terbuka perlahan.
"Masssss ... akhirnya kamu sadar juga." Titian air mata Lisa jatuh mengenai lengan Farhan. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Di mana aku ... mana Jennie dan Reyno?"
"Apa yang kamu tanyain, Mas?" Tubuh Lisa gemetaran mendengar dua nama itu di sebut. Mereka tidak akan mengajak Farhan pergi, 'kan? Lisa sungguh tidak sanggup jika hal itu sampai terjadi.
Dari arah sofa, bunda berjalan pelan menghampiri Farhan yang tengah berbaring lemah. "Kamu ada di rumah sakit, Farhan. Tadi Sekretaris Alex mengabari kami karena kamu pingsan setelah mengamuk di kantor. Katanya gangguan PTSD-mu kumat lagi gara-gara melihat adegan kecelakan beruntun."
Farhan terdiam kaku. Apakah sudah saatnya aku melupakan kenangan tragis itu?
Pria itu menoleh pada bunda saat beliau bicara.
"Berobatlah di Amerika. Tuan haris sudah menyiapkan semuanya untuk empat bulan ke depan selama kamu menyembuhkan diri. Alex juga bersedia menggantikan pekerjaanmu di sini untuk sementara. Apalagi Lisa, dia sangat berharap kamu sembuh."
Kalimat yang bunda ucapan membuat Farhan menggeleng hebat penuh penolakkan. "Tidak! Mana mungkin aku bisa pergi di saat keadaan seperti ini. Bunda 'kan tahu kalau kandungan Lisa sudah menginjak usia lima bulan. Jika aku di sana empat bulan, aku tidak bisa menemani tumbuh kembang janin yang ada di perutnya. Ayah macam apa aku?"
Detik itu juga Farhan memperhatikan tubuh Lisa lebih rinci. Pria itu baru sadar bahwa sedari tadi Lisa sedang duduk di kursi roda dengan selang infus yang menempel di samping kursinya. Otaknya masih syok dengan mimpi tadi, jadi sampai tidak sadar bahwa istrinya juga dalam keadaan tidak baik.
Bunda berkata lagi, "Dia bisa droup begitu karena memikirkan kondisimu! Jika kamu tidak segera berobat lebih serius lagi, artinya kamu tidak sayang anak istri."
Bola mata Farhan masih menatap Lisa lekat-lekat seolah mengabaikan peringatan bunda. Apa ini karakter lemah yang Jennie bicarakan dalam mimpi? Dia begitu terlihat rapuh melihat keadaanku yang seperti ini.
Digenggamnya tangan kecil itu. Lisa masih terisak-isak sambil menundukkan kepalanya ke arah bawah tanpa mau melihat wajah Farhan. Pria itu pun melirih, "Apa benar yang bunda katakan? Kamu setuju aku pergi ke Amerika?
Lisa langsung mendongak saat itu juga. "Iya. Demi kepentingan bersama aku pasti setuju." Bibir Lisa terasa berat saat mengucapkan kalimat itu. Tapi dia harus kuat demi kesembuhan Farhan.
Dan Lisa pun bicara kembali, "Kita masih bisa berkomunikasi lewat video online. Bunda dan lainnya juga akan menjagaku. Mas Farhan tenang saja, berusahalah untuk sembuh demi calon anak kita." Sambil mengusap air matanya, Lisa berusaha menenangkan dan menghilangkan kekhawatiran yang terlukis di wajah Farhan sebisa mungkin.
Pada akhirnya Farhan pun mengangguk pasrah. "Baiklah. Aku akan menuruti keinginan kalian setelah memastikan Lisa keluar dari rumah sakit. Tolong tunggu dan doakan kesembuhanku." Farhan mencoba bangkit dari posisinya. Ia ingin memeluk sang istri sebelum dipisahkan selama empat bulan.
"Pasti Mas!" Lisa merangkul Farhan dengan keterbatasannya karena terhalang skat ranjang pembaringan. "Ingat. Aku tidak ingin kamu berada di posisi seperti ini lagi selama aku pergi. Camkan itu!" Satu tepukkan halus mendarat di kepala. Mengandung jejak kepedihan yang amat dalam karena Farhan baru tahu serapuh apa hati wanita yang selama ini terlihat kuat di depan matanya.
***
Kasih vote bunga dan kopi yang banyak dong. Biar aku bisa up tiap hari. hehee.