
Hari-hari berjalan semakin parah. Farhan selalu membelikan makanan dan barang-barang aneh yang membuat kepala Lisa nyaris pecah belah. Dia bilang, itu adalah bentuk kesiagaannya sebagai suami yang baik hati. Padahal Lisa sama sekali tidak menginginkan apapun. Jika Lisa berani menolak, Farhan akan menatapnya dengan binar mata putus asa dan wajah muram kecewa. Di mana Lisa akhirnya luluh dan menuruti apapun kemauan pria itu. Ah, pokoknya semua mendadak jungkir balik. Lisa selalu menjadi pihak yang tidak tahan ketika melihat suaminya berubah sedih hanya karena kemauannya tidak terlaksanakan.
Heuh.
Begitulah Farhan terus memaksa Lisa menuruti keinginannya dengan dalil untuk calon si buah hati. Di hidup Farhah yang sekarang memang tak ada hari tanpa memaksa Lisa memakan atau memakai barang-barang aneh. Yang kata Farhan sendiri cocok untuk ibu hamil. Seperti hari ini, rasanya Lisa ingin teriak dan menangis melihat Farhan memakaikan sepatu yang ada lampunya di kaki wanita itu.
"Sangat sempurna." Farhan memuji penampilan Lisa dengan bangganya. Tangannya tertaut di depan muka sambil memandangi sepatu warna merah muda yang membalut kaki wanita itu. Lisa kesal hanya bisa mendesah lemah sebagi bentuk pasrah, tapi suara hatinya meronta dan terus menjerit-jerit,
Dari ribuan ibu hamil di dunia, kenapa harus aku yang mengalami semua ini, si?
Jadi, memaksa Lisa menginginkan sesuatu adalah bentuk nyidam yang dijatuh pada Farhan dari sekian banyaknya suami di luar sana. Hebatnya, sang wanita sama sekali tidak merasakan tanda-tanda wanita yang tengah hamil muda. Hidupnya berjalan selayaknya wanita normal. Tidak menginginkan hal-hal aneh yang biasa disebut orang lain sebagai istilah nyidam.
"Tunggu dulu di sini , aku mau ambil sepatu ke ruang ganti, setelah itu kita bisa langsung olahraga pagi." Farhan bangkit dari posisi jongkok. Lantas menaiki anak tangga menuju kamar utama.
Sepeninggalannya Farhan, bunda datang dari arah dapur membawa segelas minuman hangat. Kebetulan beliau sedang menginap untuk melihat keadaan Lisa. "Sebelum olahraga minum hangat dulu ya. Ingat, jam sembilan kalian harus sudah pulang, nanti kalau si kembar ngamuk, bunda nggak mau tanggung," ujar wanita paruh baya itu sambil melangkahkan kakinya santai menuju tempat Lisa duduk.
"Iya Bundaaaaaa, tapi aku udah gak kuat ngadepin kelakuan putra kesayangan Bunda!" Lisa merengek dengan nada yang dibuat mengiba.
"Sabar! Bunda 'kan sudah bilang kalau suamimu sedang ngidam. Biarkan dia melakukan apapun yang diinginkanyan."
"Termasuk ini?" Lisa menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Membuat Bunda tertawa saat melihat sepatu yang melekat di kakinya.
"Itu bagus untukmu. Keliatan unik dan lucu." Bunda masih terus tertawa geli sampai cangkir yang dipegangnya gemetaran. Lalu beliau ulurkan minuman itu pada Lisa sebelum tumpah mengenai tangan.
Lisa menerima minuman pemberian bunda. Bibirnya masih terus mengerucut dengan mata berputar, sebal. "Lucu apanya, yang ada aku malu, Bun."
"Bisa jadi anak kalian perempuan," tebak Bunda.
Farhan yang sedang menuruni anak tangga ikut menyergah, "Tahu dari mana kalau anakku perempuan?"
Pria itu memasang wajah sensi.
Bunda menoleh dengan setengah tertawa. "Hanya iseng menebak. Soalnya nyidammu sangat aneh, Al. Kata Lisa akhir-akhir ini kamu hobi membelikan barang unyu-unyu untuknya 'kan?"
"Aku membeli karena memang dia pantas memakainya. Siapa yang peduli anakku perempuan atau laki-laki! Yang penting itu adalah anakku." Farhan berbicara dengan nada datar. Karakternya yang cuek masih belum sepenuhnya hilang. Kadang malah ia memberikan perhatian pada Lisa dengan cara membentak.
Suara bel yang tiba-tiba berbunyi, membuat pria itu menoleh. "Itu pasti Alex, tunggu dulu di sini." Farhan bergegas pergi membukakan pintu. Meninggalkan bunda dan Lisa yang masih terbengong-bengong di ruang keluarga.
"Jangan pernah membicarakan jenis kelamin pada suamiku, Bund. Dia sangat sensi jika ada pembahasan seperti itu, katanya tidak menghargai pemberian Tuhan."
Dahi bunda berkerut dalam. "Benarkah, sepertinya anak bunda yang satu itu banyak berubah ya semenjak kamu hamil?."
Lisa mengedikkan setengah bahunya dengan mata memicing. "Entahlah, sudah Lisa bilang 'kan kalau mas-mas yang satu itu makin hari tambah aneh," ucap Lisa setengah berbisik, lalu menyesap teh jahe buatan bunda yang sedari tadi hanya dia pegang-pegang saja.
***
Kasih komen dan like yang banyak donk. Biar mangat nulisnya 🙏