HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bertemu Mister Tong Jay



Tak menyangka, klinik yang Lisa pikir adalah tempat sederhana adalah pondok mewah dengan ratusan pegawai profesional di dalamnya. Farhan dan Lisa disambut dengan tingkat kesopanan maksimal meski mereka belum menentukan level pelayanan mana yang mereka pilih. Pantas saja reviuw di internet bagus semua, ternyata inilah rahasianya.


Mereka mengutaman sopan santun, ramah tamah, dan tidak membedakan antar pengunjung satu dan yang lain.


"Kami ingin konsultasi langsung dengan mister Tong Jay," ucap Lisa pada resepsionis yang membantu mengurus administrasi.


"Baik Nona," jawab petugas resepsionis. Di mana penampilannya setara dengan pramugari pesawat bisnis class.


Di titik ini Farhan dan Lisa baru paham. Bahwa klinik mister Tong Jay tak hanya melayani keluhan seputar seksual. Ia juga melayani pasien yang sulit memiliki anak, dan juga menyediakan psikiater khusus yang menangani masalah pasien berkecenderungan seksual.


Selepas itu, Farhan dan Lisa langsung diarahkan ke lantai empat. Tempat di mana Mister Tong Jay menunggu pasien sosialita yang hendak konsultasi masalah ranjang dengannya.


Lisa berjalan terlebih dahulu sebagai tameng. Diikuti Farhan yang terlihat ogah-ogahan memasuki ruangan itu. Sesampainya di hadapan pintu, pelayan menunduk dan berkata hanya dapat mengantarnya sampai di sini. Farhan dan Lisa harus masuk sendiri untuk menemui mister Tong Jay di dalam sana.


Menggenggam tangan Farhan dengan penuh keyakinan, Lisa mendorong pintu kedap suara itu. Aroma vanila langsung menyeruak begitu mereka masuk. Keduanya langsung dihadapkan dengan suasana yang membuat hati tenang, entah ada keajaiban apa diruangan itu. Yang jelas berada di ruang itu rasanya sangan nyaman dan damai.


"Selamat datang." Mister Tong Jay menyapa. Beliau duduk di kursi kayu berbahan pohon jati yang diukuri cantik.


"Selamat siang, Mister." Lisa balas menyapa. Sementara Farhan masih belum bangun dari semedi batu bernapasnya.


"Silahkan duduk, dan ceritakan keluhan masalah kalian." Mister Tong Jay menunjuk sofa panjang di depannya. Lisa langsung menarik lengan Farhan agar ikut duduk.


"Terima kasih, Mister!" Lisa yang menjawab.


"Jadi keluhannya apa?" Mister Tong Jay menatap Farhan. Pria itu melengos, malu untuk menjelaskan duduk perkara rumah tangganya.


"Jangan sungkan, semua pasien saya sangat terbuka di sini, dan rahasia kalian akan aman terjaga," urai mister Tong Jay menjelaskan.


Lisa tersenyum kikuk, lalu melirik Farhan yang masih diam tanpa kata seperti lagu viralnya D'masiv. Pria itu malah balas melotot, di mana matanya menyiratkan agar Lisa saja yang bicara.


Jangan lupa, bahwa selama ini suara Farhan selalu diwakilkan oleh asistennya. Berhubung Rico tidak ada, Lisa lah yang menggantikan mulut Farhan berbicara.


"Jadi begini Mister, kami baru saja menikah beberapa minggu yang lalu ... tapi suamiku tidak bisa tahan lama di atas ranjang. Dan kami ingin mengatasi masalah itu." Lisa mermas jemarinya—takut. Kulit tangannya meremang, seperti merasakan aura membunuh di sampingnya.


...Jangan marah, Tuan. Saya harus berkata jujur agar keluhan kita terselesaiakan, batin Lisa sambil menundukkan kepala....


"Apa kamu sudah tanya suamimu, apa yang membuat dia tidak tahan lama?" tanya mister Tong Jay pada Lisa.


Wanita itu mengurai rasa bingung. Lalu menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan mister Tong Jay. Agak malu juga untuk menjelaskan.


"Tidak perlu dibahas. Saya akan memberikan pertanyaan langsung pada suamimu." Mister Tong Jay membuka layar laptopnya. Bersiap mencatat keluhan yang ada di diri Farhan.


"Siapa nama Anda, Tuan?" tanya mister Tong Jay pada Farhan.


"Farhan Budiman," jawab Farhan datar. Nama itu adalah nama yang diberikan bibi panti asuhan Farhan dulu. Tidak pernah diganti hingga kini.


"Umur?"


"Tiga puluh dua tahun?"


"Sebelumnya, apa Anda sudah pernah melakikan hubungan sex di luar nikah?" tanya mister Tong Jay sambil melepas kacamatanya. Memamerkan mata sipit yang sepertinya sedikit kurang tidur.


"Belum pernah, baru pertama kali dengan istri saya," jawab Farhan logis.


"Kalau oh nanai, apakah Anda sering melakukannya juga?"


Farhan menyerngit bingung. Lantas menoleh pada Lisa untuk meminta penjelasan. Lisa mendekat lalu berbisik,


"Gimana?" Farhan mendekatkan telinganya. Masih belum paham dengan isyarat yang menurutnya aneh.


"Main pakai tangan!" telak Lisa kesal. Di mana mister Tong Jay tersenyum gemas melihat Lisa yang bisik-bisik pada suaminya, tapi masih dapat didengar jelas oleh pria paruh baya itu.


Farhan berdeham malu. "Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu, tapi kalau mimpi yang aneh-aneh sering."


Seketika membolakan mata, mister Tong Jay melempar kalimat tak terduga.


"Hidupmu terlalu lurus ya, Tuan! Tidak ada tikungan apa lagi tanjakkan." Sambil kepalanya menggeleng keheranan.


"Saya sibuk bekerja." Farhan menjawab logis dan singkat seperti biasanya.


"Roman-romannya saya sudah tahu permasalahannya. Hanya perlu melakukan sedikit terapi pijat, milik Anda akan kembali normal dan dapat langsung di praktekan di lantai lima setelah terapi."


"Terima kasih, mohon bantuanya." Farhan menundukkan kepala sopan.


"Untuk masalah ukuran? Apakah sudah cukup?" tanya mister Tong Jay. Matanya tertuju pada pangkal paha Farhan yang ditutupi dengan tangan.


Farhan mendongak dengan rasa malu. "Kalau bisa diperbesar sedikit lagi," ujarnya.


"Astaga, jangan!" Lisa menggeleng ketakutan. "Tolong jangan lakukan itu, kasihanilah mahkota mungilku yang bergharga ini," mohon Lisa pada dua pria yang menatapnya bingung.


"Jangan dibesarin, segitu aja sudah cukup. Nanti aku takut," tolak Lisa pada Farhan.


"Aku pikir kamu suka," jawab Farhan sedikit malu. Gara-gara video yang Bryan kasih, ia jadi membandingkan miliknya dengan salah satu bule Afrika, di mana Farhan tertarik untuk merubahnya jadi seperti itu.


"Baiklah, kalau masalah ukuran tidak masalah, biarkan saya memulai terapi. Anda mau melihat atau menunggu di luar?" Mister Tong Jay bertanya pada Lisa.


"Tolong usir saja Mister, saya takut dia rusuh," ujar Farhan.


"Gak mau! Saya mau di sini, nanti kalau keluar ukurannya sudah beda saya yang rugi, " tolak Lisa secepat kilat.


Mister Tong Jay mendesah berat seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing. Baru kali ini ia melihat dua pasangan yang aneh bin konyol. Di mana si suami malu-malu seperti bunga putri malu, sedangkan si wanita keras kepala dan sedikit barbar. Sungguh pasien yang sangat merepotkan.


"Jika pasangan tidak setuju, saya juga tidak akan sembarangan merubah ukuran, Nona!" tukas Mister Tong Jay sambil menatap Lisa tegas.


"Iya, kamu tunggu di luar saja," Farhan ikut menimpali. Karena sejujurnya ia malu jika ada Lisa yang melihat proses terapi pijat gagang gayung Farhan.


"Baiklah, saya keluar ... tapi pastikan jangan ada yang berubah. Saya mau ukurannya tetap sama," ancam Lisa seraya bangkit dari duduknya.


"Baik Nona," jawab Mister Tong Jay dengan senyum lepas.


Akhirnya Lisa keluar dari ruangan itu dengan perasaaan ketar-ketir. Ia takut jika gagang gayung Farhan berubah jadi kaki gajah ketika keluar nanti. Sungguh, jangan sampai itu terjadi. Lisa masih sayang onderdilnya. Ia tidak mau miliknya selebar danau yang terkikis ombak nakal.


Di saat ia hendak cuci muka di toilet. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Wanita itu menoleh, seketika tubuhnya meremang, wajah Lisa pucat pasi saat melihat sosok mahluk hidup yang ada di depannya.


Astaga!


***


Up lagi nanti ah, kalo rank votenya udah naik ...Wkkwkw.


Ma' acih buat yang udah setia baca dan dukung akoh..😘😘