
Hentikan, kau sudah menciumku sembilan puluh sembilan kali. Apa masih belum cukup?
Hahaha, kamu menghitungnya? Aku 'kan hanya menghapus jejak petualangan cucu Prawira yang baru saja menodai bibir suci suamiku tahu.
Terdengar gelak tawa Lisa dan omelan Farhan dari luar pintu. Rico masuk ke dalam kamar dengan muka yang ditekuk sebal. Tak mau mengindahkan dua manusia yamg asik bercengkrama dengan mesra.
Ia tambah kesal pada dunia yang tak berpihak padanya hari ini. Setelah diusir dari kamar pengantin, Rico malah mendapati adegan uwu-uwu menjijikan Lisa.
Oh! Wanita itu ya ... kenapa getol sekali dalam berusaha menaklukan Farhan? Apa tidak lelah menggoda batu bernapas setiap saat? Rico yang menjadi pendengar kasat saja muak dan jengah melihat tingkah wanita itu. Apalagi Farhan. Cih!
Rico melangkah malas, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Kedatangan pria itu langsung mengalihkan pehatian Farhan dari Lisa yang terus menggoda dia sedari tadi.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu muram begitu?" Farhan yang paling paham langsung bertanya. Ia tahu persis, pasti terjadi perkara sehingga wajah tampan Rico berkurang setengah.
"Saya baru saja ditegur oleh salah satu staff wanita yang menyebalkan," jawab Rico.
"Bagaimana mungkin kariyawan biasa berani menegurmu? Apa kau melakukan kesalahan memalukan."
"Tidak!"
"Lalu?" tanya Farhan meminta kejelasan inti ceritanya.
Rico mulai membuka laptop di atas meja untuk melupakan kekesalannya."Entahlah! Aku tidak mengerti dengan pikiran para staff yang mendekorasi ruang pengantin tadi. Aku sengaja mengawasi mereka agar pekerjaannya cepat selesai, tapi salah seorang staff memberanikan diri mengusirku. Katanya ketampananku mengganggu fokus kerja mereka. Gara-gara aku, pekerjaan mereka jadi tertunda-tunda."
"Buaahaha! Uhuk ... Uhuk!" Lisa tergelak kecang sampai hampir tersedak biji anggur. Nyaris dibawa ke rumah sakit jika Farhan tak segera menepuk tengkuknya.
"Pelan-pelan." Farhan berujar dengan muka khawatir. Namun, Lisa tak memperdulilah perhatian suaminya, malah berbicara pada Rico dengan antusiasnya.
"Apa Anda baru sadar bahwa ketampanan Pak Rico merusak imajinasi kami sebagai wanita? Tsk!"
Farhan yang mendengar Lisa memuji pria lain langsung melotot kesal ke arah Rico. Pria itu menelan saliva gugup, serasa tercekik melihat ekspresi Farhan yang berubah drastis.
Nona, kau sengaja ingin membunuhku, 'kan?
Rico tidak jadi mengerjakan tugas di laptopnya, ia menyingkirkan benda elektronik itu dari hadapannya secepat kilat.
"Tuan, jangan salah paham dulu. Itu hanyalah bualan belaka. Nona Lisa tidak sekucing garong yang Anda pikirkan. Nona hanya ingin membuat hubungan kita menjadi renggang, makannya membuat opini gila seperti itu," sergah Rico dengan gelengan kepala penuh penenekanan.
Lisa menyanggah sambil menjulurkan lidah. "Aku bukan kucing garong, tapi kucing oyen. Ck."
Farhan menyela keduanya. "Benarkah? Apa di matamu Rico tampan?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Farhan. Terasa lucu saat mengatakan dengan nada sedikit cemburu. Padahal ia sendiri sudah tahu, bahwa Lisa memang sengaja memprovokasinya.
"Tuan! Jangan libatkan saya." Rico mendengkus frutrasi dengan geraman tertahan. Matanya memandang Lisa, meminta wanita itu menyudahi ocehan tidak penting yang merugikannya.
"Sembarangan," balas Rico kesal. "Semua yang ada di dalam diriku murni ciptaan Tuhan," lanjutnya.
"Jangan sensi dulu Pak Rico, aku 'kan hanya memberitahu gosip yang beredar di kampus tentangmu."
"Jadi menurutmu ... lebih tampan siapa? Suamimu atau Rico?"
Pertanyaan maut keluar dari bibir Farhan. Pria itu tak mau menyerah sebelum mendapatkan jawaban yang ia mau.
Rico komat-kamis seperti dukun cabul. Berharap Lisa mau berbaik hati sedikit kepadanya. Setidaknya, jangan mengatakan sesuatu yang membuat Farhan tambah salah paham.
"Menurutku gantengan pak Rico," jawab Lisa dengan seringai tawa menghiasi kedua pipi.
Seketika dunia Rico hancur. Luluh lantah bersamaan dengan ekspresi wajah Farhan yang seperti hendak menerkamnya bulat-bulat.
Rico melakukan pembelaan untuk terakhir kalinya demi keselamatan nyawa. "Jangan percaya pada ucapan istri Anda Tuan! Ini hanyalah konspirasi yang tidak jelas. Tujuan Nona adalah untuk menghancurkan hubungan baik kita."
"Diam kau!"
Farhan tidak peduli. Ia langsung pura-pura kesal dan menganggap Rico lenyap begitu saja.
"Tuan!" teriak Rico putus asa.
"Logika Tuan ... logika! Di mana logika yang selama ini Anda banggakan?"
Ck. Kau pikir aku sebodoh apa sampai tidak bisa mengetahui istriku sedang memprovokasi?
Farhan beralih pada Lisa seorang. Mengabaikan Rico yang mencoba mengambil hatinya kembali.
Sementara Lisa sudah mengerjap-ngerjap kebingungan. Netra bulatnya menatap Farhan dengan napas memburu hebat. "Pak Rico memang tampan, tapi kamu satu-satunya pria istimewa di hatiku. Sayang ... aku tidak berbohong."
Mata Farhan menyipit licik. Ada senyum devil yang menyungging sempurna sebelum ia mulai bicara.
"Ya, aku pecaya padamu. Jadi, apakah kita perlu mencarikan Rico pasangan? Agar semua wanita berhenti resah? Bagaimana dengan staff perempuan yang tadi sempat melawannya? Kurasa dia cocok untuk menjadi istri Rico. Maukah kau membantu?"
"Tuaaaaaaaaaan!"
Rico berteriak sekuat tenaga.
***
Mau lanjut malam pertama di kamar pengantin. Jangan lupa kasih like dan bunga yang banyak ya..🥰