HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
XXXIBGD



Hal pertama yang Rico cari begitu ia tersadar adalah Dipsy. Pria itu langsung merogohkan tangannya ke bawah, memastikan sahabat sejatinya masih baik-baiknya saja setelah terjadinya insiden tembak-tembakkan ala drama action kemarin. Beruntung, dia masih sehat tanpa cacat. Dalam arti masih berfungsi normal karena Rico dapat merasakan fungsi Dipsy saat membayangkan wajah cantik Irene Red Velvet.


"Apa Bapak mau Ohnana di depan saya?" Suara datar Lisa membuat Rico terhenyak. Nyaris jatuh dari tempat tidurnya andai ia tidak segera mencengkeram pegangan ranjang. "Arghhh!" Pria itu memekik sakit karena reflek pergerakannya tadi.


"Anda sedang sakit, Pak Rico. Bisa-bisanya ya. Hmmm ... hmmm." Lisa menggelengkan kepala dengan mimik wajah jijik. Lalu memundurkan kursi duduknya agak jauh dari jangkauan Rico.


"Apa yang Nona lakukan di sini?" pekik Rico sambil menahan kesal. Ada geramanan tertahan dari balik gigi Rico yang bergemelutuk. Wajah cengonya juga masih tampak setengah terkejut dengan keberadaan Lisa yang tidak ia sadari sama sekali.


"Huuh. Tidak perlu malu, saya sudah tidak aneh melihat pria melakukan hal seperti tadi. Kalau begitu kuberi waktu lima belas menit, lanjutkan lagi." Lisa bangkit dari duduknya. Kaki itu nyaris melangkah pergi, di mana hal itu membuat Rico reflek menarik lengan Lisa.


"Jangan salah paham, Nona. memang saya mau melakukan apa?" Rico yang merasa difitnah langsung menyergah. Mencegah Lisa pergi sambil mengernyit tidak senang.


"Saya hanya memeriksa, tidak bermaksud melakukan apa-apa." Nada bicara Rico mengarah sinis. Difitnah main solo di rumah sakit membuat harga dirinya terinjak. Rico masih bisa kok, menyewa perempuan cantik di luar sana.


"Sejak kapan Nona di sini?" tanya Rico lagi, kalini intonasinya sedikit pelan.


Lisa menjawab dengan entengnya, "Sejak Bapak tidur sambil memegangi itu!" Mata anak itu langsung tertuju pada bagian bawah milik Rico. Tak ada wajah canggung sama sekali saat mengatakannya.


Bagaimana mungkin ada mahluk berjenis kelamin perempuan tapi kelakuannya seperti itu? Rico menggeleng-geleng dengan mata setengah menajam. Ia segera mengalihkan pembicaraan,


"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Tuan Farhan?" tanya Rico penasaran. Beserta mimik wajah yang khawatir tentunya.


"Bukankah Bapak lebih tahu seperti apa keadaan suamiku?" tanya Lisa balik. Ia melipat kedua tanganya di depan nada. Matanya menukik tajam dengan gaya tubuh menantang permusuhan.


"Nona!"


"Pak Rico!"


"Pak Rico mengertilah ... bahwa suamiku tak bisa hidup tanpamu!" serang Lisa dengan kalimat yang menjijikan. Andaikan ada orang yang mendengarnya pasti ikut bergetar-getar, sayangnya keadaan itu nyata. Farhan memang sehancur itu hingga akhirnya Lisa memutuskan datang menemui Rico. Bermaksud memohon sekali lagi agar pria itu mau kembali.


Desahan lemah keluar dari bibir Rico. Pelan—dengan tambahan aura keputusasaan. "Saya tidak bisa kembali pada perusahaan tuan Farhan, Nona. Karena mulai bulan depan saya resmi menyandang status sebagai CEO Burning Sung," tolak Rico.


Lisa tak dapat menutupi rasa keterkejutannya. Sampai ia berteriak memenuhi seluruh isi ruangan, "Aku tidak salah dengarkan?"


"Aku serius, takhtaku memang ada di sana," ucap Rico penuh keyakinan.


"Kau benar-benar jahat ya, Pak Rico! Benar kata suamiku, seharunya kau mati saja! Untuk apa sok menjadi pengabdi tuan Farhan yang setia kalau akhirnya begini. Setelah dia kau buat baper, dengan jahatnya kau tinggalkan!" pungkas Lisa dengan nada kesal.


Rico membola dengan ucapan Lisa yang terdengar ambigu. Wajahnya tampak tidak nyaman dengan rangkaian kalimat itu. "Kita tidak pernah berpacaran Nona, tidak usah mengatakan sesuatu yang membuat kami seolah memiliki hubungan dekat yang spesial."


"Tapi suamiku patah hatinya sama persis dengan orang pacaran," sungut Lisa menjabarkan keadaan Farhan yang sesungguhnya. Ingin rasanya Lisa mencekik pria menyebalkan yang ada di depannya itu sampai mati.


Dengan percaya diri Rico menjawab, "Dia sendiri yang tidak mau berteman denganku. Itu bukan salahku. Lagian aku hanya pindah pekerjaan, kita masih bisa sharing dan bersahabat."


"Sahabat dengkulmu, Pak Rico! Jelas-jelas perusahaan ayahmu adalah musuh Revical Grup. Sudah pasti orang lain akan mempertanyakan status persahabat kalian."


Dalam dunia bisnis tidak ada yang namanya persahabat. Sebagai ikon penting di perusahaanya, Farhan tidak mungkin bisa bersahabat lagi dengan Rico yang notabene sudah memilih menjadi musuh. Farhan akan dicap jelek jika kedapatan jalan berdua dengan musuh bebuyutan. Dan tentunya hal itu dapat membuat gabungan keluarga Haris murka terhadap Farhan.


***


Gabut ya, iya gabut seperti hatiku. Tunggu 1 bab lagi muncul kalo gak ketahan. Kasih komen semangat yang banyak dong.🤣 Ama kata kata mutiara palsu juga boleh.