
Hampa, satu kata yang terselip di benak Farhan setelah satu bulan berlalu. Rico benar-benar meninggalkannya tanpa jejak. Bahkan keduanya seperti melakukan hal yang kompak sejak kejadian tembak-tembakkan itu, Farhan tidak mau menemui Rico lagi, begitupun dengan Rico yang engga memberi kabar atau apapun itu setelahnya.
Entah seperti apa kabar Rico, mungkin dia sedang memulihkan kondisi atau mengurus pekerjaan barunya yang lebih menantang.
Kembali lagi pada Revical Grup. Kegiatan berjalan sebagaimana mestinya. Lisa semakin pintar dan mulai menguasai berbagai pekerjaan yang dia emban. Bunda muda itu juga pandai membagi waktu dalam mengurus si kembar. Farhan jadi makin enggan berpaling dari hot mother tersebut.
Mendekat perlahan, Lisa merangkul Farhan dari belakang. Lalu mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu dengan satu buah kecupan mesra yang mendarat di pipi.
Pria itu sedang menghadap laptop di atas meja kerjanya. Kebetulan Alex sedang pergi ke kantor pusat, jadi Lisa masuk menemani Farhan agar ia tidak bosan. Sebenarnya tidak menemani, lebih ke arah mengganggu karena sedari tadi mulutnya iseng berceloteh.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tangan Lisa mulai menjalar ke mana-mana.
"Aku baik-baik saja," ujar Farhan datar.
"Kau pasti merindukannya, bukan? Jangan membohongi pikiranmu, Sayang." Wanita itu mengecupi rambut Farhan. Tercium aroma mentol yang membuat penciuman Lisa merasa sejuk. Lalu diusapnya surai legam itu dengan penuh kasih sayang.
Farhan menangkis tebakkan Lisa, "Tidak Lis, aku sudah tidak pernah memikirkannya lagi. Alex atau Rico di mataku sama saja!" bohong Farhan sebisa mungkin.
Ah ya, sekarang Farhan memang sudah terbiasa dengan asisten barunya, Alex. Pria itu benar-benar memiliki integritas yang tinggi dalam berbagai aspek. Nyaris di katakan sempurna. Namun, dia tetap tidak menggantikan posisi Rico di hati Farhan.
"Baiklah kalau begitu, aku punya kejutan istimewa untukmu," ujar Lisa dengan senyum yang mengulas manis.
"Apa itu?" Farhan mengalihkan fokusnya pada laptop sekilas.
"Sayang, kamu pasti tidak akan percaya jika melihat ini."
"Apa?" tanya Farhan datar.
Lisa mengeluarkan sebuah undangan berbentuk buku dan meletakkannya di atas meja. Farhan mengernyit, lalu mendongak ke atas untuk bertanya, "Undangan apa itu?"
"Kau bisa melihatnya langsung, Sayang." Lisa memutar kepala Farhan sampai posisi matanya dapat melihat undangan itu dengan jelas. Pria itu langsung membola seketika.
Undangan pernikahan dengan nama Rico dan seorang wanita tertera di buku berbingkai cantik itu. Farhan langsung melempar undangan itu dengan wajah murka. Suaranya menggelegar, menggema hingga tubuh Lisa ikut bergertar. "Apa dia sudah gila ...!"
"Tahan Sayang," ujar Lisa yang langsung panik dan mencoba menenangkan suaminya sebisa mungkin. Berbagai asumsi negatif Lisa tepis. Ia tidak mau berpikir suaminya cemburu dan posesif sampai murka mendengar kabar Rico menikah.
"Bagaimana bisa sabar, dia selalu berulah dan memancingku kesabaranku!" teriak Farhan dengan napas naik turun tidak jelas. Lisa yang tidak kuat menahan rasa penasarannya langsung bertanya,
"Kamu cemburu?" Satu alisnya meninggi. Ia langsung mendudukkan tubuhnya di pangkuan Farhan. "Menikah adalah kabar yang sangat baik, Mas! Bagaimana bisa kamu marah mendengar sahabatmu yang mau menikah, kamu yang gila!" balas Lisa. "Kau begitu mencintai sahabatmu sampai kamu tidak rela dia menikah! Begitu?"
"Bukan itu masalahnya!" Farhan menggeram, menjambak rambutnya hingga beberapa helai surai itu tertarik dan lepas dari kulitnya. Ia tidak mau bertengkar dengan Lisa apalagi terjadi salah paham. Namun emosinya yang tidak bisa stabil membuat pria itu spontan melakukannya.
"Lalu apa?" Logika tak lagi ada, Lisa terus menatap Farhan. Menunggu pria itu mengakuinya tanpa harus main tebak-tebakkan.
"Hidup Rico jauh lebih parah dariku, aku tahu dia sangat takut dengan pernikahan karena masa lalunya yang kelam. Dia tidak mungkin semudah itu menikah dengan gadis sembarangan kecuali kepepet," ujar Farhan dengan suara lemah. "Pasti dia punya alasan!"
Lisa tak mau kalah. Ia menangkap dua sisi wajah Farhan dengan kedua tangan. "Kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi, Mas. Barangkali dia mencintai calon istrinya, siapa tahu 'kan?"
"Wanita yang ia cintai satu-satunya adalah mendiang ibunya, aku mengenal Rico luar dan dalam," ketus Farhan kekeh.
"Ya, sudah. Doakan saja yang terbaik. Atau kalau kau mau, kita gagalkan saja pernikahannya."
"Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu. Aku hanya memikirkan kebahagiaannya. Aku takut dia tidak bahagia setelah menikah."
Andai kau tahu, Mas. Sejak dia pergi dari sini, aku tahu dia tidak bisa merasakan bahagia lagi. Dia adalah sosok asisten yang baik bukan hanya kepadamu, tapi dia rela berkorban demi keselamatanku, batin Lisa seraya menahan rasa yang ingin segera meledak.
***
Kasih komen dan like sebanyk-banyaknya dong. Biar mangat lanjutinnya.