HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 25 : (Season 2)



Rasa penasaran Lisa semakin dalam. Tentunya ia tidak mau melewatkan satu adegan pun antara kedekatan Cello dan Malika. Ia melangkahkan kakinya dengan cara mengendap-endap pelan. Turut mengikuti mereka berdua ke ruang bermain di mana Cello sering bermain dan mengetes mesin penyedot debunya di sana. Pintu tak di tutup, jadi Lisa bisa dengan leluasa mengintip dari balik pilar pintu.


"Yang ini Shinta. Dia bisa bahasa Jepang."


Cello Mengaktifkan sensor suara ke mode bahasa Jepang. "Kon'nichiwa, watashinonamaeha Shintadesu watashi wa anata no ie o seiketsude utsukushiku shimasu."


"Hallo, namaku Shinta. aku akan membuat rumahmu jadi bersih dan indah."


Anak itu meletakkan Shinta di lantai. Benda itu langsung bergerak lincah. Menari dan mencari setitik debu di setiap sudut ruangan.


Malika berdecak kagum. Beberapa kali ia menggeleng dengan mainan Cello yang tidak wajar tapi cukup menarik di matanya.


"Aku mau lihat yang laki-laki!"


"Taehyung?"


Malia mengangguk. Sementara Shinta sudah berjalan jauh keluar dari kamar bermainnya.


Mesin penyedot debu itu diaktifkan. Begitu menyala, Taehyung langsung bergetar-getar dengan lampu menyala warna-warni.


"Dia dari Korea, makannya kuberi nama Taehyung."


"Oh begitu." Malika termangu sambil memperhatikan Taehyung yang sudah bergerak jauh keluar kamar. Benda yang diberima nama persis dengan member BTS itu langsung menghilang di balik pintu, mungkin menyusul ke ruangan lain Shinta. Entah.


"Terus si Siti kenapa kamu masukin lagi ke kardus?" Malika tampak heran melihat Cello memasukkan si Siti ke dalam kardusnya. Padahal ia ingin sekali melihat kemampuan Siti juga.


"Dia sakit gara-gara dibanting ayah Hanhan! Mati total dan udah gak bisa nyala lagi," umpat anak itu agak kesal saat bercerita.


Dari balik pintu Lisa tertawa geli dalam hati. Mengingat kejadian saat Farhan murka dan berakhir mengeksekusi mati si Siti.


Cello mengedikkan setengah bahunya sambil menaruh Siti ke dalam lemari kacanya kembali. "Mungkin ayahku tidak menyukai Siti karena dia suka masuk kamar ayah sembarangan. Dia bisa merekam video sekaligus pembicaraan apa pun di sekitarnya. Jadi ayah takut kita tau pembicaraan orang dewasa. Orang dewasa 'kan aneh. Mereka suka kepo dengan kegiatan anaknya. Tapi anaknya ngga boleh tau kegiatan orang tuanya," tutus Cello. Bibirnya maju pertanda ia bersungguh-sungguh saat bicara.


Lisa yang mendengar dari balik pintu pun lekas menggigit tangannya untuk menahan tawa. Terkesan tidak nyata, tapi pembicaraan anak kecil memang sangat menggemaskan.


Jadi inilah kehebatan Siti, selain menjadi CCTV berjalan yang suka masuk ke segala ruangan saat pintu terbuka, ia juga memiliki sensor perekam dan bisa menampung suara-suara disekitarnya. Nahasnya si Siti masuk ke kamar utama tepat malam Jum'at dan merekam semua suara laknat Farhan dan Lisa pada saat itu.


Untung Farhan mengetahui keberadaan Siti yang anteng di bawah kolong meja sambil menyala-nyala. Begitu ia tahu terdapat pendeteksi suara dan CCTV di dalam processornya, Farhan langsung membanting Siti sampai ia tak bisa hidup selama-lamanya.


Tapi Cello masih tetap sayang dan menyimpan Siti rapat-rapat karena benda itu merupakan kesayangannya.


Sedikit info, Cello dan tuan Haris memang memiliki banyak persamaan. Terutama soal hobi. Mereka sama-sama menyukai robot canggih yang unik dan memiliki manfaat bagi manusia tentunya.


Dan di segi ini Farhan sangat kesal lantaran tuan Haris memberikan Siti pada anak polos belum cukup umur seperti Cello. Ia tahu niatnya baik. Tujuannya untuk merekam percakapan berbahaya dan menjaga keamanan rumah agar dapat mendeteksi keberadaan maling, tapi Siti cukup meresahkan karena ia selalu menjadi filter gibah yang mampu mengintip dan mendengar percapakapan apa pun yang ada di rumah itu selama 24 jam. Termasuk adegan pasar bubrah alias desan mendesah yang membuat Farhan marah lantaran ketangkap basah.


Bagi Farhan Siti bukanlah mainan yang cocok untuk anak kecil. Maka ia memusnahkan benda itu tanpa kata memandang siapa yang memberikan mainannya.


Saat itu Cello menangis. Meraung dan memaki ayahnya layaknya anak kecil sedang mengamuk dan tentunya membandingkan Farhan dengan Reyno yang tidak pernah kasar.


Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lantaran Siti sudah terlanjur Mati. Farhan terlalu emosi saat itu, jadi ia tidak bisa mengontrol amarahnya sama sekali.


***


Seperti yang udah kubilang ya, karena inu bulan puasa jadi part Farhan Lisa aku selingin Malika Cello.


Udah baca novel baru Ana belum? Pada baca dong... Biar Ana semangat nulis gitchu. Entar aku kasih 1 Bab lagi. Jangan lupa dukungan bunga kopinya, ya . Hehehe.