HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 13 : (Season 2)



Sementara di kantor, Lisa sudah menceritakan semua permasalahan tentang kenakalan Cello di sekolah. Ia juga memberikan potongan surat itu kepada Farhan walau sedikit takut dan ragu-ragu.


...Tgl: 21-XX-20XX...


...Tolong tunggu tabunganku banyak dulu. Aku pasti akan mengajakmu kabur setelah uangku terkumpul....


Dan benar saja, ekspresi suaminya langsung berubah drastis saat itu juga. Farhan yang tadinya tenang, begitu emosi setelah membaca isi surat anak bandel kesayangannya. Tentunya Farhan menanggapi surat Cello dengan serius dan logis sesuai penglihatannya.


"Apa selama ini aku terlalu memanjakannya? Berani sekali anak bocah mengatakan hal seperti itu pada lawan jenisnya!"


Lisa segera mengusap-usap dada Farhan. Wajah pria itu merah padam seakan hendak memakan Cello bulat-bulat. "Tenang dulu Mas. Cello itu masih anak-anak. Bisa saja dia sedang bercanda. Jangan terlalu menganggapnya serius," ujar Lisa.


Farhan yang masih kesal berkata dengan nada membentak. "Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus diam saja sambil menyaksikan anakku kabur membawa gadis orang?" gertak Farhan murka.


Tak mau kalah, Lisa juga ikut meninggikan nada suaranya. "Sudah kubilang jangan dianggap serius. Kok bahasa kamu malah ngajak berantem sih? Kita baru saja baikan loh!"


Farhan tergugu sesaat.


Ia langsung mengatur napas agar tempramennya segera turun. "Maaf ... aku benar-benar emosi melihat kelakuan anak itu yang membingungkan. Kita sudah berusaha mati-matian untuk menjadi orang tua yang peduli terhadap anaknya. Tapi Cello malah ingin kabur bersama gadis orang. Apa dia sudah tidak betah tinggal di rumah?" murka Farhan.


"Jangan berpikir seperti itu dulu Mas! Sudah kubilang kalau Ello hanya anak-anak. Belum tentu ucapannya serius. Buktinya dia masih tinggal di rumah kita, 'kan!"


Lisa menggunakan nada penekanan agar Farhan mau mengerti. Walau sebenarnya Lisa sendiri juga sudah mulai khawatir terhadap konsep hidup Cello yang membingungkan. Karena akhir-akhir ini, ia sering memergoki Cello menabung dan mengintip-intip isi celengannya seperti orang hendak kabur.


"Kalau begitu aku akan menghukum anak itu saja," kekeh Farhan yakin. Matanya menyala-menyala. Beberapa kali pria itu menggusar ramburnya ke samping karena masih syok dengan isi surat tidak wajar tersebut.


"Jangan dikuhum dulu. Dia tidak melakukan kesalahan apa pun kecuali menulis surat itu. Nilai harian dan tugas rumahnya pun masih stabil. Jadi kita tidak bisa gegabah dan mendikte anak itu bersalah sebelum menyelidikinya."


"Lalu langkah apa harus yang kita ambil? Alex saja tidak becus memata-matai anak itu."


"Weekend besok aku akan mencoba mengajak Cello jalan-jalan berdua. Dia biasanya mau terbuka kalau sedang dalam suasana baik. Aku akan mendesak dia agar mau jujur."


"Yakin?" tanya Farhan ragu-ragu.


"Iyalah." Lisa mengangguk mantap. Kemudian menaruh kepalanya di dada Farhan.


Farhan sedikit mengembuskan napasnya, lega. "Kalau begitu aku serahkan semuanya padamu. Biar aku ajak Cilla berkunjung ke rumah utama agar kalian memiliki waktu luang berdua saja." (Rumah besar keluarga Haris)


Ada jeda sesaat di detik-detik berikutnya. Di mana Lisa hanya diam sambil mendengarkan detak jantung Farhan yang iramanya mulai terdengar teratur. "Kenapa kamu diam?" tanya Farhan karena merasa terabaikan.


"Aku lagi mikir tau."


"Kamu dan Cello. Melihat keanehan Cello, sepertinya kalian berdua memiliki kemiripan untuk hal yang satu ini," ujar Lisa masih bergeming di dada suaminya. Sementara tangannya mulai bergerak nakal memainkan dasi Farhan hingga kendur.


"Ada apa dengan aku dan Cello?" Farhan yang heran pun bertanya sambil menjewer telinga Lisa lantaran wanita itu berbelit-belit.


"Kalian berdua sama-sama pernah mengajak wanita kabur. Kira-kira apa yang kalian pikirkan saat melakukan hal itu?"


"Jangan menyamakan anak itu denganku. Konsepku berbeda dengan dia. Aku tidak mengajakmu kabur, aku hanya ingin memberikan pendidikkan yang baik untuk orang yang kurang beruntung," tandas Farhan kesal.


Lisa tidak marah atau tersindir, justru pikirannya jadi terbuka begitu mengingat kisahnya dan Farhan di masa lalu. "Tapi mungkin Cello sama sepertimu. Dia memiliki maksud dan niat tersendiri saat mengajak gadis orang kabur."


"Apa pun pemikirannya, anak kecil umur delapan tahun tak seharunya memikirkan hal segila itu. Kita tetap tidak bisa disamakan." Farhan tak mau tahu. Ia tetap saja kesal dengan Cello. Keponakan itu sudah dianggap seperti anak sendiri, tapi kelakuannya sering kali menguji kesabaran orang yang merawatnya.


"Mungkin saja dia memiliki pemikiran yang sama denganmu. Bisa jadi Cello ingin menyelamatkan gadis. Karena yang aku lihat keseharian Cello sama saja seperti biasa, dia tidak memiliki perubahan efek jatuh cinta seperti orang dewasa."


Farhan menatap Lisa setengah bingung. "Apa karena gadis itu disiksa oleh ibu tirinya sepertimu? Jadi Cello tergugah untuk membantu?"


"Mungkin saja," jawab Lisa.


"Kau sudah tahu siapa gadis itu?"


Lisa menggeleng samar. "Tidak tahu. Wali kelas Cello juga belum memberi tahu. Jadi aku diam saja."


Farhan diam tanpa komentar. Pria itu menaruh dagunya di kepala Lisa dan mulai terpejam.


Aku lelah, keluhnya dalam hati.


***


"


***


Udah cek foto cover belum? Itu adalah visual asli versi author saat lagi bayangin mereka. Nama wanitanya Nana, sama kayak namaku. Dia orang jepang. Hehehe.


btw entar up lagi kalo banyak yg baca dan komen


***