
Waktunya telah tiba ....
Sembilan bulan Lisa lalui dengan penuh drama dan berbagai rintangan yang biasa dialami ibu hamil pada umumnya.
Kini tibalah ia di momen paling mendebarkan yang sangat dinanti-nanti para ibu hamil. Saat ia harus berjuang untuk kedua kalinya demi melahirkan si buah hati ke dunia.
Semuanya sudah berkumpul di depan ruang operasi. Baik dari keluarga Hermawan ataupun keluarga Haris turut hadir menemani proses persalinan Lisa.
Menurut hasil USG terakhir kali, Lisa dianjurkan tidak melakukan persalinan normal karena bagian rahimnya dulu pernah terinfeksi. Untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, semua keluarga sepakat mengambil jalur operasi.
Nyonya Dina dan Bunda Lynda menemani di dalam. Sementara Tuan Haris dan Hermawan menemani Farhan dan si kembar yang sejak tadi menangis. Lebih tepatnya bukan menemani, tapi mereka asik sendiri dengan papan catur yang dibawa tuan Haris ke rumah sakit.
"Bunda kalian pasti baik-baik saja, tenang!" ucap tuan Haris pada si kembar. "Ayo giliranmu, Her!"
"Ah, Skakmat!"
"Aduhhh!" geram tuan Haris. Hermawan terbahak-bahak melihat lawan mainnya kalah telak.
Bisa-bisanya mereka melakukan seperti itu di saat genting begini. Apa mereka tidak peduli dengan cucu mereka di dalam sana, batin Farhan geram dan malas melihat tingkah dua manusia paruh baya itu.
Farhan di sebelahnya sibuk mengelus-elus si kembar yang menangis tak mau berhenti.Mereka berdua takut sekali bila mana Lisa sampai dijemput yang maha kuasa. Apalagi si kembar sempat melihat Lisa terus mengaduh kesakitan sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Lengkap sudah ketakutan mereka. Apa pun yang menyangkut pertaruhan nyawa selalu membuat si kembar trauma dan takut kehilangan.
"Kalian berdua tenang. Doakan bunda dan dedek bayi di dalam sana baik-baik saja. Satu jam lagi kita sudah bisa masuk ke dalam dan bertemu mereka."
Cilla yang sejak tadi bersembunyi di antara ketiak Farhan mendongak. "Tapi bunda kesakitan Yah, Cilla tidak suka melihat dedek bayi itu menyakiti Bunda," protes anak itu setengah menghardik.
Ini adalah kedua kali ia menemani persalinan bundanya. Dan reaksi Lisa selalu sama menurutnya, ia tampak begitu kesakitan, membuat Cilla tidak senang dengan proses melahirkan yang dinilainya sangat menyiksa.
"Semua wanita yang melahirkan memang seperti itu! Mama Jennie saat melahirkan kalian juga merasakan hal yang sama. Apalagi mamamu melahirkan dua bayi sekaligus."
Kata-kata Farhan membuat Cilla semakin takut. Bukannya jadi tenang gadis kecil itu malah berubah kesal.
"Harusnya yang melahirkan ayah saja! Bukan bunda Lisa!"
Dahi Farhan sedikit berkerut. "Kenapa begitu?"
"Ayah Farhan lebih kuat dari bunda." Kali ini Cello yang menjawab. Pria kecil itu ikut mendongak dengan tatapan menyalahkan.
"Betul banget tuh! Harusnya ayah yang melahirkan karena ayah lebih kuat," ucap Cilla membenarkan.
Farhan yang saat itu tengah dilanda kekalutan hanya dapan menghela napas sabar.
"Ya, mau bagaimana lagi? Kodrat wanita memang sudah ditakdirkan seperti itu. Meskipun begitu, wanita sebenarnya sangat kuat. Tidak mungin Tuhan membuat wanita harus menanggung kehamilan sampai melahirkan jika ia tidak bisa menghadapinya. Bukan begitu?"
"Hmmm. Betul sekali! " Farhan mengangguk. Ia menutup mulut Cilla yang menguap lebar tanpa ditutup. "Kamu ngantuk?"
Sepertinya gadis kecil itu kelelahan karena terlalu banyak menangis sepanjang perjalan sampai rumah sakit.
"Iya ngantuk, Yah! Tapi aku gak akan tidur kalau dedek bayinya belum lahir!"
"Kalian berdua tidur saja. Nanti jika dedek bayinya sudah lahir ayah bangunkan."
"Tapi Yah!" Cello menyela.
"Tidur! Percayalah pada ayah."
"Hmmm. Baiklah ...." Akhirnya kedua anak itu sepakat terpejam bersamaan sambil memeluk Farhan. Pria itu terus terjaga seraya menunggu dokter keluar dari ruang operasi. Jika operasi berjalan lancar, harusnya 45 menit lagi Farhan sudah dapat bertemu dengan Lisa dan bayinya.
Setengah jam berlalu, segala doa-doa sudah Farhan panjatkan. Si kembar juga sudah tertidur pulas di pelukan pria itu.
Ceklek ....
Salah seorang dokter masih dengan pakaian bedah keluar dari ruang operasi. Pria itu melangkah menuju kursi tunggu untuk mendekati Farhan.
"Selamat malam Tuan Farhan. Apakah Anda suami dari Nyonya Lisa?" Wajah dokter itu tampak sendu. Membuat Farhan panik mana kala terjadi hal buruk di dalam sana.
"Saya suaminya Dok, apakah istri dan bayi saya baik-baik saja?"
Dokter itu sedikit tersenyum. Namun jelas sekali bahwa wajahnya tengah melukiskan sebuah kesedihan. "Istri dan bayi Anda baik-baik saja. Namun ada hal buruk yang terpaksa harus saya sampaikan."
"Hal buruk?" Lutut dan tangan Farhan seketika gemetar. Iya nyaris melepaskan rangkulan pada dua bocah yang kini masih tertidur pulas di pelukannya. "Hal buruk apa dokter?"
*
*
*
Tahan dulu.
200 komen aku up lagi.
***