HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 93 : (Season 2)



Farhan mengusap-usap kepala Lisa. Ia mendekatkan wajahnya sambil berbisik pelan di telinga Lisa yang masih belum bisa menerima keputusan terberat itu.


"Tenangkan hatimu Lisa. Bagiku yang utama adalah keselamatanmu. Ada dan tidak ada rahim selanjutnya tidak penting. Toh kita sudah dikarunia satu anak kandung."


"Mudah kamu bicara seperti itu, Mas! Aku ini wanita! Hatiku sakit sekali mendengar rahimku akan segera diangkat." Bola mata Lisa menatap nyalang ke arah Farhan. Jarak pandang mereka sangat dekat hingga Farhan harus menelan ludah dengan susah payah saat melihat air mata Lisa berderaian di hadapannya.


Farhan melirik Mami Dina dan Bunda Lynda yang perlahan pergi menjauh. Mereka sengaja melakukan itu agar Lisa dan Farhan dapat leluasa bicara empat mata untuk mengungkapkan segalanya.


Tiga menit berlalu, dan sejauh ini Farhan belum mampu meyakinkan Lisa untuk menyetujui operasi pengangkatan rahim.


Dokter dan beberapa perawat sudah berkumpul, bersiap melakukan tindakan lanjut. Antara menutup bekas sayatan langsung atau mengangkat rahimnya terlebih dahulu.


Pria itu menangkupkan dua sisi wajah Lisa dengan dua tangannya. Napasnya terdengar berat dan dipaksakan untuk kuat. "Dengarkan baik-baik, aku tahu keputusan ini sangat berat untukmu. Aku pun merasakan hal yang sama. Tapi jika kita tidak segera memutuskan, aku takut suatu hari nanti hal ini menjadi penyesalan terbesarku karena terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu. Tidak perlu memikirkan banyak anak, cukup kita bisa menjaga titipan yang sudah Tuhan berikan, kamu sudah menjadi mahluk yang hebat dan sempurna di mata Tuhan Lisa! Terlebih di mataku, kamu istri yang sangat istimewa."


Lisa terdiam. Ia tertegun beberapa saat tanpa reaksi apalagi jawaban.


"Coba kamu ingat-ingat lagi Lisa! Apa tujuan awal kita menikah? Apa memiliki banyak anak ada di daftar keinginan kita? Tidak bukan? Aku yakin ini jalan takdir terbaik yang Tuhan berikan untuk hubungan kita sekeluarga. Tinggal kita memilih, mau menerima kenyataan ini dengaan kesedihan atau kebahagiaan."


Sontak Lisa merangkulkan tangannya di pundak Farhan. Pria itu semakin membungkuk agar sang istri dapat memeluknya lebih erat lagi.


"Maafkan aku , Mas! Aku egois ... aku terlalu takut kamu meninggalkanku jika kita sampai melakukan operasi pengangkatan rahim ini."


"Itu tidak mungkin Lisa! Bahkan saat dokter kandungan pernah memvonismu susah hamil aku masih biasa dan tidak mempermasalahkannya. Apalagi sekarang sudah ada anak kita, aku makin tidak peduli dengan itu semua asal kamu sehat dan kita bisa berkumpul bersama. Mulai sekarang berhentilah melihat dunia luar yang menuntut kesempurnaan. Cukup lihat aku ... aku yang menerimamu apa adanya sejak awal hingga detik ini. Bisakan kamu melakukan itu?"


Wanita itu mengangguk. Mengusap-usap air matanya di bahu kiri Farhan. Benar yang pria itu katakan. Bahagia adalah pilihan. Apa pun takdir yang menimpa kita, kita sendiri yang menentukan untuk menerimanya dengan hati lapang atau drama penuh kesedihan.


"Jadi kamu sudah setuju, 'kan?" Tautan mereka terlepas. Farhan meraih dokumen pernyataan yang harus segera ia tanda tangani.


"Iya, aku setuju."


Pria itu tersenyum lega. Lantas melayangkan kecupan lembut di dahi Lisa. "Terima kasih. Kamu wanita hebatku!"


Farhan segera menandatangi surat pertanyaan itu, disusul oleh Lisa yang ikut menggoreskan tinta dengan hati setengah tak rela dan tangan gemetar tak kuasa.


"Semoga ini yang terbaik ya, Mas!" Lisa memberikan dokumen itu terhadap Farhan.


"Pasti! Terima kasih sekali lagi karena sudah bersedia melahirkan anakku yang tampan. Nanti kita temui dia bersama-sama setelah operasimu selesai."


"Jangan pergi ... temani aku di sini, Mas," rengek wanita itu. Farhan tersenyum seraya mengangguk.


Operasi dimulai kembali. Dokter mulai menyuntikan beberapa obat anestesi kedua di tubuh Lisa. Wanita itu terlihat cemas dan takut. Entah apa yang sedang Lisa pikirkan saat ini.


"Dok!"


Dokter itu menoleh. "Iya Nyonya."


"Bolehkah saya tanya sesuatu?"


"Silakan Nyonya." Dokter itu sigap mendengarkan, sambil tangannya bekerja menyiapkan di bawah sana. Farhan ikut memasang telinga sambil mengusap-usap rambut kepala Lisa dengan pelan.


"Setelah rahim saya diangkat, itu artinya saya langsung otomatis menopause dini 'kan, Dok?"


"Iya Nyonya. Anda akan otomatis menopause setelah rahim Anda diangkat."


Lisa menelan salivanya gugup. Ia tatap wajah Farhan sekilas hingga kemudian membuang muka ke sembarang arah.


"Lalu bagaimana dengan hubungan suami istri, apa kami masih bisa melakukannya? Mmm. Maksudnya apakah pengangkatan rahim ini mengganggu hubungan badan kami?" Gemetar-gemetar takut Lisa menanyakan itu. Ia tahu bahwa suaminya tidak mungkin bisa meninggalkan rutinitas yang satu itu.


"Anda Tidak perlu khawatir Nyonya. Pengangkatan rahim sesungguhnya tidak mengganggu fungsi seksual karena hubungan seksual tidak terkait dengan rahim. Hubungan seksual berlangsung di dalam vaagina yang tidak banyak dipengaruhi oleh pengangkatan rahim, sehingga tidak menimbulkan akibat buruk apa pun dalam kaitannya dengan fungsi seksual. Karena kebetulan Anda hanya melakukan angkat rahim. Sementara untuk indung telur dalam keadaan baik-baik saja dan tidak perlu diangkat."


"Oh begitu ya." Lisa terlihat sumringah. Ia mengembuskan napas lega seraya menatap Farhan yang tersenyum-senyum kearahnya.


"Iya Nyonya! Kecuali jika Anda menjalani histerektomi lengkap (ovarium dan uterus diangkat), kemungkinan besar prosedur ini akan mengubah hasrat seksual Anda. Sebab, ovarium bertugas memproduksi hormon testosteron dan estrogen yang penting dalam berhubungan dan berkaitan dengan gairah seksual. Kadar estrogen yang menurun menyebabkan v*gina kering dan jaringan dalam v*gina menipis yang membuat berhubungan badan terasa menyakitkan."


"Syukurlah, Dok! Saya lega mendengarnya" Lisa tersenyum. Setidaknya ia masih bisa melayani suaminya walau ia tidak mampu lagi memberi Farhan keturunan lagi.


"Oh ya, ada satu keuntungan di balik kejadian ini Nyonya. Karena Anda tidak mendapatkan menstruasi lagi setelah ini, jadi Anda bisa memberikan pelayanan kepada suami Anda kapan saja tanpa mengkhawatirkan kedatangan bulan. Setidaknya masih ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini."


Membuat Farhan melipat bibir, lantas tersenyum cerah ke arah Lisa. "Kamu dengar itu, Sayang? Sekarang aku bisa memakanmu kapan saja tanpa khawatir ada hari merah! Bukankah ini yang dinamakan anugrah?"


Krik .... Krik ... Krik ....


Semuanya diam, terpaku memandang wajah Farhan.


...TAMAT...