
Hallo, ada yang kangen gak?
***
Angin mulai menembus malam di luar sana. Rintik-rintik hujan sudah terdengar berjatuhan dan membasahi permukaan tanah seakan bersiap mengiring kegiatan tidur para penduduk bumi supaya nyaman.
Di kamar utama yang pencahayaaanya sudah diredupkan, Farhan menatap Lisa dengan muka sengit. Dari tadi wanita itu memilih asik sendiri mengarungi dunia halu bersama para oppa-oppa tampan kebanggaannya. Membuat Farhan panas sekaligus membatin kesal lantaran terus dicueki. Pria itu tidak terima karena sang istri sibuk menontron drama kesukaannya dan melupakan kegiatan cumbur rayu yang sudah menjadi jatah rutin Farhan setiap dua kali seminggu.
"Ehmmmm. Kamu masih marah?" Dagunya jatuh dengan lembut di pundak Lisa. Sambil pura-pura ikut menonton adegan drama yang menurutnya tidak menarik sama sekali, tangan Farhan mulai bergerilya ke mana-mana. Menyentuh apa pun yang dia mau sampai si pemiliknya menggeliat seperti ulat keket.
Lisa sedikit mendesis, kemudian menjawab dengan stay cool seolah tak terganggu dengan pancingan Farhan yang berusaha mendapatkan haknya pada malam ini.
"Engga marah, cuma lagi tanggung nonton drama." Tatapan mata yang belum mau beralih dari layar ponsel membuat Farhan berdecak,
Cih, awas saja kalau ancaman yang tadi siang benar kau lakukan. Aku tidak akan menyentuhmu dua bulan. Farhan membatin tanpa sadar. Padahal jikaitu sampai terjadi, pihak yang paling dirugikan atas sumpah serapah itu ya ia sendiri. Dasar batu angkuh, selalu saja lupa diri kalau sudah dimakan emosi.
"Bukankah besok ada rapat pagi?" Lisa bertanya dengan nada datar. Matanya masih belum mau lepas dari adegan uwu-uwu di balik layar ponselnya. "Tidur sana," lanjut gadis itu tambah ketus.
"Tidur?" Seketika Farhan mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Di mana ekspresi itu dibalas Lisa dengan muka jutek yang terkesan menyebalkan.
"Iya lah tidur. Kan jatah malam ini sudah hangus karena ulahmu sendiri," tandas Lisa.
Farhan memekik cukup keras. Merebut dan menaruh ponsel itu ke sembarangan arah. "Hei, Jadi kamu serius mau marah hanya karena masalah tadi siang? Dasar bocah!" Satu cubitan melayang gemas di pipi Lisa, dia tidak marah, malah semakin berani menjelajah. "Sudah kubilang kalimat yang tadi kuucapkan hanya iseng-iseng untuk menggurui Rico. Toh aku tidak pernah merasa kamu seperti itu. Kalau tidak percaya belilah apa pun yang kamu mau, aku tidak akan marah-marah seperti Rico."
Kalimat Farhan membuat Lisa menoleh sinis ke arah Farhan yang sibuk menciumi pundaknya sedari tadi. "Pak Rico memang dasarnya sudah pelit, awas saja kalau kamu begitu, Mas."
"Tidak mungkin, dari dulu aku tidak pernah pelit masalah uang dan harta gono-gini. Kau 'kan tahu persis sedermawan apa suamimu."
"Cih!" Wanita itu menjulurkan lidahnya, bengis. Kemudian menyingkirkan kelancangan tangan nakal Farhan yang sudah berlabuh di salah satu terminal sensitif miliknya. "Aku mau kasih jatah, tapi mintalah dengan sikap yang manja."
"Manja?" Kedua mata Farhan membulat. Lalu mengerjap-ngerjap seperti orang bodoh. "Bukankan posisi kita sedang bermanja-manja? Kurang manja apalagi aku. coba?" Farhan semakin mempererat pelukannya. Lalu menyeruakkan wajah kuyunya di antara ceruk leher Lisa.
Bagi pria kaku seperti Farhan, sikap yang sedang ia terapkan saat ini adalah hal gila yang tidak pernah Farhan bayangkan sebelumnya. Jadi bersikap manja seperti ini menurut Farhan sudah menjadi usaha yang sangat maksimal. Bahkan ia masih sedikit canggung saat memeluk Lisa sambil bergelayut tak jelas begini. Inginnya cepat-cepat melakukan pertemuan agar bisa segera hilang ingatan.
"Hmmm. Kurang dong Mas, aku ingin mendengarkan kalimat manja itu keluar dari bibirmu. Kalau sikap sih sudah lumayan walau kesannya kaku-kaku terpaksa. Tapi kalau kalimat manja aku belum pernah dengar."
"Apa ini bagian dari nyidam anak kita?" Farhan meraba perut datar Lisa yang kian hari makin mengeras. "Kalau iya aku akan turuti."
"Bisa iya bisa tidak."
"Baiklah, akan kucoba." Farhan menarik napas dalam-dalam. Mendekatkan bibirnya di telinga Lisa seraya berbisik, "Aku butuh tatih tayang."
"Uhuukk!" Lisa terselak ludah sendiri. "A-apa tadi Mas? Aku tidak dengar."
"Tidak ada siaran ulang." Farhan kembali menjadi pria kaku. Wajah meronanya ia sembunyikan di punggung kecil Lisa agar tidak kelihatan.
"Serius, belajar bahasa alay dari mana sih, kami?" tanya Lisa sekali lagi. Ia masih linglung mendengar bisikkan Farhan yang nadanya terdengar horor tapi kalimatnya imut-imut.
Iya sih, dia yang minta duluan. Tetapi rasanya aneh saja mendengar kalimat seperti itu keluar dari bibir seorang Farhan yang notabene kaku.
"Sudahlah, kapan mulainya?" Farhan yang sudah kesal langsung menarik ujung tali piyama Lisa. Menarik dan membuang benda itu ke sembarang tempat.
Bibir itu jatuh pada peraduannya, dilanjut dengan adegan 21+ yang sudah jelas tanpa harus dijelaskan.
*
*
*
Beberapa saat usia melakukan....
"Tiga menit lagi, Mas? Yang benar saja!" Lisa bersungut-sungut kesal lantaran ia belum apa-apa tetapi Farhan sudah melayangkan bendera menyerah tanda usai. Karena kali ini tidak dihitung, kemungkinan durasi itu selesai tak sampai tiga menit.
Farhan mengelak kaku seperti biasa. "Aku tidak tahu, mungkin ini efek kelelahan karena seharian banyak melakukan pertemuan di luar kantor. Aku lelah."
Kini Posisi tubuh Farhan memunggungi Lisa. Pria itu merasa canggung dan malu karena ulah si gagang gayung yang kembali payah dan mempermalukan harga dirinya.
Besok aku akan ke klinik mister itu sendiri saja. Sialan! Bersungut dalam hati, tapi wajahnya tetap stay cool pertanda tak mau disalahkan.
Lisa berdecak sambil memukul punggung lebar Farhan dari belakang. "Dasar Tuan Tiga Menit! Nyebeli, tidurlah sana." Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Kemudian memutar tubuh hingga posisi mereka saling memunggungi satu-sama lain. Kalimat itu membuat Farhan panas dan merasa terpancing ingin membalas.
"Kamu juga, dasar tukang parkir gadungan." Dari balik sana, Farhan balas mengejek Lisa sambil ikut memasang nada bersungut-sungut.
"Tukang parkir apanya?"
"Ya kamu tukang parkir gadungan," ejek Farhan ambigu.
"Kenapa bisa begitu?" Lisa berbalik arah, merasa tidak tahan dengan hawa penasaran yang memasuki otaknya begitu saja.
"Di kamar kita tidak ada mobil 'kan? Tapi keluakanmu seperti tukang parkir."
"Apaan sih, Mas?"
Farhan lanjut bicara tanpa peduli. "Terus mas ... terus mas. Apa namanya kalau bukan tukang parkir gadungan?"
Duuuuarr.
"Alaaaan Sialan!"
"Awgh!" Pria itu memekik sakit saat tangan Lisa memuku kepala belakangannya. "Memang iya, kan? Coba hitung berapa kali kamu berkata seperti itu. Padahal di kamar kita tidak ada mobil. Ingat!"
"Keterlaluaan!"
Bug .... Bug .... Bug
Lisa memukuli punggung Farhan secara brutal. Di mana si pemilik punggung itu tersenyum bangga penuh kemenangan lantaran berhasil membuat Lisa kalah telak sekaligus mati kutu.
***
Komen dan Like dong. Season 2 aku jadiin satu, setuju gak mentemen? Aku mau bikin part bucin sekali-kali. BTW season dua nanti ada bawangnya ya, tapi hepi ending kok. wkkwkw. bentar lagi rilis kalo aku gak ada halangan setelah ngelarin Lisa lahiran.