HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Cabut Singkong



"Aku belum apa-apa, dia sudah end. Yang benar saja," gumam Lisa lirih. Gadis itu membanting tas kerjanya di atas meja. Lantas bersandar di kursi sambil melirik jam di dinding kantor. Masih terlalu pagi, pukul enam lebih tiga puluh menit, Lisa sudah berangkat kerja menggunakan taksi karena malas melihat si CEO kutu busuk Farhan.


Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam, saat ia sedang berada di puncak tertinggi, Farhan mengakhiri kegiatannya dalam waktu tiga menit. Mencabut pohon singkongnya dengan tidak tahu diri. So, tak ada acara otot-otot menegang dan berubah lemas. Kepala Lisa pusing karena keinginannya tidak tersalurkan.


Ya ampun, sekesal itu Lisa sampai harus berguling ke samping. Pura-pura kelelahan walau sebenernya ia belum apa-apa. Kegiatan malam itu dilanjut dengan keheningan sampai keduanya tertidur tanpa sadar. Farhan seperti orang yang tidak memiliki salah atau apalah-apalah.


Oh! Lisa pikir, kekesalannya akan hilang setelah menjelang pagi. Ia mencoba mengobrol untuk mengalihkan pikirannya dari acara gagal semalam, namun bayangan-bayangan tubuh indah Farhan masih terus menggerayangi pikirannya.


Kenapa bisa?


Kenapa bisa?


Kenapa bisa?


Kenapa bisa loh, badan sekekar itu cuma bisa bertahan tiga menit. Begitulah pertanyaan sialan itu terus berputar di otak Lisa.


Lisa masih terheran-heran jika mengingat semua itu. "Kenapa Anda tidak seperti CEO perkasa yang ada di dalam cerita sih, Tuan?" gumam gadis lirih.


"Aku mau menyerahkah mahkotaku itu karena tergiur tubuhmu juga. Tak menyangka kamu seperti barang murah yang dibeli di toko online. Zonk pas udah sampe rumah," gerutu Lisa kesal. "Badan saja bagus, isinya puding coklat," lanjutnya kesal.


"Ehemmm." Saat Lisa sedang misuh-misuh sendiri. Teman di samping bangkunya datang sambil menaruh tote bagnya di atas meja. Mbak Vivi duduk, lantas melirik gadis yang tengah kesal itu.


Oh lupa, mulai tadi malam Lisa sudah bukan gadis lagi. Adegan keluar masuk berdurasi tiga menit itu juga termasuk aksi mengambil keperawanan seorang gadis.


"Kenapa marah-marah, Lisa? Masih pagi loh." Mbak Vivi bertanya.


"Aku lagi kesal sama suamiku, Mbak Vi!" jawabnya sambil memangku dagu.


"Kesal kenapa? Ya, ampun! Aku pikir kamu masih gadis, ternyata sudah menikah ya?"


Lisa hanya tersenyum kecut. Entah dia harus merespon yang bagaimana lagi. Memang iya masih gadis, tapi semalam. Harusnya sekarang juga masih gadis kalau tidak ada kekejaman Farhan tadi malam. Kejam? Iya kejam. Karena Farhan hanya mampu memuaskan dirinya sendiri.


Karena ia lihat mba Vivi cukup baik dan berpengalaman. Akhirnya Lisa memberanikan diri untuk bertanya,


“Mba Vi, kalau suamimu hanya mampu bertahan tiga menit di atas ranjang, apa yang akan kau lakukan?”


“Uhukk!” Vivi terbatuk menahan tawanya.


“Astaga, Lis! Itu bercinta atau tutorial makakan oreo?” Vivi tercengang.


“Tentu saja aku akan memarahinya habis-habisan. Lalu berkata pada suamiku, kamu mau bercinta, atau melakukan tutorial makan oreo, Mas? Diputar, dicelupin, end!” Bersama tawanya yang langsung lepas begitu saja.


Lisa terdiam. mencerna omongan mba Vivi yang terdengar mengejek tanpa solusi. Lisa tahu, mengumbar hubungan suami istri itu tidak baik. Tapi, ia yang merasa masih baru menikah bingung harus bercerita kepada siapa lagi. Apalagi teman yang ia punya dikantor hanya mba Vivi. Dia juga sudah berpengalaman untuk menjawab pertanyaan Lisa. Anaknya sudah dua soalnya.


"Maaf Lis, kamu tersinggung ya?" Vivi memegang tangan Lisa. Vivi tahu bahwa gadis itu nampak frustasi. Seperti ada segudang emosi yang tak mampu untuk dijelaskan.


"Gak marah, Mba! Memang suamiku begitu. Kita baru menikah, aku pikir suamiku keren kayak—" Lisa menahan hayalannya tentang CEO perkasa. "Ah sudahlah, aku malas balas dia," lanjutnya sambil menyalakan layar komputer.


"Kok kamu bisa tahu hanya tiga menit? Memangnya kamu sempet menghitung durasi?" Mbak Vivi sedikit bertanya heran.


"Kebetukan di kamarku ada jam dinding yang menyala jika lampu dimatikan. Semacam lampu tidur, Mbak! Jadi aku melirik jarum jam yang berputar."


Mbak Vivi ingin tergelak lagi, namun ia tahan sebisa mungkin. Ia tidak mau menyakiti Lisa meski ceritanya memaksa mulut ber-auto ngakak.


"Lis, kamu yang sabar, ya. Kalau baru pertama kali nikah memang begitu. Itu artinya suamimu belum berpengalaman. Dia belum bisa mengontrol pelepasannya. Coba kamu jelaskan baik-baik, kalau wanita juga sama seperti laki-laki; sama-sama butuh kepuasan," tutuh mbak Vivi sambil meremas lengan Lisa.


"Tapi aku malu, Mbak! Suamiku itu polos banget!" Walau umurnya sudah om-om, lanjut Lisa damam batinnya.


"Justru yang polos harus kamu ajarin agar hubungan rumah tanggamu baik-baik saja. Gak enak loh, memendam rasa seperti itu. Utarakan apa mau kamu. Suami kamu bukan Tuhan yang bisa peka dengan isi hatimu. Jujur Lis, jangan sampai makan hati."


Lisa cukup terkagum dengan edukasi yang diberikan mbak Vivi.


"Di dunia ini, wanita yang bernasib seperti kamu pasti ada banyak, Lis. Tak jarang mereka memilih selingkuh daripada harus mengungkanpan keinginannya pada sang suami. Amit-amit! Jangan sampai kita selingkuh hanya karena masalah ranjang." Mbak Vivi mengetuk meja tiga kali sambil mengerjapkan matanya.


"Makasih banyak ya, Mba! Tadinya aku bingung, tapi setelah mendapat pencerahan dari Mbak Vivi, aku sedikit paham."


"Bagus, jangan misuh-misuh lagi ya," ujar mba Vivi sambil menyalakan komputernya. Sudah hampir jam tujuh, waktunya untuk menjalani aktifitas pekerjaan yang memusingkan.


"Aku juga sempat tanya pada suamiku, pernah nonton film biru nggak? Dia malah bingung. Katanya gak paham, malah tanya, emangnya mereka gak malu divideoin buka-bukaan. Kan aneh, Mbak!" decak Lisa yang belum mau memutus obrolan paginya.


"Ya ampun, polos banget suamimu itu." Mbak Vivi tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya polos banget, aku yang perempuan aja udah nonton tiga kali," celetuk Lisa.


Tiba-tiba, Farhan dan Rico lewat, menyita semua pandangan para kariawan yang mulai berdiri untuk memberi ucapan selamat pagi.


Duduk kembali, mbak Vivi berbisik pada Lisa,


"Coba kalau suami sekeren tuan Farhan. Pasti kamu langsung kelojotan di atas ranjang. Gak bakalan bisa bangun deh," bisik mbak Vivi menggoda.


Detik itu juga, Lisa menggigit pulpen yang ia pegang sampai patah ujungnya.


"Ya ampun, Lis!" Mbak Vivi menepuk bahu Lisa gemas. "Jangan diambil hati, aku 'kan cuma bercanda. Gak maksud bedain suami kamu sama tuan Farhan yang perkasa."


Vivi terkekeh geli. Mengabaikan Lisa yang menggeram di dalam hati. Mendengar nama Farhan disebut, hatinya kembali panas. Teringat ritual aye-aye yang gagal tadi malam.


***


Wkwkwk. Ini loh, jawaban dari adegan yang kata kalian gak hot.


Hari ini 2 bab aja ya, kecuali kalo dikasih poin banyak, aku mikir lagi. Wkwkw.