
Sepertinya aku sudah gila. Bagaimama bisa aku sangat menikmati kegiatan tidak bermoral ini? batin Farhan saat kesadarannya berangsung-angsur pulih.
Pria itu mengatur napasnya yang tersengal setelah melakukan tambahan dua ronde ritual jahanamnya dengan Lisa. Jantungnya masih bertalu-talu. Ia merasa kasihan pada Lisa yang terkapar tak berdaya di atas sofa.
Farhan merasa begitu dominan menguasai permainan. Sampai tak sadar ruang kerjanya nyaris seperti kapal pecah. Tidak hanya di atas sofa, Farhan juga mengeksekusi Lisa habis-habisan di atas meja kerjanya sebanyak dua kali.
Jam dinding yang jarumnya terus bergerak adalah saksi bisu bahwa kegiatan itu berjalan lancar tanpa hambatan.
"Terima kasih," lirih Lisa dengan susah payah. Wanita itu bangkit dari posisi tidurnya perlahan. Duduk bersandar sambil menutupi tubuh polosnya dengan tangan. "Bisakah kamu membantuku memakai baju?"
"Hmmm." Farhan memunguti beberapa baju Lisa yang berceceran di atas lantai. Lalu memakaikannya pada Lisa secara hati-hati.
"Sepertinya ini tidak bisa di gunakan lagi." Farhan menyapit dalaman Lisa yang sedikit terkoyak.
"Berikan itu padaku!" Wanita itu langsu merebut benda pribadinya secepat kilat. Wajahnya merona merah karena malu.
"Ah, kadang aku heran saat melihat urat malumu yang tiba-tiba muncul seperti ini," ejek Farhan tanpa perasaan. "Ternyata kamu masih punya malu juga setelah menggoda bossmu di kantor," lanjutnya sambil beranjak pergi.
"Kamu suamiku. Kita pasangan halal," tangkis Lisa sebal. Sontak, wanita itu melemparkan sepatunya ke punggung Farhan. Pria itu terus berjalan ke arah kamar mandi tanpa berkomentar.
Satu jam kemudian, keadaan ruang kerja Farhan kembali normal. Sudah mereka bersihkan dan layak disebut tempat bekerja. Mereka juga sudah selesai makan siang. Kali ini Farhan sedikit perhatian dengan membelikan Lisa satu set pakaian secara online. Bisa dibilang baik, atau bisa juga dibilang kasihan melihat baju kerja Lisa yang lusuh karena permain eksekusi buas seorang Farhan.
"Tuan!" panggil Lisa sambil memijat kepalanya pusing.
"Apalagi? Baru mulai kerja satu jam," balas Farhan jengkel. Tak bisakah Lisa tidak memanggilnya terus-menerus? Farhan juga butuh konsentrasi dengan urusannya sendiri.
"Itu bukan pekerjaanmu, tolak saja!" seru Farhan emosi. Ada cemburu yang tanpa sadar sedang terjadi.
"Tapi dia maksa, bilangnya hanya meminta saran. Waktu itu aku sudah mencicipi testimoni burgernya. Sangat enak untuk ukuran buatan Indonesia. Apa Anda punya saran nama yang cocok?"
"Chum Bucket!" Farhan menoleh sambil tersenyum smirk. "Jangan lupa berikan logo ember terbalik agar terlihat keran," lanjutnya lagi.
"Ya Tuan, apa Anda bisa sedikit memberi saran yang baik. Kenapa menyarankan restauran bangkrut Plankton untuk dijadikan referensi?"
"Bisakah kau berhenti menggangguku. Pikirkan saja sendiri!" Satu gebrakan meja membuat Lisa mengerjap. Wanita itu langsung diam seribu bahasa. Tidak berani mengajak Farhan bicara kembali.
Saat semua kembali hening, tiba-tiba Farhan dikejutkan oleh kedatangan Rico yang masuk seperti hantu. Pria itu menutup pintu. Berdiri di ambang pintu sambil menatap Lisa dan Farhan secara bergantian. Wajahnya murka, penuh kilatan-kilatan amarah yang tidak bisa dijelaskan dengan lisan.
"Hei kalian!" Rico berseru emosi. "Bisakah kalian berdua mematikan CCTV sebelum melakukan adegan jahat itu? Aku nyaris jantungan saat tak sengaja melihatnya. Untung semuanya belum di mulai!" protes Rico semakin murka. Padahal ia hanyai ingin melihat keadaan kantor, tak menyangka Farhan dan Lisa membau Dipsy yang masih sakit mendadak terkejut.
"Huuh. Aku lupa," jawab Farhan enteng. Sementara Lisa hanya dapat tertunduk jengah. Tidak berani menjawab karena malunya sudah tak tertahan.
Gara-gara kelakuan kalian, Dipsiku jadi baper sampai sekarang tahu, batin Rico sambil menahan gejolaknya sedari tadi. Rasanya ingin pindah ruang kerja jika mengingat kegiatan laknat berdurasi total 75 menit itu.
***
Aku ucapin terima kasih atas banyaknya dukungan dan cinta kalian kepada Farhan dan Lisa.