
Farhan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Suasana rumah terlihat sepi, sepertinya bunda dan si kembar tidak ada di tempat. Mungkin sedang ke luar atau jalan-jalan ke mall.
Melirik ke samping, pria itu mendapati sang istri sedang tertidur seraya memangku keranjang kucing anggoro. Ada si imut yang juga ikut tidur di dalamnya. Benar-benar serasi.
"Hei ...." Farhan menepuk bahu Lisa—pelan. Tak ada reaksi apapun dari anak itu. Sepertinya Farhan harus sedikit lebih kasar. Misalnya mencubit kidung Lisa sekeras-kerasnya.
Mendekat kepala perlahan, bola mata Farhan tertuju pada bibir merah muda yang sangat menggoda. Rasanya seperti terhipnotis Dady Corbuzier. Farhan diam dan tak berkutik. Tubuhnya menegang dengan napas yang tak hentinya naik-turun. Lupa sudah niatnya untuk menjaili Lisa. Bahkan, menelan saliva saja rasanya susah sekali.
"Euhgh!" Lenguhan Lisa membuat Farhan tersentak. Lisa yang baru membuka mata langsung memasang kuda-kuda. Di mana Farhan mengerjap bodoh seraya menyembunyikan kilatan gairah di wajanya.
"Mau apa, Tuan?" Sambil memegang dada.
Farhan memundurkan wajahnya, tidak jadi mencium Lisa, lalu membuka seatbelt milik wanita itu. "Mau membangunkanmu, memangnya mau apa?"
Pria iru membuka pintu mobil, lalu berjalan menuju pintu rumah meninggalkan Lisa sendirian untuk menstabilkan jiwa lelakinya.
"Tunggu!" seru Lisa, gadis itu segera turun dari mobil sambil berlari. "Kok sepi? Anak-anak mana?"
Lisa mensejajarkan langkahnya dengan Farhan. Menoleh polos dengan keranjang kucing yang ia tenteng hati-hati.
"Tidak tahu, kita lihat saja!" Farhan membuka pintu. Mengedarkan pandangan di rumah yang nampak sepi penghuni. Seperti tidak ada hawa kehidupan di rumah itu. Karena biasanya rumah sangat ramai dengan suara teriakkan dari si kembar yang rutin bercanda tawa.
Tidak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga datang dari arah dapur untuk menyambut Farhan dan Lisa.
"Selamat pagi, Tuan, Nona," sapa asisten itu.
"Anak-anak kemana, Bi?" Lisa bertanya mewakili Farhan.
"Oh, anak-anak sedang pulang ke rumah utama bersama Nyonya Linda."
"Rumahnya ayah sama bunda, 'kan?"
"Betul, Non!"
"Ayo kita ke sana! Aku sudah lama juga tidak bertemu ayah Hermawan." Lisa beralih pada Farhan sambil bergelayut manja. Tatapannya sangat bersemangat, namun Farhan meresponnya dengan nada ketus.
"Kau saja, aku ngantuk!" Pria itu melangkah angkuh menuju kamar.
Lagi, Lisa menyusulnya dengan buru-buru. Menuju kamar yang pernah ia tiduri selama dua kali. Kamar bersejarah di mana Lisa menyerahkan keperawanannya pada Farhan beberapa hari yang lalu.
"Tuan, kenapa tidak mau? Bukankah kau yang menyuruhku mendekati mereka?"
Lisa mendekat. Memperhatikan Farhan yang sedang mengambil dalaman untuk ganti.
"Tuan!"
Farhan terus mengabaikan Lisa, berlalu ke kamar mandi dengan celana dalam baru, boxer spongebob, celana, dan baju santai yang baru saja ia ambil dari dalam lemari.
"Ada apa dengan si batu bernapas itu? Dasar BMKG, sepertinya hatimu sedang terkena bencana tsunami," gerutu Lisa kesal.
Lisa menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Tahu akan jadi seperti ini ia lebih baik di apartemen saja. Anak-anak tidak ada, suami mendadak PMS, lengkap sudah kesialan Lisa. Inilah yang dinamakan, sudah jatuh tertimpa gajah kembar pula.
Farhan keluar, mengenakan kaos putih polos dan celana jogger hitam. Sudah dapat ditebak bahwa pria itu tidak jadi kemana-mana.
"Tuan," decak Lisa sebal. "Apa Anda tidak ingin menyusul si kembar?"
Hening. Farhan duduk di sofa seraya membaca majalah politik. Pria itu paling sensitif jika harus pulang ke rumah utama. Bagaimanapun juga hubungannya dengan ayah Hermawan tidak berjalan selayaknya manusia normal.
"Tuan, sampai kapan kau mengabaikanku?"
Lagi-lagi yang terjadi hanya keheningan.
"Ah, sepertinya jika aku mati berdarah-darah sampai kehabisan napas, kau akan terus mengabaikanku seperti ini." Lisa meraih bantal guling, bersiap bobo cantik daripada makan dongkol. Sayangnya, mata itu tidak dapat diajak kompromi. Maka turunlah Lisa dengan kaki telanjang, lantas menghampiri Farhan yang asik membaca buku. Ikut duduk di samping jelmaan batu bernapas.
"Hoamm." Lisa menguap saat melihat aneka bacaan politik yang ada di tangan Farhan. Pantas saja pria itu hanya bertahan tiga menit di atas ranjang, bacaannya saja hanya seputar pekerjaan dan politik. Lisa yakin, pria seperti Farhan tidak akan tahu seperti apa nikmatnya main solo di kamar mandi. Yakin seratus persen.
"Tuan, apa Anda sudah pernah main solo di kamar mandi?" pancing Lisa iseng-iseng berhadiah.
"Beraninya kau menanyakan hal seperti itu?" Farhan menoleh geram.
Saking kesalnya Lisa, dia berani menantang maut. Membelah gunung merapi dan bersiap mata. Pertanyaan Lisa terlalu memalukan, padahal mereka baru saja menjadi suami istri beberapa hari lalu. Tidak tahu malu sekali gadis itu. Membuat pipi Farhan merona merah, bersamaan dengan aura menghitam di sekeliling tubuhnya. Pria mana yang mau menjawab saat ditanya seperti itu? Lisa dan Farhan belum terlalu dekat untuk membahas hal seintim itu.
"Ah, sudah kutebak, Anda pasti belum pernah," ejek Lisa semakin jadi.
Wajah Farhan merah padam dengan tatapan yang semakin menyalang.
"Kau mau mati yang bagaimana?" seru Farhan Murka.
"Aku mau mati dipelukanmu." Lisa merangkul Farhan dengan tidak tahu dirinya. Mengikat erat tubuh kaku itu sekuat tenaga. Kepalanya mennyandar cantik di dada bidang Farhan.
"Tidak mau!"
"Dasar menyebalkan!"
"Biar saja."
"Huaaah!"
Sebuah teriakkan membuyarkan mereka berdua. Keduanya saling pandang dengan muka bingung.
"Cilla!" Seru Farhan dan Lisa kompak.
Mereka langsung berlari ke sumber suara. Ternyata, gadis kecil itu sedang menangis ketakutan di gendongan neneknya.
"Ada apa?" Farhan berseru panik.
"Cilla takut itcuuh ...." Menunjuk kucing yang sedang dimainkan oleh Cello.
Farhan menghembuskan napas lega. "Biar aku bawa Cilla ke kamar, Bun." Mengambil anak itu dari gendongan sang bunda, Farhan mengajak Cilla ke kamarnya sambil menyuruh gadis itu berhenti menangis.
"Ini kucing kakak Lisa, ya?" Cello terlihat senang.
"Namanya Milo, tolong jaga baik-baik ya." Lisa tersenyum, tangannya mengelus puncak kepala Cello gemas.
"Kakak Lisa mau ke kamar adik sebentar, ya?" Wanita itu menoleh pada bunda. "Lisa ke kamar Cilla bentar ya, Bun."
"Iya. Makasih banyak ya, Lis!" Tangan bunda sedikit menyentuh bahu Lisa.
"Jangan bilang seperti itu, anak Jennie adalah anakku meski aku tidak menikah dengan tuan Farhan sekalipun."
Lisa berlalu cepat tanpa menunggu balasan bunda. Sementara bunda hanya geleng kepala melihat tingkah anak itu. Panggilan 'tuan Farhan' menyiratkan bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja. Bunda yakin pasti seperti itu.
***
Tangan Lisa membuka pintu kamar Cilla perlahan. Dia tersenyum haru saat melihat sang suami sedang memangku anak itu. Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Lisa masuk ke kamar. Di mana Cilla langsung bringsut dari pangkuan ayahnya.
"Jangan ke kamal Cilla," gertak gadis itu.
"Kakak hanya mau memberi sesuatu untuk kamu. Ini peninggalan dari mama Panda, loh."
Mendengar itu, Cilla nampak antusias. "Mana?" Gadis kecil itu menoleh pada Lisa.
"Di kotak ini ada sebuah rahasia mama Panda. Kamu boleh memilikinya, asal kamu berjanji menjadi anak baik."
"Ya, Cilla janji!" serunya tanpa berpikir dua kali. Mata Cilla dan Farhan tertuju pada kotak sedang yang Lisa bawa. Kotak berwarna merah muda dengan pita biru muda yang terikat rapi mengelilingi diameter kotak itu.
"Jaga baik-baik ya," ucap Lisa sambil memberikan kotak itu. Cilla langsung menyambar cepat kotak itu. Buru-buru Lisa menjauhkannya kembali.
"Ada satu syarat lagi. Kalau mau kotak ini, kamu harus berteman dengan kakak."
Gadis itu menyerngit tidak senang.
"Ya udah, kita temenan," ketus Cilla.
"Janji dulu."
Lisa mengulurkan jari kelingking. Sebuah tanda persahabatan yang sering di lakukan anak-anak pada umumnya.
"Iya!" Jari Cilla sudah bertaut dengan jari Lisa, namun bibirnya masih cemberut.
"Maka kotaknya? Kan syudah belteman," ujar gadis kecil itu—protes.
"Ini." Memberikan pada Cilla. "Bukanya nanti ya, kalau kakak Lisa sudah pulang.
Gadis kecil itu mengangguk paham.
"Kamu takut anak kucing?" tanya Lisa sambil memperhatikan wajah Cilla yang masih sembab. Bekas menangis.
"Iya. Kucingnya ikut-ikut teyus."
"Waah, bagus dong! Itu artinya Milo suka sama kamu. Mau berteman dengan kamu. Kasihan nasib Milo, sama seperti kakak Lisa, pengin banget temenan sama Cilla, tapi Cillanya ngga mau berteman dengan kak Lisa dan Milo sepertinya."
Wajah Lisa dibuat sesedih mungkin. Sampai Cilla merasa bersalah karena sempat menjauhi Lisa tanpa sebab.
***
Jangan Lupa kasih vote yang banyak.🤣