
Acara puncak penggalangan dana untuk anak yatim piatu yang ditunggu-tunggu telah tiba . Semuanya telah berkumpul di ruangan yang telah diumumkan di awal acara tadi.
Skala berdiri sombong di pojok ruangan sambil menatap Farhan yang tengah mengobrol dengan Zian dengan muka remeh.
"Sekarang manusia kaku itu pasti sedang memuji kedermawananku karena telah menyumbang sepuluh Milyar. Ck. Dia pikir aku orang pelit apa! Aku ini dermawan tak kawan-kawan!" omelnya sendiri. Padahal tak ada yang memberi cap bahwa Skala orang pelit. Hanya saja pikiran pria itu selalu negatif jika sudah menyangkut tentang Farhan.
Bianca yang sedang menikmati segelas coktail buah mencibir sinis. "Kamu bukan dermawan, tapi pencitraan!" sungutnya.
"Apa sih, Cha? Kamu dari tadi mengejek suamimu terus. Memang tiga ronde yang tadi masih kurang? Mau cek in lagi," kesal pria itu tidak terima.
"Cih!" Bianca memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku bosan di ruangan ini, tahu! Aku mau keluar. Sudah sejak tadi kita di sini menonton kumpulan orang-orang pencitraan sepertimu."
"Astaga! Mulut kamu ini minta dicabe-in!"
"Aku bosan! serunya tegas.
"Di luar panas, Cha!" tolak Skala malas. Apalagi di sana banyak ibu-ibu dari kalangan masyarakat biasa yang membawa serta keluarganya untuk menikmati hiburan gratis. Pasti ribet sekali, pikirnya.
"Tapi aku mau ... kamu sudah janji akan kembali ke sana tadi. Memangnya kamu tega sama aku? Kalau tega ya sudah ... aku ke sana sendirian saja."
Bianca memelas penuh nada kepura-puraan. Membuat Skala mendengkus, dan mau tak mau menuruti permintaan wanita yang tengah mengidam muda itu.
"Padahal waktu kamu minta 'itu' langsung aku kasih sampai aku tidak jadi jalan-jalan di luar, tapi giliran istrinya ingin kamu tolak. Suami macam apa seperti itu!"
Imbuhan kata yang Bianca berikan semakin menyudutkan Skala dari berbagai segi. Tentunya masih diikuti raut wajah yang sok dibuat menyedihkan.
"Baiklah ... ayo! Memangnya kamu mau naik wahana apa? Awas saja kalau kamu berani naik wahana ombak yang menyeramkan itu!" ancam Skala.
Bianca terkekeh. "Tidaklah Ska! Aku hanya ingin keliling menikmati suasa pasar malam versi orang kampung. Jarang-jarang 'kan ada festival rakyat yang digelar di halaman hotel seperti ini?"
"Bukan hanya jarang! Tapi hanya orang yang berpemikiran gila yang memikirkan ide macam begni!" Kata itu tertuju pada Farhan, walau konsep sebenarnya ditentukan oleh William.
"Iya deh ... iya! Ayo kita ke sana. Ada yang ingin sekali kulihat di tempat itu.
"Hmmm." Skala berdeham, lantas mengikuti langkah kaki Bianca menuju halaman samping hotel, tempat di mana acara festival rakyat itu digelar.
Tempat itu sekilas seperti pasar malam. Banyak makanan dan wahana yang membuat Bianca lapar mata. Ia mengajak suaminya ke stand pop corn untuk mengantre pop corn gratis di sana.
"Berasa kayak di Thailand ya, Ska?"
Setelah mendapatkan pop corn yang ia mau, Bianca melangkahkan kakinya riang ke tempat yang sejak tadi dituju. Skala menaruh dua tangannya di kantung celana sambil menyusul langkah kaki Bianca yang dinilainya sangat cepat.
"Seantusias itukah dia dengan tempat ramai membosankan ini?" Skala menggurutu kesal di belakang wanita itu.
"Hati-hati! Kamu harus ingat kalau kamu sedang hamil!"
"Iya Suamiku Sayang!" Bianca menghentikan langkahnya di depan tong besar dengan suara yang sangat bergemuruh di dalam sana.
Skala mensejajari berdiri Bianca sambil berkacak pinggang. "Tidak jelas! Brisik. Ayo pergi!"
Bianca menoleh dengan wajah bahagia. "Nama wahananya tong setan Ska!"
"Aku sudah tahu, memangnya kamu pikir aku sekuper itu, apa sampai tidak tahu tong setan?" Skala menatap sebal pada istrinya. "Acara ini gila! Kamu yakin ini acara orang kaya? Masa sunatan hiburannya tong setan! Seperti tidak ada hiburan lain saja!"
Skala bersungut-sungut kesal pada istrinya. Tak kuasa menahan suara berisik yang memekakkan gendang telinga.
"Katanya untuk mengenang mendiang ibunya yang dulu suka balapan liar, Ska! Udah nikmatin aja, lebih baik kita ke atas, aku mau ikut nonton juga!"
Membuat dua bola mata Skala mendelik. "Kamu mau nonton begituan? Gak inget kondisi kamu lagi hamil anak kedua kita? Kalau perut kamu ketabrak bagaimana? Langkahi mayatku dulu kalau mau nonton tong setan itu!"
"Pelit!" tukas Bianca menggerutu. Tiba-tiba suar Bergemuruh disertai angin ribut datang dari arah atas sampai membuat Skala refleks melindungi sang istri. Pop corn yang dipegang Bianca sampai terjatuh saking terkejutnya.
Bug .. ubug ... ubug ... ubug ... ubug ...ubug. Semua yang ada di sana sontak menyingkir karena sebuah helikopter datang mengejutkan semua pengunjung.
"Gila! Acara macam apa ini?" Skala bergerak menjauh sambil terus memeluk istrinya. Ada yang takut, ada juga yang terkagum-kagum begitu melihat helikopter berada tepat di atas kepala mereka.
"Auuuuuuoooooooooooooo!" Suara teriakan menggunakan mix terdengar menggema dari atas. Lengkap ... benar-benar lengkap sampai tarzan ikut Transmigrasi ke acara ini.
*
*
*
Bismillah. Mau fokus dan namatin cerita ini dulu. Kasih semangat dan doanya ya. Biar bisa crazy up up. Wkwkkw. Makasih atas semangat dan pengertian untuk tidak menghujat karena kelamaan update. Karena kalau ada satu aja yang menghujat aku pun manusia biasa yang punya hati dan prasangka buruk. Aku jadi mikir negatif, aku ngasih bacaan gratis, aku g dibayar sama kalian, tapi kalian semena-mena itu sama aku. Ini isi pikiranku yang membuat aku down dan akhirnya ngaruh ke cerita. Jadi lama updatenya.