HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Apa Yang Terjadi?



Perasaan emosi masih menari-nari di kepala Rico. Namun, ia masih memiliki beberapa urusan penting di mana Farhan adalah orang yang harus dijadikan objek utama dalam menjalani tugasnya.


Maka di sinilah Rico berada. Duduk di kamar Farhan sambil menyiapkan pakaian—sudah seperti istri idaman yang ada di dalam cerita novel-novel romantis.


Sedikit pembahasan, setiap sekretaris Farhan memang selalu memiliki segala kebutuhan Farhan di rumahnya. Hal ini sengaja dilakukan jika pagi-pagi ada perubahan acara mendadak. Rico akan membawakan baju atau dasi yang pas untuk dikenakan Farhan. Juga barang-barang lain yang dibutuhkan Farhan. Karena segala jadwal dan perubahannya hanya sekretaris yang tahu. Farhan terima beres.


Dulu, hal ini adalah tugas yang selalu dihandle Katy. Namun, sekarang sudah diambil alih oleh Rico dan Lisa yang masih menjadi sekretaris paling junior. Katy masih sibuk mengurus bisnis di luar negri.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Farhan saat membuka pintu kamar mandi. Rico nampak sedang duduk santai di atas kasur Farhan.


Hal yang paling Farhan tidak suka adalah: Ada orang asing yang berani duduk di kasur Farhan. Dan Rico melakukan ini untuk pertama kalinya. Terkesan ingin memancing peperangan dengan Farhan Budiman.


"Saya sedang menyiapkan baju, sambil menunggu Anda selesai mandi," jawab Rico ketus. Matanya melengos ke samping dengan muka setengah malas.


"Kalau begitu keluarlah! Kau masih marah denganku bukan?"


Ah, pertanyaan Farhan dapat menimbulkan kesalahpahaman jika didengar oleh orang ketiga—apalagi Lisa.


"Tidak mau, Anda bisa ganti baju di kamar mandi."


"Kenapa kau hobi sekali mencari gara-gara denganku sih!" Bertanya dengan kalimat penegasan. Farhan meraih baju yang ada di atas ranjang—agak kasar, lalu masuk ke kamar mandi sambil membanting pintu sekuat tenaga.


"Heuh." Rico mendengkus dengan mata memicing sinis. "Dasar boss angkuh!" umpatnya.


Begitulah mereka berdua jika sedang kemusuhan. Saling melempar pandangan tidak senang dengan suara bariton khas pria yang tidak cocok sama sekali. Sejauh ini, semua yang mereka lakukan adalah tindakan di luar pekerjaan. Selepas itu mereka akan kembali bersikap dewasa layaknya boss dan asisten. Kembali menjadi Farhan dan Rico yang berwiba di depan para kariyawannya.


Farhan keluar dari kamar mandi, matanya masih sibuk menyelusuri pakaian yang baru saja dikenakan. Sangat aneh dan tidak nyaman.


"Kenapa kau memberiku pakaian aneh seperti ini? Apa kau ingin mempermalukanku di depan semua kariyawan?"


"Jadwal Anda hari ini bukan untuk bekerja, Tuan. Tidak perlu khawatir, aku sudah mengambil cuti dan membatalkan beberapa jadwalmu."


"Maksudmu?" Farhan mengerjap-ngerjap. Pandangannya lurus menatap Rico, agak emosi.


Netra hitam Farhan menyalang, murka. "Bedebah, apa yang kau lakukan dengan perusahaanku, hah? Apa kau sebegitu marahnya sampai harus meliburkan setengah kariyawan?"


Farhan benar-benar murka kali ini. Menurutnya, Rico terlalu menyalahgunakan kekuasaan yang Farhan berikan selama ini. Rico memang bebas melakukan apapun, namun meliburkan setengah kariyawan adalah tindakan yang fatal dan merugikan perusahaan.


"Ya, memang saya melakukan ini. Namun, ini adalah hal yang wajib saya lakukan. Saya pastikan Anda tidak akan mengalami kerugian apapun. Saya sudah mengatur semuanya dengan waktu sesingkat dan sebaik mungkin. Bersiaplah ... ayo kita berangkat."


"Berangkat ke mana?"


Farhan semakin bingung. Ia seperti melewatkan satu dekade yang berharga. Entah ada masalah apa di balik tidak sadarnya Farhan selama seharian kemarin. Kenapa semuanya nampak asing? Seperti bukan berada di dunianya.


"Sebenarnya ada masalah apa dengan perusahaan? Bisakah kau menjelaskannya dulu padaku?" Farhan kembali menatap Rico dengan perasaan terombang-ambing. Wajahnya berubah pucat, ditambah tingkat kepo maksimal yang menggerayangi pikirannya.


"Perusahaan baik-baik saja, Tuan. Jangan terlalu banyak bertanya karena keadaan kita sedang tidak rukun tetangga. Saya hanya seorang profesional yang wajib melaksanakan tugas meski objeknya sangat menyebalkan."


"Beraninya kau! Cepat katakan apa yang tejadi? Atau aku akan membunuhmu." Kembali membentak Rico, tangan Farhan terangkat satu. Bersiap-siap memukul Rico. Namun, Rico menurunkan tangan Farhan dengan gerakan lemah lembut yang terkesan menjijikkan.


"Anda tidak mungkin melakukan itu padaku." Rico mendorong tubuh kaku Farhan agar segera keluar dari kamar. "Bekerja samalah untuk hari ini. Anggap saja ini sebagai bentuk Anda menuruti keinginan saya. Bukankah Anda tadi bertanya apa yang saya ingin? Inilah yang saya inginkan. Menurutlah pada saya selama satu hari ini."


Dengan pikiran tidak karuan, Farhan mengangguk. Mengikuti keinginan Rico yang akan membawanya entah ke mana. Sekelebat bayangan bangkrut melintas dipikiran Farhan. Atau jangan-jangan ada hal yang membuat nama Farhan tercemar dalam waktu seharian.


Ah, tebakan yang rumit untuk dijabarkan.


Perusahaanku masih aman, kan? Bertanya pada diri sendiri dalam hati.


Apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya melewatkan waktu satu hari. Kenapa semuanya terlihat kacau sampai harus meliburkan setengah dari kariyawan di hari kerja?


***


Jangan Lupa bagi-bagi poin.... dan vote ya manteman. Makasih.