HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Sepenggal Kisah



Kembali lagi pada masa pertemuan Rico dan Farhan. Sepenggal kisah di balik kedeketan mereka yang terus bertahan sampai detik ini.


Saat itu, matahari tepat berada di ujung kepala. Panasnya akan membakar kulit jika kita berdiri lebih dari satu jam di luar ruangan. Sementara di dalam rumah, Rico sedang menemani Farhan makan siang setelah lelah belajar. Pria muda itu sedang ngambek dan merindukan masa-masa indah di panti asuhannya.


"Makan lah yang banyak Tuan Muda, menjadi kuat dan berkuasa juga butuh tenaga eskra." Rico menambahkan tiga potong rendang dan aneka lauk ke piring Farhan. Pria kecil itu terus menatap ruang hampa di depannya. Tidak peduli pada Rico yang sedang menambahkan banyak lauk di piringnya.


Farhan yang masih berusia delapan belas tahun itu menaruh dagunya di atas meja. Menyingkirkan piring berisi makanan yang Rico berikan. "Aku ingin pulang. Aku tidak suka berada di tempat ini. Terlalu menyiksa seperti neraka."


"Sudah setengah jalan, belajar dan perjuanganmu akan sia-sia jika berhenti di titik ini. Aku yang selalu ada di belakangmu juga merasa tidak berguna jika kau sampai menyerah, Tuan Muda," balas Rico menyemangati. Ia mengambil piring Farhan kembali. Tangannya cekatan membelah daging dengan sendok, lalu mengulurkan satu suapan penuh ke mulut Farhan.


"Aku tidak ingin makan." Farhan melengos malas.


"Jika kau tidak mau makan, aku tidak akan mau menemanimu lagi."


Sontak mata Farhan membola, mulutnya menyambar suapan Rico, lalu mengunyahnya dengan gerakan kasar. Teman Farhan saat itu hanya Rico, dia tidak mau lagi menemani Farhan, maka hidup pria muda itu akan sepi.


"Suapi aku sampai makanannya habis," ujar Farhan.


"Baik Tuan." Rico terus menyuapi Farhan sampai makanan itu habis. Entah mengapa, Farhan yang tidak bersela pada awalnya langsung lapar begitu makanan itu berpindah tangan ke Rico. Jadi seperti ini rasanya disuapi? Farhan baru pertama kali merasakannya.


"Jadi bagaimana, Tuan, apa Anda akan belajar lagi habis ini?"


Mood Farhan kembali buruk mendengar pertanyaan itu. "Sudah kubilang, aku ingin pulang!" tegas Farhan kesal. Matanya merambang, penuh dengan kristas bening yang siap terjatuh kapan saja.


"Tapi kita sudah setengah jalan!" balas Rico ikutan nyolot.


"Masih ada anak kandung tuan Haris. Tidak masalah bukan? Aku lebih baik kembali menjadi orang kecil daripada harus hidup terkekang seperti ini. Kau tahu, setiap hari aku hanya bisa tidur lima jam karena harus menghafal data-data perusahaan sepanjang waktu. Aku akan dipukul jika tidak hafal setiap kali presentasi. Mereka sangat jahat dan kejam," adu Farhan putus asa. Air mata mulai berjatuhan membasahi kedua pipi. Ia mengelap dengan ibu jarinya sendiri.


"Jika kau menyerah, bagaimana dengan cita-citamu yang katanya ingin menjadi orang sukses? Apakah itu hanya bualan belaka? Ayolah, kesempatan sebagus ini tidak akan datang dua kali. Tuan Haris menyimpan harapan besar padamu. Meski pun beliau memiliki dua anak laki-laki, beliau lebih memilihmu, Tuan Muda. Yang artinya kau memiliki potensi besar untuk menjadi orang sukses melalui kemampuanmu sendiri. Buktikan pada semua mulut yang pernah menghinamu, bahwa Farhan Budiman akan sukses suatu hari nanti. Oke!"


Farhan menghela pelan, lalu menyeka sisa air mata yang terakhir kali menetes. "Baiklah, aku tidak jadi menyerah, tapi maukah kau berjanji suatu hal padaku? Jika aku berhasil sukses suatu hari nanti, bisakah kau tetap berada di sisiku seperti ini."


"Tentu saja, aku akan terus berada di belangmu, Tuan. Memangnya mau ke mana lagi?" Rico menarik kursi, ikut mengelap sisa air mata Farhan dengan tisu yang baru ia ambil.


Farhan merangkul pundak Rico seperti anak bocah. "Aku pegang janjimu, Kakak!"


"Hmmm. Tapi jangan panggil aku kakak, kita tidak diatur untuk menjalin hubungan sedekat itu. Kau adalah tuanku, calon boss dan orang yang harus aku hormati nantinya."


"Tidak mau, aku ingin kau menjadi kakakku. Aku akan memanggilmu kakak." Farhan muda kembali merajuk-rajuk.


"Kau harus jadi kuat, tegas, dan garang agar disegani orang. Memanggilku kakak akan memperlihatkan sisi lemahmu. Jangan panggil aku kakak, Tuan Muda. Aku menolak menjadi kakakmu. Kau adalah Tuan Farhanku yang berharga."


"Terserahmu, di hatiku kau adalah kakakku. Dan aku akan membuktikan padamu, bahwa aku akan menjadi pria yang disegani, sampai kau sendiri merasa segan padaku."


"Kutunggu saat-saat itu tiba."


Sejak itu, Farhan tumbuh semakin garang. Menjadi pria hebat yang selalu disegani oleh semua orang, termasuk Rico.


Keberhasilan Farhan menjadi suatu kebanggan untuk Rico sendiri. Rasanya senang melihat cita-cita pria itu terwujudkan. Tidak seperti Rico, yang tidak bisa mewujudkan cita-citanya karena sang ayah tidak setuju. Andai masuk dunia militer tidak harus membutuhkan persetujuan orang tua, mungkin Rico sudah mengenakan pakaian resmi kebanggaannya saat ini.


***


***


Intro masa lalu sedikit ya, biar kalian paham dan gak mikir macam-macam tentang Rico. Jangan lupa dukungannya.