HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Rumah Sakit



Pagi-pagi sekali, Rico memutuskan istirahat dan pergi ke rumah sakit setelah membersihkan aneka koleksi senjatanya di ruangan khusus miliknya. Sebuah rutinitas Rico setiap pagi, yaitu melihat-lihat koleksi senapan atau senjata api sampai hatinya tenang kembali. Bagi Rico, olahraga menembak adalah hidup dan matinya. Sesuatu yang sangat ia sukai dan tidak mungkin bisa berhenti sampai kapanpun juga.


Turun dari mobil mewah berlogo kuda jingkrak, pria itu berjalan tergesa-gesa melalui lorong rumah sakit yang belum terlalu ramai karena hari masih pagi.


"Saya sudah di rumah sakit, Pak!" Rico menelepon dokter spesialis k*lamin yang kemarin memeriksa keadaannya. Matanya memandang ke sekeliling, tampak para petugas berlalu lalang menghadapi kesibukannya masing-masing. Rico langsung menyingkir ke samping tatkala melihat tiga pria membawa brankar berisi mayat pasien. Ngeri, pria itu memeluk tubuhnya yang meremang saat melihat banyak darah di mayat itu.


Langsung saja ke ruangan Dokter Handoko di lantai tiga, saya menunggu. Dokter memberi petunjuk di balik sana. Rico langsung mematikan ponselnya selepas mendapatkan arahan dari sang dokter.


Saat hendak menuju lift, tak sengaja ia melihat kepala rumahnya sedang berdiri di ruang administrasi. "Pak Frans!" Rico menepuk bahu bapak paruh baya itu. Pak Frans menoleh ke belakang. "Siapa yang sakit?" sergah Rico cepat.


"Tuan besar, Tuan."


"Ah, si tua bangka itu bisa sakit juga. Kali ini penyakit apa yang ia derita? Herpes, kah?" Rico menyunggingkan senyum tipis yang nampak miris.


"A-anu ... Tuan besar mengalami gagal ginjal, Tuan."


Mata Rico seketika membola. Tubuhnya terasa limbung, ia kehilangan kata-katanya saat itu juga.


"Bagaimana bisa?"


"Lebih baik Anda melihat keadaanya. Beliau sedang tidak sadar saat ini," ujar pak Frans kepada Rico.


Sedikit pembahasan, Rico sudah puluhan tahun tidak berkomunikasi sama sekali dengan ayahnya. Pria itu sedikit memiliki masalah keluarga saat usianya masih muda dulu. Rico ingin sekali masuk ke dunia militer, namun Wicaksono selaku ayah Rico menolak karena Rico adalah penerus generasi Albraham satu-satunya. Wicaksono berharap Rico paham kalau hidupnya sudah mendapat garis takdir sejak kecil. Rico adalah anak yang tidak bisa memilih akan jadi apa ketika sudah besar nanti. Pria itu harus meneruskan bisnis properti dan parawitasa yang sudah berkembang turun temurun milik nenek moyangnya. Namun, Rico menjadi penerus pertama yang berani menolak semua kemewahan dan kekuasan yang ditawarkan keluarga Albraham. Pria itu memilih meninggalkan status anak Wicaksono jika cita-citanya tidak dipenuhi. Selain itu, ayahnya juga mengusir Rico andai kata tidak anaknya tidak mau menurut. Alhasil, Rico memilih pergi dan bergabung dengan Revical grup, yang notabene adalah musuh bebuyutan perusahaan ayahnya sendiri.


Pak Frans mengajak Rico memasuki ruang VIP di mana ayahnya sedang di rawat. Tangan Rico mengepal kuat, ia memandangi wajah sang ayah yang nampak tidur damai dan terkesan tidak berdaya.


Pria itu mendekat, rasa sesak menyeruak dada kala mendapati wajah kuyu sang ayah. Tidak ada sosok Wicaksono si ayah kejam. Ia nyaris seperti orang mati dengan wajah setengah pucat.


"Masih dalam proses pencarian, Tuan Muda. Kami sudah menghubungi banyak rumah sakit. Semoga saja cepat mendapatkan pendonor yang cocok." Pak Frans berujar dengan mata tertunduk, prihatin.


"Sejak kapan tua bangka itu seperti ini?"


"Sudah sekitar satu tahun lalu, tapi baru-baru ini penyakitnya semakin parah. Saya sudah meminta tuan besar untuk memberitahu keadaannya pada Anda, tapi beliau menolak, Tuan." Frans mundur satu langkah. Memberi jarah bilamana Rico mau berbicara dengan ayahnya.


"Ya, aku juga tidak peduli lagi dengannya. Semenjak ibu meninggal, aku bukan anak Wicaksono lagi," ucap Rico sambil melirik tubuh terkapar ayahnya. Berharap pria paruh baya itu bangun dan memaki kelancangan mulutnya.


Hati Rico semakin sakit berada di tempat ini. Ada rasa marah melihat ayahnya tidak bisa hidup dengan baik selepas mengusir Rico pergi beberapa tahun silam.


Pria itu kembali mendekati tubuh ayahnya yang masih dalam pengaruh obat bius. "Saya sudah membuktikan bahwa saya mampu hidup tanpa kemewahan keluarga Albraham, tapi kenapa Anda sendiri tidak dapat membuktikan padaku? Di mana Wicaksono angkuh yang selalu kejam pada anaknya sendiri?"


Bicara Rico semakin tercekat. Andai ayahnya bangun, ia ingin sekali memukul wajah ayahnya. Memaki pria itu atau menghajarnya sampai babak belur.


"Saya pergi, tolong jaga tua bangka itu. Setidaknya, dia harus tetap hidup dan menyaksikan anaknya yang berhasil hidup layak tanpa bantuan keluarga Albramah." Rico menepuk bahu pak Frans. Matanya memerah, antara marah dan ingin menangis.


"Tuan Muda," tahan pak Frans sambil memegangi tangan Rico. "Tuan besar sudah rentan dan sepuh. Tolong maafkan beliau, saatnya bagi Anda untuk pulang ke rumah."


"Rumah?" Rico berdecih sinis. "Sejak Ibu meninggal dan situa bangka itu menikah dengan nenek sihir, aku sudah tidak memiliki rumah lagi."


Rico menepis tangan pak Frans kasar. Pria itu melangkahkan kakinya lebar-lebar, ingin segera keluar dari ruangan ayahnya sekarang juga.


***


Hallo, jangan lupa bagi-bagi dukungan vote poin dan komennya kalau kalian suka novel ini. Terima kasih.